Kategori
Pendidikan

Dari Tulang Hingga Bodi Pesawat Terbang

Pernahkah Anda melihat tulang manusia? Tentu saja menakutkan. Tetapi tahukah Anda bahwa ada hal luar biasa yang tersimpan di dalam tulang manusia. Sebagai bagian dari sistem rangka pada manusia, ternyata tulang-tulang penyusun tubuh manusia memiliki keistimewaan yang hari ini telah menginspirasi para ahli komposit untuk membuat berbagai kerangka dan body yang ringan namun lentur dan kuat.

Hal istimewa dari tulang adalah kemampuannya dalam menopang tubuh kita. Berat tulang dalam tubuh kita tidak melebihi 50 % berat badan kita, tetapi mampu menyangga tubuh kita yang berpuluh-puluh kilo beratnya, dan kita merasa ringan saat bergerak dan beraktivitas.

Ternyata tulang kita adalah sebuah nanokomposit alami yang bentuknya berlapis-lapis. Bahan pembentuknya adalah tablet keramik dan ikatan-ikatan organik. Mereka tersusun menjadi beberapa bentuk nanokomposit yang berbeda sehingga memiliki fungsi yang berbeda-beda dan bergabung menjadi sebuah tulang yang kokoh.

Nanokomposit adalah sebuah struktur yang kokoh, namun tidak kaku dan getas. Hal itu terjadi karena ikatan antar partikel yang berukuran nanometer tersebut memiliki luas permukaan interaksi yang tinggi. Ketika partikel yang berinteraksi banyak, maka berarti ada ikatan yang sangat kuat dari penyusun tulang-tulang kita. Begitulah gambaran bagaimana tulang-tulang kita yang besar ini tersusun atas partikel-partikel berukuran nanometer namun saling berikatan erat dan membuatnya menjadi keras dan kuat namun lentur, ringan, dan tidak getas.

Dari tulang tersebut, lahirlah inspirasi di kalangan ahli material untuk membentuk sebuah komposit buatan yang memiliki keunggulan seperti tulang, yakni keras dan kuat, namun ringan dan tidak getas karena memiliki kelenturan. Jika tulang disusun atas partikel-partikel organik berukuran nanometer, maka komposit buatan manusia ini adalah hasil penggabungan partikel anorganik yang dengan komposisi tertentu melalui serangkaian penelitian sehingga diperoleh komposit yang diinginkan.

Berbagai komposit yang telah ditemukan tersebut kini telah digunakan pada industri pesawat terbang, otomotif, perkapalan, bahkan untuk konstruksi jembatan dan bangunan pencakar langit. Bahkan saat ini kaki-kaki palsu untuk para penyandang cacat atau korban kecelakaan juga dibuat dari bahan komposit tersebut. Ternyata tulang kita mampu menjadi inspirasi untuk terwujudkan sebuah bodi pesawat terbang. Segala puji bagi Allah atas hikmah yang besar ini.

Sumber : Nano di Alam (MNI)

Majalah Aitam Edisi 04 2013

Kategori
Catatan Perjalanan

Nano Team Story : Pengalaman Pertamaku ke Jakarta #4

Rabu, 23 Juni 2010

Pagi-pagi sekali kami terbangun dan mendapatkan sms di ponsel “Tolong jam 6.00 sudah standby di stasiun Serpong. Kita akan menuju BPPT Jakarta.” Segera setelah shalat subuh kami mandi bergantian dan mempersiapkan segala perlengkapan karena akan sekaligus pulang. Tas dan kopor kami bawa dari penginapan menuju stasiun serpong. Kami berpacu dengan waktu, hingga akhirnya tertinggal kereta pertama. Beruntung kami bertemu dengan Dr. Agus dan rombongan sehingga kami merasa tenteram. Dengan mengendarai Sudirman Express, kami dan rombongan ilmuwan ini melesat menuju stasiun Sudirman.

Setiba di sana, kami berjalan cepat mencari angkutan bus kota. Ternyata para ilmuwan juga lebih menyukai bus kota dari pada taksi.  Hingga akhirnya kami sampai di sebuah gedung yang megah dan menjulang tinggi. Itulah kantor BPPT (Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi), tempatnya Menristek berada.

Segera kami menuju lantai 3 tempat acara seminar. Meskipun acara jam 9, ternyata peserta sudah banyak yang datang. Tema seminar hari itu adalah “Kitosan: Biomaterial Masa Depan, Aplikasi Nanopartikel Kitosan Untuk Daya Saing Industri”. Peserta yang hadir sekitar 50 orang, seuai dengan kuota yang terdiri atas jajaran pemerintah dari balai penelitian dan birokrat, kemudian dari industri dan para ilmuwan. Kami cukup kewalahan dalam menjalani kepanitiaan. Namun yang jelas, kami dapat pengalaman baru menjadi panitia dalam seminar yang berkelas ini.

