Kategori
Pendidikan

Paypal oh Paypal #2

Hari ini aku menunggu telpon dari telpon yang kata salah satu teman blogger namanya Miss Anis. Yang lain bilang Miss Reni. Ah mana saja boleh asal bisa berbahasa Indonesia dan mengerti keluhan pelanggan dodol macam aku. Jam 7 ponselku bordering, dan ternyata benar ada Miss Anis di luar sana. Aku diberondong dengan pertanyaan yang sulit ku jawab (karena semua data virtual ada di emailku). Kebetulan aku lagi sibuk urusan lain, aku meminta dia menelpon lagi siang.

Siang akhirnya aku ditelpon lagi. Kali ini aku jawab apa yang ditanyakan tadi pagi. Sempat dimarahi karena aku berbelit-belit menjawab kartu kredit yang kugunakan. Aku bilang VCC, terus dimarahi dan dinasihati untuk segera ganti CC yang asli. Ha ha, aku bilang iya Miss, oke akan saya ganti nanti (nanti ….. kalo udah bisa beli CC …. soale tanya teman bilang bukaannya aja 5jt…. what?). Yang penting limit akunku dicabut dulu deh. Dan usaha kecil-kecilan yang dirintis pasca menikmati beasiswa di masa-masa kampus bisa jalan dulu.

Tekad untuk menjadi generasi “Pengangguran Produktif“ telah tumbuh sejak aku berinteraksi dengan dunia maya ini dan merasa bodoh waktu menginstall web SIM sendiri saja tidak bisa. Akhirnya tekad untuk belajar secara otodidak di dunia peronlinenan pun kini membuahkan hasil. Dan aku memilih hal ini sebagai kesibukan yang lebih menarik dan memiliki dampak positif terutama dalam mengkampanyekan budaya menulis positif di kalangan teman-teman di saat hari ini media banyak membuat jebakan negatif mulai dari konten sampah hingga opini miring. Tak jarang anak-anak kampus cenderung reaktif dan menjadi kurang kerjaan, padahal banyak kerjaan lain yang bisa dikerjakan.

Terkadang kita merasa wah ketika di kampus, padahal sesungguhnya kita tidak bisa apa-apa selain hanya mengenyam gelar dan nama yang dicitrakan oleh teman-teman kita. Kerasa dodol banget bahasa Inggris saya ketika menerima telepon. Beda banget antara nerima telepon dengan bercakap langsung, dan aku seperti orang idiot. Oh Allah, memang sepertinya aku masih kurang belajar dan masih kurang optimal dalam mengasah potensi diri. Dalam komunikasi saja masih seperti ini. Apalagi ingin menjadi agent of change, maka change diri kita sendiri dulu deh.

Terima kasih Paypal, akhirnya kau buka juga limitasi akunku. Terima kasih Miss Anis, semoga VCC-ku tetap bisa membuatku bertransaksi dengan paypal. Nanti kalo sudah punya insya Allah tak ganti CC yang asli deh ya. Toh VCC-ku juga bisa dipake buat transaksi kok, cuma aku ga pernah pegang kartunya (kan virtual). Berlaku empat tahun lagi. Hehehehe.

Kategori
Pendidikan

Paypal oh Paypal #1

Ramadhan hari pertama kuawali dengan ritme baru. Jika hari-hari sebelumnya masa onlineku adalah malam. Kini online untuk kerja kubuat di siang hari, malam hanya boleh buat tilawah, hafalan, diskusi dan yang serba ilmu. Hari ini ceritanya aku akan menggunakan akun paypal baruku setelah akun yang lama di limit permanen gara-gara sering gonta-ganti modem. Sekarang kupastikan tempat online yang khusus buat transaksi tersebut di rumah blogger.

Setelah beberapa hari lalu diverifikasi dengan VCC (Virtual Credit Card), karena kalo beli CC betulan ga da duitnya, akhirnya akun paypal yang baru telah siap pake. Hanya saja sebenarnya aku ingin mengisinya setelah sebulan seperti rekomendasi kebanyakan para Paypal Trader. Tapi berdasarkan cerita yang lain, tidak ada masalah antara waktu verifikasi dengan pengisian rekeningnya. Akhirnya hari ini aku reload langsung $XX.

Hasilnya lancar, aku pun mulai bertransaksi menikmati banyak promo hari ini di namecheap. Eh habis beli beberapa domain ternyata akunku kena limitasi lagi. Waduh-waduh, aku baru jadi udah kena lampu merah lagi. Apa gara-gara nafsu belanjaku yang keterlaluan ya hari ini. Akhirnya setelah berkonsultasi dengan teman yang lebih berpengalaman dalam masalah ini, diputuskan untuk mengakhiri limitasi by phone. Menelpon nomor yang nolnya sama dengan +65, alias nomor Singapura. Selain cepat penyelesaiannya, katanya ada miss Anis yang bisa berbahasa Indonesia. Xixixi ….  modus!

Dengan pulsa 50 ribu di nomor telkomsel ku telpon nomor tersebut, ternyata suaranya berbahasa Inggris dan cepat. Aku roaming beberapa waktu dan kadang yang diseberang sana harus mengulangi ketika aku tidak paham hal-hal yang dia minta. Saking gugupnya, akhirnya hanya untuk menyebutkan emailku yang digunakan untuk paypal (dan kebetulan emailku panjang) menghabiskan 50 ribu pertama. Putus ….. !

Untung Paypal baik dan mau menelpon balik padaku. Karena rempong dan ga jelas (dia bingung, apalagi saya) akhirnya aku bilang kapan ada Customer Service yang bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya dijawab besok akan ditelpon seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Asyik … lega! Tapi juga tetap degdegan. Hari pertama Ramadhan diisi doa agar diberi ketenangan agar masalah bisnis online itu tidak justru membuatku lalai. Karena memang sudah kupilih sebagai jalan pekerjaan di waktu ini ya harus ku bereskan.

bersambung ….