Selasa, 22 Juni 2010

Suara adzan membangunkan kami dan segera saja kami melaksanakan shalat subuh. Setelah matahari mulai akan terbit, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan menyusuri kawasan Puri Seprong I. Udaranya sangat sejuk dan nyaman serasa di kawasan puncak (masa iya).

Kami harus membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang fasih agar komunikasi kami dengan orang-orang menjadi lebih baik. Kebiasaan berbicara dengan logat Jawa terkadang membuat teman-teman terpingkal-pingkal. Padahal sebenarnya orang-orang yang jadi ilmuwan di sini kebanyakan juga orang Jawa.

Pagi-pagi kami sudah berkumpul di rumah makan itu untuk membahas proposal yang akan kami ajukan kepadaMNI. Sambil menikmati sarapan soto yang ternyata rasanya agak berbeda dari kebanyakan soto di Solo, kami terus berbincang sampai akhirnya Pak Nur memanggil lewat ponsel salah satu pengelola warung makan. Dengan mobil yang mirip terano kami segera meluncur ke tempat pelatihan kemarin.

Setelah sampai Pak Nur segera mengajak kami ekskursi Lab. Dengan modal pinjaman sepeda motor dari para anggota tim MNI, kami berkeliling PUSPITEK. Pertama kali tempat yang dituju adalah Lab Fuel Cell, di sana ada mas Anis dan mas Kurniawan yang menyambut kami. Dengan sabar dan detail, mas Anis menjelaskan apa itu Fuel Cell, mulai dari pembuatan sampai dengan pemanfaatannya. Mas Kurniawan yang terkenal pendiam dan cool abis sesekali menimpali dan memberikan penjelasan tambahan. Suatu pasangan yang serasi, yang satu cukup detail dalam berbicara, yang satunya pendiam tapi full action. Yang jelas dari sini kami tahu bahwa masa depan Indonesia masih panjang karena bahan baku Fuel Cell masih berlimpah meskipun kelak tanpa batu bara. Tapi permasalahannya siapa yang akan mengambil peran ini??????

Dari Lab Fuel Cell, kami melanjutkan perjalanan ke Lab Fisika dan Nano teknologi di Puslit Fisika. Kebetulan bersamaan dengan saat makan siang dan shalat dzuhur. Di sana ada Dr. Agus Sukarto yang siap menjelaskan kepada kami konsep nano teknologi dan pemanfaatan material SDA di Indonesia. Setelah istirahat dan makan siang beliau memulai kuliahnya. Jadilah kami orang-orang yang mendapat kuliah eksklusif tentang nano teknologi. Gaya beliau yang khas ternyata mampu membuka mata kami bahwa bangsa kita sampai sekarang belum bisa membuat “gotri” atau bantalan peluru dari ukuran sangat kecil sampai yang sangat besar. Tapi kita punya SDA yang sekiranya kita dapat membuat “gotri-gotri” kecil dalam ukuran nano tentu kita akan menjadi raja bahan baku di dunia. Bandingkan jika kita menjual arang satu karung dengan harga yang jauh dari perikemanusian “Rp 10.000,-” dengan satu kilogram Carbon nano tube yang satu kilonya mampu dapat berharga jutaan rupiah. Tapi pertanyaannya sama dengan sebelumnya, siapa yang mau mengambil peran ini???? Yang jelas, beliau mempertanyakan kemandirian bangsa kita.

Usai mendengarkan penjelasan dari Pak Agus, beliau mengajak kami melihat-lihat mesin pemroduksi partikel nanobuatan mereka juga beberapa riset yang dilakukan oleh puslit Fisika. Kami juga sempat melihat berbagai penemuan maupun proyek-proyek yang tengah dikerjakan. Nasihat penting beliau, “Seorang ilmuwan tentu harus membuat paper, namun bukan berarti setelah membuat paper urussan selesai. Karena ada yang lebih penting untuk dilakukan setelahd itu yaitu menghadirkan bukti dan kontribusi dalam pengembangan IPTEK”. Sebagaiamana yang Pak Nurul dan beliu lakukan, para ilmuwan seharusnya mampu menciptakan kemanfaatan bagi umat manusia.

Di akhir kunjungan kami, Dr. Nurul baru saja pulang dari kegiatan di Jakarta. Doktor dari Jepang ini ternyata tercatat dalam 40 ilmuwan yang berjasa bagi Indonesia yang pernah dipublikasikan dalam harian Media Indonesia. Beliau memberi penguatan kepada kami sehingga menjadikan kami makin terbuka untuk melihat masa depan Indonesia ini.

Setelah dirasa cukup kami kembali ke tempat Training. Setelah shalat ashar, acara presentasi tugas kemarin dimulai. Tiga kelompok yang ada mempresentasikan pemikirannya masing-masing dengan penilai Dr. Agus dan salah satu mahasiswa magang yang hari itu mendapat kabar gembira karena diterima kuliah di Korea. Akhirnya diputuskan pemenangnya adalah kelompok 2 yang terdiri dari Mas Hasan, Mbak Aptika, Adi dan Hidayat. Pak Nurulmenyerahkan hadiah berupa tas Nanoteknologi kepada masing-masing anggota kelompok yang menang.

Sebelum diakhiri, pak Nurul menyampaikan beberapa materi yang cukup menarik. Beliau memberi nasihat, “Kita punya banyak sumber daya alam. Di era modern ini, kesempatan kita untuk menyusul negara-negara maju adalah dengan proyeksi Nanoteknologi. Mereka boleh jualan laptop dan berbagai piranti elektronik, tapi berapa sih keuntungannya? Paling hanya dalam jutaan. Tapi kita punya bahan baku yang jika diolah menjadi nano partikel, harganya bisa jutaan per kilogram dari pada diekspor mentah dengan harga yang sangat rendah. Mari kita menahan diri untuk mengekspor bahan mentah, mari kita olah menjadi nanopartikel, baru kita jual ke luar negeri.” Luar biasa nasihat beliau ini. Marilah kita memanusiakan diri kita setelah sekian lama hanya menjadi pengguna dan korban kemajuan teknologi. Ternyata kita punya senjata pamungkas untuk menyusul negara-negara maju.

Setelah itu, ada briefing persiapan panitia Seminar Nasional Nano teknologi pada hari Rabu esok hari. Semua peserta training menjadi panitia. Waktu ternyata sudah malam. Setelah shalat maghrib, kami menuju kembali ke penginapan dan mengerjakan beberapa tugas kuliah yang sempat tertampung dan belum terselesaikan. Dengan menghabiskan malam di tempat yang unik, kami tidak sadar tertidur.

bersambung ….

reposted from http://simuns.blog.uns.ac.id/catatan-perjalanan-tim-nano-club-uns-2010.php/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.