Acara seminar berlangsung dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema “Kitosan: Biomaterial Masa Depan”. Sesi kedua setelah dzuhur mengangkat tema “Aplikasi Nanopartikel untuk Daya Saing Industri”. Seminarnya cukup seru meskipun kami sendiri terkadang kurang mengerti dengan bahasan-bahasan yang disampaikan oleh pada panelis, namun ini menjadi tantangan bagi kami para mahasiswa untuk lebih giat mendalami.

Tidak terasa, waktu telah sore ketika seminar usai. Buru-buru kami melaksanakan shalat ashar. Setalah evaluasi dan berfoto-foto ria kami berpisah dengan panitia dari MNI pusat dan teman-teman mahasiswa dari UIN Syahid. Akhir yang cukup mengharukan. Namun kami harus pulang, karena esok sederetan ujian akhir menanti.

Setelah mohon diri, kami segera melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Senen. Kali ini kami mencoba naik taksi. Satu taksi untuk lima orang, dapat dibayangkan betapa padatnya. Tapi tidak masalah karena ternyata sopirnya adalah orang Karang Anyar. Ternyata ketemu tetangga sendiri gitu. Setelah melewati Monas, dalam waktu yang cukup singkat kami sudah sampai di stasiun bersamaan dengan waktu maghrib. Nasihat pak Sopir: “Hati-hati dengan barang dan uang Anda”.

Setelah membeli tiket dengan penuh kewaspadaan. Kami segera mencari mushola untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai makhluk Allah. Sembari menunggu kedatangan kereta Senja Utama, kami berdiskusi tentang hasil dari training yang super padat kemarin. Hasilnya banyak ide yang tentu “menunggu” untuk direalisasikan dan membutuhkan bantuan dari para pembaca tulisan ini.

Akhirnya, kereta yang ditunggu-tunggu datang juga. Perjalanan pulang pun dimulai. Kereta bisnis yang nyaman ternyata tidak mampu membuat kami tidur pulas, karena pedagang masih berkeliaran menawarkan barang dagangannya dan demo suara keras mereka. Meskipun kami tidak membeli namun selalu mendapat bonus gratis dari suara-suara mereka yang selalu membangunkan kami.

Kamis, 24 Juni 2010

Pagi itu, kereta perlahan-lahan melesat melewati stasiun Tugu, Lempuyangan, Klaten, Delanggu dan akhirnya sampailah di stasiun yang paling kompetitif di Solo yaitu Stasiun Balapan. Di samping kompetitif stasiun ini tidak sengaja terkenal lewat lagunya Didi Kempot. Singkat cerita, kami pulang dengan selamat sampai ke kos masing-masing dan kelima anggota delegasi ini siap untuk menebarkan virus Nanoteknologi bagi UNS dan sekitarnya.

selesai

reposted from http://simuns.blog.uns.ac.id/catatan-perjalanan-tim-nano-club-uns-2010.php/

Kategori
Catatan Perjalanan

Nano Team Story : Pengalaman Pertamaku ke Jakarta #3

Selasa, 22 Juni 2010

Suara adzan membangunkan kami dan segera saja kami melaksanakan shalat subuh. Setelah matahari mulai akan terbit, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan menyusuri kawasan Puri Seprong I. Udaranya sangat sejuk dan nyaman serasa di kawasan puncak (masa iya).

Kami harus membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang fasih agar komunikasi kami dengan orang-orang menjadi lebih baik. Kebiasaan berbicara dengan logat Jawa terkadang membuat teman-teman terpingkal-pingkal. Padahal sebenarnya orang-orang yang jadi ilmuwan di sini kebanyakan juga orang Jawa.

Pagi-pagi kami sudah berkumpul di rumah makan itu untuk membahas proposal yang akan kami ajukan kepadaMNI. Sambil menikmati sarapan soto yang ternyata rasanya agak berbeda dari kebanyakan soto di Solo, kami terus berbincang sampai akhirnya Pak Nur memanggil lewat ponsel salah satu pengelola warung makan. Dengan mobil yang mirip terano kami segera meluncur ke tempat pelatihan kemarin.

Setelah sampai Pak Nur segera mengajak kami ekskursi Lab. Dengan modal pinjaman sepeda motor dari para anggota tim MNI, kami berkeliling PUSPITEK. Pertama kali tempat yang dituju adalah Lab Fuel Cell, di sana ada mas Anis dan mas Kurniawan yang menyambut kami. Dengan sabar dan detail, mas Anis menjelaskan apa itu Fuel Cell, mulai dari pembuatan sampai dengan pemanfaatannya. Mas Kurniawan yang terkenal pendiam dan cool abis sesekali menimpali dan memberikan penjelasan tambahan. Suatu pasangan yang serasi, yang satu cukup detail dalam berbicara, yang satunya pendiam tapi full action. Yang jelas dari sini kami tahu bahwa masa depan Indonesia masih panjang karena bahan baku Fuel Cell masih berlimpah meskipun kelak tanpa batu bara. Tapi permasalahannya siapa yang akan mengambil peran ini??????

