Hari ini adalah jadwal ngampus lagi. Hemm, asyiknya adalah tidak seperti pekan kemarin yang mulainya jam 8 pagi, alias sebelum matahari terbit. Namun demikian, tetap saja dingin karena hari ini hujan salju seharian sampai-sampai ketika pulang bus Campus Freudenberg sudah tidak berani lagi naik ke puncak bukit Wuppertal, tempat wohnung kami karena jalanan licin, dan seperti biasa kami harus jalan kaki hampir 1 km di tengah dinginnya petang. Saking licinnya, mobil-mobil yang menuruni jalan dari puncak bukit Wuppertal sangat pelan sekali, karena mengerem hingga rodanya berhenti saja, ternyata tetap saja selip dan melorot. Trus mobil yang mau berbelok harus selip lama dan mengerang-ngerang untuk melepaskan diri dari jebakan salju. Begitulah ujian untuk orang-orang yang dikawasan puncak, termasuk kami.

Meski Roaming, Tetap Semangat

Tadi selama di kampus, kami belajar dari pukul 10 sampai pukul 5 sore. Agendanya adalah praktikum. Pertama kami bergabung dalam praktikumnya mahasiswa tentang fotokimia. Ada 4 tema yang dipraktikumkan, sehingga dari 20-an mahasiswa dibagi menjadi 4 grup yang masing-masing melakukan praktikum yang berbeda. Kelompok pertama tentang fluorsense dan fosforsense, kelompok kedua tentang pembuatan ozon, kelompok ketiga tentang efek radiasi UV terhadap tumbuhan (riset keberadaan beta karotin), kelompok keempat adalah tentang intellegence foil. Hemm, awalnya aku agak roaming, karena seperti biasa, Jerman only, dan mahasiswa Jerman itu ya kayak kita, ga bisa bahasa Inggris kebanyakan, jadi ditanya pakai bahasa Inggris ya roaming, apalagi kalo satu grup itu ga ada yang fasih bahasa Inggris. Cuma bedanya mereka kuliahnya itu memang fokus pada bidangnya, kalau kita (hemmm, dijawab sendiri aja lah). Kalau mau sering tanya Dr. Amithab, wah ga tahu diri banget, udah boleh ikut di praktikum, eh masih bikin ribut lagi.

Sambil roaming ria, kami segera bergabung dan keliling ke sana kemari. Tanya ini itu, mungkin kami juga membingungkan pertanyaannya dan mereka menjawab kami dengan sebisanya sehingga kami malah tambah bingung. Untung ada Vera di sana. Dia termasuk mahasiswa yang oke bahasa Inggrisnya sehingga dialah penghubung kami dalam praktikum ini disamping Dr. Amithab yang sesekali juga bisa kami tanyai. Untuk yang praktikum fluorsense dan fosforsense, intinya aku cuma paham bagaimana proses membuat bahannya sama analisis gugus fungsinya, selain itu roaming. Untuk praktikum ozon, aku cuma ngerti teorinya waktu grup tersebut presentasi, soalnya selama mereka praktikum di ruangan khusus, kami ga boleh ikut di dalamnya karena terlalu sempit. Untuk praktikum efek radiasi UV terhadap tumbuhan, intinya yang aku tahu adalah daun yang disoroti oleh UV secara intens kandungan beta karotinnya berkurang (berdasarkan uji kromatografi). Untuk praktikum intellegence foil intinya dimulai dari cairan yang bisa berubah warna sesuai dengan warna yang disinari dan kembali ke awal dengan sendirinya hingga akhirnya dicetak menjadi sebuah lapisan tipis yang fleksibel. Begitulah kira-kira yang bisa kutangkap dari aktivitas para mahasiswa semester 5 yang akan menjadi calon guru-guru di sekolah Wuppertal. Dengan dukungan fasilitas laboratorium yang lengkap serta keseriusan belajar yang tinggi mereka betah menjalani kuliah praktikum ini dari jam 10 sampai jam setengah 3 dengan jeda makan siang saja. Luar biasa kan.

