Tidak seperti biasanya, aku yang sejak masuk kampus dikenal sebagai orang aneh yang tidak pernah nongol di forum-forum pergerakan eksternal kampus, tadi malam harus berhadapan dengan para aktivis pergerakan kampus. Tadi malam aku diundang untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi dalam sarasehan salah satu lembaga pergerakan mahasiswa ekstra kampus, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UNS.

Acara tadi malam adalah sarasehan di mana KAMMI UNS ingin menjaring aspirasi dan meminta masukan dari kader-kadernya yang udah mengikuti Daurah Marhalah (DM) maupun orang-orang yang dipandang dapat memberikan masukan bagi perbaikan KAMMI ke depannya. Di antara pembicara yang diundang rupanya lagi-lagi aku yang paling aneh (entah gimana ceritanya, dari ketiga pembicara hanya aku yang memang pure tidak tercatat sebagai alumni DM KAMMI, dua temanku yang lain adalah aktivis alumni DM 1 KAMMI). Tapi tidak masalah, ini menandakan bahwa silaturahim dari pergerakan eskternal kampus ini semakin dibuka untuk umum yang ingin melihat KAMMI lebih baik.

Tema yang diangkat adalah tentang sinergi tiga lini pergerakan kampus, yaitu dakwah, politik, dan keilmuan. Kebetulan aku diminta berbagi tentang masalah KAMMI dan keilmuan. Karena sebenarnya blank kalau harus bicara operasional KAMMI dan keilmuan (wong bukan kader KAMMI), tapi setidaknya dari perjalanan panjangku di kampus banyak refleksi dan masukan yang dapat kusampaikan untuk perbaikan pergerakan ini. Aku kebetulan dapat giliran berbicara yang kedua setelah salah satu temanku yang juga presiden BEM di salah satu fakultas memberikan pandangannya.

Beberapa poin yang ku share sebagai hasil refleksiku selama ini antara lain:

  1. Sebaiknya paradigma tentang kader dakwah kampus itu integral. Istilah pembagian ada kader daawy, siyasi, dan ilmi itu hendaknya tidak menimbulkan dikotomi bahwa si A karena aktif di LDK lantas tiap hari kerjaanya di LDK melulu dan cuek pada aktivitas teman-teman di BEM maupun enggan menorehkan karya keilmuannya, begitupun untuk kader yang di BEM dan keilmuan memandang sisi yang lain. Yang namanya kader dakwah kampus itu ya utuh, mudeng semuanya, siap berkiprah dengan gagasan dan kontribusinya.
  2. Jika paradigma pertama berhasil dibangun, maka seharusnya ke depan ketika terjadi persaingan dengan teman-teman di pergerakan lain, sifatnya fastabiqul khairat. Menguasai lembaga kampus itu tidak identik untuk menguasai secara politik saja, tapi harusnya lebih menekankan pada setelah berhasil menguasai apa yang bisa dilakukan untuk kemaslahatan kampus. Jadi menguasai lembaga itu penting, sebagai bentuk legitimasi bahwa KAMMI bisa menunjukkan kekuatannya. Tetapi memastikan bahwa kader-kader yang beramanah itu mampu memberikan LAYANAN PUBLIK yang memuaskan karena gagasan dan tindakannya nyatanya yang cemerlang jauh lebih penting dari sekedar kekuasaannya.
  3. Pentingnya belajar kembali pada sejarah Indonesia dan pergerakan mahasiswa untuk menguatkan bangunan ideologi dan kemapanan berpikir. Di sinilah letak keilmuan itu bermain. Keilmuan di sini sebenarnya tidak dipahami dalam arti praktis, artinya mahasiswa jurusan A jadi ahli di bidang A, tapi lebih menekankan bagaimana pemikiran para aktivis itu matang untuk memandang Indonesia ke depan lebih baik. Maka aktivis itu harus rajin membaca, berdiskusi, menulis, bahkan sesekali penting untuk berdebat di depan publik berkaitan dengan masalah-masalah yang aktual.

Dan dari semua itu, yang paling penting adalah langkah nyata untuk merealisasikannya. Ketidakseriusan dan kesetengahatian dalam bergerak, kecurigaan dan pemikiran negatif yang mendominasi, serta kejumudan berpikir dan mendengarkan aspirasi orang lain harus dibuang jauh-jauh dari para aktivis kampus agar kehadirannya semakin bermanfaat dan dinantikan banyak orang.

Setiap orang memiliki ruang kontribusi masing-masing, ada yang sudah mampu bermanfaat secara luas, ada yang masih dalam sekup komunitas atau organisasi saja. Yang penting adalah kiprah dan warisannya nyata ada, bukan sekedar datang dan pergi tanpa ada jejak yang berarti.

Muslim Negarawan? Itu kata yang maknanya berat, tapi seringkali dengan mudah dilekatkan di seragam dan jaket. Semoga yang sering memakai itu merasakan bagaimana beratnya para pejuang dan negarawan kita dahulu bekerja keras untuk kemerdekaan dan memperjuangkan hak-hak kaum muslimin di Indonesia.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.