Dari Lab Fuel Cell, kami melanjutkan perjalanan ke Lab Fisika dan Nano teknologi di Puslit Fisika. Kebetulan bersamaan dengan saat makan siang dan shalat dzuhur. Di sana ada Dr. Agus Sukarto yang siap menjelaskan kepada kami konsep nano teknologi dan pemanfaatan material SDA di Indonesia. Setelah istirahat dan makan siang beliau memulai kuliahnya. Jadilah kami orang-orang yang mendapat kuliah eksklusif tentang nano teknologi. Gaya beliau yang khas ternyata mampu membuka mata kami bahwa bangsa kita sampai sekarang belum bisa membuat “gotri” atau bantalan peluru dari ukuran sangat kecil sampai yang sangat besar. Tapi kita punya SDA yang sekiranya kita dapat membuat “gotri-gotri” kecil dalam ukuran nano tentu kita akan menjadi raja bahan baku di dunia. Bandingkan jika kita menjual arang satu karung dengan harga yang jauh dari perikemanusian “Rp 10.000,-” dengan satu kilogram Carbon nano tube yang satu kilonya mampu dapat berharga jutaan rupiah. Tapi pertanyaannya sama dengan sebelumnya, siapa yang mau mengambil peran ini???? Yang jelas, beliau mempertanyakan kemandirian bangsa kita.

Usai mendengarkan penjelasan dari Pak Agus, beliau mengajak kami melihat-lihat mesin pemroduksi partikel nanobuatan mereka juga beberapa riset yang dilakukan oleh puslit Fisika. Kami juga sempat melihat berbagai penemuan maupun proyek-proyek yang tengah dikerjakan. Nasihat penting beliau, “Seorang ilmuwan tentu harus membuat paper, namun bukan berarti setelah membuat paper urussan selesai. Karena ada yang lebih penting untuk dilakukan setelahd itu yaitu menghadirkan bukti dan kontribusi dalam pengembangan IPTEK”. Sebagaiamana yang Pak Nurul dan beliu lakukan, para ilmuwan seharusnya mampu menciptakan kemanfaatan bagi umat manusia.

Di akhir kunjungan kami, Dr. Nurul baru saja pulang dari kegiatan di Jakarta. Doktor dari Jepang ini ternyata tercatat dalam 40 ilmuwan yang berjasa bagi Indonesia yang pernah dipublikasikan dalam harian Media Indonesia. Beliau memberi penguatan kepada kami sehingga menjadikan kami makin terbuka untuk melihat masa depan Indonesia ini.

Setelah dirasa cukup kami kembali ke tempat Training. Setelah shalat ashar, acara presentasi tugas kemarin dimulai. Tiga kelompok yang ada mempresentasikan pemikirannya masing-masing dengan penilai Dr. Agus dan salah satu mahasiswa magang yang hari itu mendapat kabar gembira karena diterima kuliah di Korea. Akhirnya diputuskan pemenangnya adalah kelompok 2 yang terdiri dari Mas Hasan, Mbak Aptika, Adi dan Hidayat. Pak Nurulmenyerahkan hadiah berupa tas Nanoteknologi kepada masing-masing anggota kelompok yang menang.

Sebelum diakhiri, pak Nurul menyampaikan beberapa materi yang cukup menarik. Beliau memberi nasihat, “Kita punya banyak sumber daya alam. Di era modern ini, kesempatan kita untuk menyusul negara-negara maju adalah dengan proyeksi Nanoteknologi. Mereka boleh jualan laptop dan berbagai piranti elektronik, tapi berapa sih keuntungannya? Paling hanya dalam jutaan. Tapi kita punya bahan baku yang jika diolah menjadi nano partikel, harganya bisa jutaan per kilogram dari pada diekspor mentah dengan harga yang sangat rendah. Mari kita menahan diri untuk mengekspor bahan mentah, mari kita olah menjadi nanopartikel, baru kita jual ke luar negeri.” Luar biasa nasihat beliau ini. Marilah kita memanusiakan diri kita setelah sekian lama hanya menjadi pengguna dan korban kemajuan teknologi. Ternyata kita punya senjata pamungkas untuk menyusul negara-negara maju.