Kuliah dibagi menjadi 2 sesi, pertama praktikum dari jam 10 sampai jam 12.30 dilanjutkan presentasi kelompok dari jam 13.00 s.d jam 14.30. Para peserta sangat antusias (kecuali aku yang berkali-kali menguap, karena hawa dingin, dengan ruangan yang agak kurang hangat sehingga rasanya pengin tidur saja). Ada hal yang kukagumi dari orang-orang Jerman kalau belajar, mereka super detail dan lengkap. Seandainya aku mudeng bahasa Jerman tentu lebih banyak lagi ilmu yang kudapat. Sebenarnya praktikumnya sangat sederhana, namun karena peralatannya canggih dan bahannya ga ada di Indonesia, sehingga praktikum ini sesuatu banget, bahkan bagiku eksklusif banget. Di sini bahan-bahan kimia dan alat-alat berlimpah jumlahnya. Selain itu mahasiswanya ga ceroboh, sehingga pipet-pipet di sini tetap lancip ujungnya, tidak seperti di laboratorium gedung D atau pusat yang pipetnya selalu puntung ujungnya.

Beruntung Rasanya

Di saat jeda setelah makan siang (kebetulan aku cuma langsung ke mushola dan shalat dzuhur kemudian balik) ternyata Prof. Tausch mengajak salah satu teman Profesor di Wuppertal ini juga, namanya Prof. Dr. Ullrich Scherf yang katanya ahli polimer dunia yang banyak berkecimpung dalam dunia rekayasa kimia organik. Wah keren banget dah. Dan yang ga penting banget, karena aku masuk kelasnya agak terlambat aku justru bisa minta maaf sambil salaman ke beliau. Oh, Prof. Scherf, meski hanya sempat mendengar sedikit nasihatmu, tetapi sudah sesuatu banget rasanya bisa mengenalmu.

Usai kuliah resmi dengan para mahasiswa, ternyata Prof. Tausch menyiapkan kuliah khusus untuk kami tentang eksperimen OLED bersama Melanie, partner risetnya Dr. Amithab. Di lab mereka, aku melihat ada inspirasi baru yang mengagumkan. Yaitu membuat LED dan sel surya dengan bahan-bahan organik. Karena cuma 2 jam saja alokasinya, Melanie mengajari kami membuat OLED (Organic Light Emitting Diode). Bahannya simpel, kaca dengan lapisan ITO (Iodin Titanium Oxide) di salah satu sisinya yang nantinya akan menjadi anoda, kemudian dilapisi polimer organik hasil risetnya Prof. Scherf yang dinamai Super Yellow, kemudian untuk bagian katodanya dipasang lempeng tembaga yang ditempeli campuran Galinstan (Galium – Indium – Stannum). Untuk lebih mudahnya buka http://www.chemiedidaktik.uni-wuppertal.de/ di bagian fotokimia (photochemistry). OLED hasil buatan kami akhirnya berhasil menyala dengan baik. Senangnya, seandainya di kampus ada laboratorium seperti ini.

Sempat menengok juga Dr. Amithab ke lab kami dan mengucapkan say hello kepada Melanie yang kesepian karena sering riset sendirian berhari-hari. Dan sebelum praktikum diakhiri, kami diberi kesempatan juga untuk menguji sel surya organik buatan Melanie. Wow, keren banget hasilnya ternyata bisa menghasilkan tegangan yang cukup besar.

Akhirnya praktikum hari ini selesai jam 5 sore dengan seperti biasa kami berfoto bersama dengan Melanie. Kemudian kami berbelanja sebelum pulang ke Penny market untuk membeli beras, lauk, dan aku memborong susu + jus (karena musim dingin). Empat kotak susu sapi + 2 botol besar jus hanya kurang dari 5 euro itu bisa untuk 5 hari ke depan. Dan terakhir, kami harus berjalan ke apartemen karena Bus Campus Freudenberg tidak berani melanjutkan ke jalur akhir yang seharusnya ditempuh. Hemm, malam yang dingin namun penuh inspirasi.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.