Seperti yang dijanjikan, Prof. Tausch akan mengajak istrinya untuk menemui kami pada tanggal 25 Desember 2012 sebelum mereka bertolak ke Minden untuk mengunjungi mertua (orang tua istrinya). Setelah malamnya kecapekan karena bepergian ke Paris, jam 8 kami telah bersiap-siap kalau-kalau beliau datang kepada kami lebih awal. Seperti yang beliau katakan, jam 9 tepat pintu apartemenku diketuk dan ternyata benar beliau dan istri datang menemui kami.

Di pertemuan yang singkat kurang dari 10 menit itu, kami berbincang dengan ceria. Prof. Tausch memberikan kenang-kenangan untuk kami berupa gelas cantik berisi coklat. Beliau mengabarkan bahwa pagi ini beliau benar-benar menjadi grandfather alias mbah kakung karena istrinya Sbastian, putranya yang kedua mengandung untuk anak pertamanya. Kami ikut senang dan semoga beliau berbahagia dengan kabar itu di hari yang paling membahagiakan baginya.

Tanpa menunggu waktu lagi beliau berpamitan kepada kami. Kami melihat wajah beliau yang berat melepas kami dan mengucapkan selamat tinggal karena pada tanggal 30 Desember 2012 nanti beliau tidak bisa mengantar kami di bandara. Begitu pun kami, inilah hari yang mungkin akhir dari pertemuan kami dan belum tentu di kesempatan yang lain nanti dipertemukan lagi. Profesor kami, sekaligus kakek kami yang sangat perhatian terhadap cucu-cucu angkatnya ini.

Dari balik jendela kami melihat pasangan mesra orang tua ini berjalan cepat untuk segera ke Minden merayakan Natal di sana. Di sini pula aku mengingat bagaimana beberapa hari lalu, beliau menunjukkan foto-foto beliau ketika muda. Tampan sekali. Begitu pula istrinya ketika itu, cantik sekali. Oh, inilah potret orang-orang tua di masa itu yang masih komitmen dengan pernikahannya. Terharu …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.