Setelah itu, ada briefing persiapan panitia Seminar Nasional Nano teknologi pada hari Rabu esok hari. Semua peserta training menjadi panitia. Waktu ternyata sudah malam. Setelah shalat maghrib, kami menuju kembali ke penginapan dan mengerjakan beberapa tugas kuliah yang sempat tertampung dan belum terselesaikan. Dengan menghabiskan malam di tempat yang unik, kami tidak sadar tertidur.

bersambung ….

reposted from http://simuns.blog.uns.ac.id/catatan-perjalanan-tim-nano-club-uns-2010.php/

Kategori
Catatan Perjalanan

Nano Team Story : Pengalaman Pertamaku ke Jakarta #2

Senin, 21 Juni 2010

Namun demikian, ujian berikutnya datang lagi. Keterlambatan bus memasuki kota Jakarta adalah alamat keterlambatan sampai di Tangerang. Purwa Widodo baru memasuki Jakarta pada hari Senin jam 6.00 lebih sedikit. Kemacetan pun mulai terjadi. Berjam-jam bus ini melaju seperti semut menyisir kota Jakarta menuju Tangerang Selatan. Bus bergerak melewati kantor-kantor pemerintah bahkan melewati juga Gedung DPR-MPR RI, gedung yang jadi rebutan pada politisi Indonesia.

Dengan menahan lelah dan lapar, sampailah delegasi ini di gerbang depan PUSPITEK, Serpong, Tangerang Selatan pukul 10.30 atau lima jam keterlambatan dari asumsi semula. Dan karuan saja, kepanikan mulai menyelimuti para anggota delegasi karena bagaimana mandi, sarapan dan berdandannya, padahal acara sudah dimulai jam 10.00 WIB. Setelah berfoto-foto sambil bercanda dengan scurity datanglah mobil jemputan dari MNI(Masyarakat Nano Indonesia). Dengan mengendarai Jeep, sampailah delegasi ini di sekretarian MNI pusat yang berada di kawasan PUSPITEK (yang mirip Kebun Raya Bogor).

Sambutan hangat diberikan oleh para anggota tim MNI pusat, terutama Mas Nur Hendrasto yang akrab disapa Pak Nur (jadi tua ya, padahal masih muda). Dan ternyata, kami adalah delegasi yang pertama hadir dalam undangan ini. Pak Nur mengatakan bahwa kami memang terlambat, tetapi delegasi yang lainnya tentunya lebih terlambat lagi. Setelah mandi dan beristirahat cukup, Pak Nur memulai perkenalan terhadap kami. Di sela-sela perkenalan ini, datanglah delegasi dari UIN Syahid (Syarif Hidayatullah) Jakarta. Mereka berenam yakni Hidayat, Ardiyansyah, Absori, Qolby, Ana dan Destry. Berikutnya menyusul delegasi dari UI ada sorang saja, Agus namanya. Perkenalan diakhiri dengan shalat dzuhur dan makan siang.

Acara training dimulai. Pertama, Pak Nur memperkenalkan profil Masyarakat Nano Indonesia. Beliau membuka wawasan kami tentang nano teknologi. Hampir satu jam, beliau bercerita tentang sejarah MNI dan orang-orang yang berperan di dalamnya. Materi selanjutnya disampaikan oleh Pak Wahyu dari Pusat Penelitian FisikaPUSPITEK. Beliau menyampaikan tentang hasil-hasil riset dalam bidang Nanoteknologi di tempat beliau. Beliau juga membuka wawasan kami tentang pengembangan nano teknologi. Materi berakhir ketika adzan ashar berkumandang.

Setelah shalat ashar, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang buku Nano di Alam dan pemberian tugas untuk membuat presentasi dari beberapa konten materi dari buku tersebut. Kelas dibagi menjadi tiga kelompok dengan anggota masing-masing empat orang. Setelah diskusi dirasa cukup, pertemuan hari ini di akhiri. Masing-masing peserta pulang, kecuali kami berlima yang masih diliputi harap-harap cemas tentang penginapan nanti malam. Akhirnya Pak Nur menawarkan kami tempat menginap di Saung, rumah makan pondok bambu miliki MNI bagi yang laki-laki dan rumah pak Nurul Taufiqu Rahman (General Chairman MNI) bagi yang perempuan.

Namun, sebelum bermalam kami berkumpul di rumah makan Saung yang letaknya cukup jauh dari PUSPITEKbersama orang-orang pentingnya MNI. Ada Dr. Nurul Taufiqu Rahman, Dr. Agus Sukarto, dan para anggota timMNI yang hebat. Malam itu menjadi malam yang seru. Kami dapat memperhatikan bagaimana seorang ilmuwan hidup dan menjalani kehidupan. Setelah malam cukup larut, mbak Aptika dan mbak Woro diantar ke tempat penginapannya. Sedangkan yang laki-laki tetap di pondok bambu. Malam kami lalui dengan tidur pulas di tengah suasana desa yang asri.

bersambung ….

reposted from http://simuns.blog.uns.ac.id/catatan-perjalanan-tim-nano-club-uns-2010.php/