Tidak seperti biasanya, hari ini kuliahku benar-benar roaming. Sesuai jadwal ada tiga kuliah yang harus kuikuti hari ini dari jam 10.00 s.d jam 16.00. Kuliah dua jam pertama adalah Didaktik und Metodik I bersama Dr. Amithab Barneji, kemudian dua jam berikutnya adalah Atmosphere dan Biosphere bersama Prof. Dr. Wildt, dan dua jam terakhir adalah Experiment Fluoresence, Phosphorsence, and Chemieluminoscence bersama Nico dan Inggrid. Dari ketiga kuliah tersebut, hanya eksperimen saja yang bisa kuikuti dan kumengerti. Mengapa? Simak tayangan berikut.

Untuk kuliah pertama aku tidak mudeng sama sekali karena Dr. Amithab menerapkan perkuliahan dengan bahasa Jerman secara penuh dan dia memberikan perhatian kepada kelas secara intensif. Sehingga setiap presentasi yang dilakukan mahasiswa di depan kelas tidak bisa kami mengerti. Yang kami tangkap dari layar yang tampil dan mengira-ira topik yang dikaji adalah bagaimana seorang guru itu harus melakukan tiga hal setiap kali mengajar : eksplorasi, praktik nyata/ aplikasi, dan kajian mendalam. Tiga hal ini penting untuk dikuasai dan diterapkan guru dalam setiap pembelajaran karena siswa itu butuh pemahaman yang dekat dengan dirinya, ada buktinya, namun juga harus mengerti konsepnya.

Untuk perkuliahan kedua, sebenarnya kuliahnya disampaikan dalam bahasa Inggris, karena ini kelas internasional yang hari ini diisi oleh seorang Profesor di bidang Kimia Fisika. Penjelasannya adalah tentang Biosfer dan Atmosfer. Sayangnya karena aku tidak menyiapkan dulu dasar materi, ketika beliau menjelaskan tentang faktor-faktor analisis tumbuhan dan tentang perhitungan polusi di atmosfer, aku cuma bisa bengong melihat rangkaian rumus-rumus yang beliau uraikan panjang lebar di papan tulis. Persis seperti kuliah Fisika Kuantum ku dulu. Ha ha, roaming berat dan ga jelas.

Sempat tertidur waktu kuliah pertama, untung segera meraih The Apple Way yang sudah kusiapkan untuk menemaniku di Jerman ini. Jadi kantukku bisa terobati, dan keroaminganku menjadi tidak begitu masalah. Yang agak berat itu waktu kuliahnya Prof. Wildt, mau sambil baca buku yang ikut kuliah cuma 10 orang, jelas kelihatan kalau nyambi yang lain. Ah, sambil menahan kantuk dan kedinginan, karena heizung nya dimatikan aku tetap berusaha menulis rumus-rumus yang tidak begitu ku pahami. Hingga ketika perkuliahan selesai aku seperti ingin melompat karena gembiranya. Aha, ternyata penyakit Indonesiaku kambuh.

Sebelum waktu kuliah berikutnya masuk, kami segera berlari ke mushola untuk menjamak Dzuhur dan Ashar. Eh, di sana ada gadis Turki yang kuceritain kemarin di status FB. Yuhu, Reihan cantik ternyata juga shalat di sana. Jadilah kami ngobrol agak panjang dan membuat janji untuk makan malam bareng dengan komunitas muslim Turki di sebuah restoran muslim Wuppertal hari Jumat mendatang. Jangan salah sangka dulu, wajar dong aku bilang dia cantik. Soalnya aku laki-laki tulen, dan baru kali ini ketemu gadis muslim yang super cantik. Bukan apa-apa, tetapi sesuatu banget. (Efek tiap hari melihat gadis-gadis Jerman yang super cantik).

Sesampai di laboratorium, ternyata Ingrid dan Nico telah siap sedia. Eh, ternyata kami telat 5 menit dari jadwal. Ya ilah, telat lagi. Indonesianya keluar gara-gara ngobrol lama dengan Reihan cantik. Dan kami segera mengenakan baju praktikum dan kaca mata praktikum. Segeralah kami diajak oleh Nico dan Ingrid di sebuah ruangan gelap. Tiba-tiba kami diberi benda-benda yang berpendar ketika terkena cahaya lampu UV yang dihidupkan. Wow, keren sekali. Ini adalah efek fluoresensi dan fosforsensi yang sering dikaji secara teoritis di sekolah dan kuliahku di Indonesia. Hari ini aku melihat sesuatu yang mengagumkan.

Tentang materi detail lihat http://www.chemiedidaktik.uni-wuppertal.de/ pada bagian Photochemistry untuk materi yang telah kuuraikan tadi. Intinya kami kemudian membuat bahan dari campuran boron dan fluorsen, yang satunya campuran boron dengan sebuah asam amino. Kemudian dipanaskan dengan cara diputar-putar agar hasilnya melekat di dinding tabung reaksi. Kemudian kami mengujinya di depan lampu UV apakah mengalami fosforsensi apa tidak. Kemudian kami juga menguji efek fosforsensi dari bahan yang kami buat berdasarkan suhunya, jadi ada yang kami benamkan di es, ada yang kami panaskan dan semua kami bandingkan. Kesimpulannya, yang bersuhu rendah mengalami efek fosforsense lebih lama dari pada yang bersuhu lebih tinggi.

Kemudian Nico dan Ingrid juga memberikan kejutan kepada kami tentang efek Chemieluminoscence. Dengan mencampurkan tiga bahan yaitu pelet KOH, DMSO, dan lumino solid kemudian di kocok-kocok terus dalam labu erlenmeyer akhirnya bisa bercahaya dengan sendirinya. Sangat terang. Wow, keren sekali. Tetapi cahaya itu akan menghilang jika bertemu dengan oksigen dalam jumlah besar. Jadi kemudan labu segera disumbat dengan karet agar tidak terjadi reaksi dengan oksigen.

Apa pun peristiwa hari ini, aku menikmatinya. Usai kuliah kami belanja dulu sesuatu ke kota Wuppertal dan kembali ke wohnung. Alhamdulillah, ternyata masih ada bus E-Campus Freudenberg. Karena suasanya siang menuju sore sudah tidak hujan salju, maka jalanan tidak licin lagi meski salju di kiri kanan menumpuk hingga seperti pematang sawah. Kalau di Indonesia sudah diangkuti para penjual es serut (ha ha ha). Bus melaju hingga halte terdekat dengan apartemen kami. Alhamdulillah, kuliah roaming, tetapi hati ga roaming, tetap semangat untuk mengambil ibrah dari setiap hari yang dijalani. Wuppertal, aku makin cinta pada daerah ini yang selalu putih saljunya dan indah kotanya dari puncak bukit kecil ini ketika matahari bersinar.

Tentang roaming, segera terlupa dengan nikmatnya makan malam bersama keluarga kecilku di sini dan ingatan wajah Reihan yang cantik. Ha ha ha. # Alarm berbunyi lagi. Maaf tante, masih normal kok. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak hikmah untuk hidupku hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.