Kategori
Dakwah Islam

Mujahidun fii Nafsihi: Dakwah itu Memperbaiki Diri

Jika ditanyakan apa yang paling sulit dalam hidupku, maka jawabannya adalah berperang melawan diri sendiri. Hingga hari ini, tidak ada yang paling membuatku pusing kecuali diriku sendiri yang sering mengalami anomali. Yah, itulah tabiat diri yang seringkali muncul untuk mengganti fitrah dengan kekejian dan berbagai keburukan.

Maka tak heran jika para ulama banyak yang menulis tentang Tazkiyatun Nufus, atau penyucian diri. Karena memang yang terpenting dalam hidup ini adalah menjadikan diri sendiri itu baik. Dakwah adalah pancaran proses kebaikan pribadi untuk ditularkan kepada yang lain, bukan ajakan kosong yang manis dan indah dimata, sedap ditelinga. Dakwah adalah komunikasi hati yang membuat obyek dakwah dengan penyerunya mengalami koneksi langsung, bukan hanya sekedar resonansi.

Dan ketika pilihan untuk hidup di jalan dakwah, pilihan menjadi aktivis hakikatnya bukan untuk mengajaki orang menjadi baik dalam konteks seperti penggembala yang mengarahkan ternak-ternaknya, tetapi lebih bagaimana aku terus berusaha menjadi pribadi yang baik sehingga dapat mempengaruhi apa yang ada di sekitarku. Kebaikan mereka bukan karena ajakanku, tetapi aku hanya berupaya menjadi pribadi yang terus berubah menjadi lebih baik sehingga perubahan itu menginspirasi dan menjadi jalan pembuka hidayah Allah kepada mereka. Sehingga berikutnya dakwah adalah sarana untuk menghadirkan yang menjadi jalan terbitnya hidayah Allah di hati orang-orang di sekitar kita, dan tentunya menguatkan penjagaan Allah atas diri kita sendiri.

Itulah kegalauan yang sering terasa. Apalagi ketika banyak amanah yang membuat diri rasanya seperti “ngatas angin” hingga seakan-akan merasa menjadi orang yang lebih tinggi atas yang lain. Siapakah aku? Aku bukan siapa-siapa. Sekali lagi, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya berharap agar Allah mengunci lidahku dari berkata-kata sesuatu yang aku sendiri tidak pernah melakukannya atau kemudian sok berkata baik padahal diri ini masih jauh dari kebaikan yang dikatakan itu. Menjadi aktivis dakwah itu, hakikatnya adalah upaya pemaksaan diri agar bisa selalu berjuang untuk menjadi baik. Karena apa yang dikatakan itu harus dapat dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat.

Bagi pembaca yang telah membaca postingan ini, doakanlah kebaikan untuk penulisnya yang tengah berjuangan mengalahkan sisi dirinya yang lain, yang ingin berkuasa di kerajaan diri untuk menegakkan keburukan. Semoga yang bertahta hingga hari ini tetap bertahan dan tak terkalahkan. Biarpun jatuh diredah, biarpun luka disayat, biarpun lelah bertahan, diri yang baik tetaplah wajib bertahta di kerajaan diri ini. Karena ia akan mengendalikan pikiran agar tetap jernih, menggerakkan raga agar tetap beramal di jalan-Nya dan membuat kebaikan untuk umat.

Kategori
Misi Perubahan

Anomali Diri

Pernahkah kalian melakukan sesuatu tindakan yang tidak dipercayai oleh diri sendiri? Terlepas tindakan itu baik atau buruk. Aku sesekali mengalami itu kawan. Bahkan aku pernah mendiagnosa diriku sendiri bahwa aku mengalami kelainan jiwa. Karena aku tidak mampu bercerita tentang anomali diriku sendiri kepada orang lain. Mencari-cari pengetahuan tentang anomali ini dalam referensi-referensi psikologi juga belum ketemu hingga hari ini. Dan dititik ini kusadari bahwa mengurus diri sendiri itu jauh lebih sulit.

Lagi lagi, dalam kondisi yang ga nyaman seperti ini aku lebih memilih memposting syair-syair yang membuatku semangat untuk berperang melawan diri sendiri.

Berikanku sebaris kata

Untuk ku susuri jalan gelita

Mentera keramat kata pujangga

Azimat yang bermakna

 

Di depan simpang bercabang tiga

Tak tahu mana satu arahnya

Kanan kiri manusia berdusta

Mungkir pada Yang esa

 

Mungkin ku bukan watak utama

Dalam pentas lakonan dunia

Bimbang juga ku turut sama

Pastinya aku yang binasa

 

Berikan aku pedoman

Arah mana jalan kehidupan

Untuk ku teruskan pergembaraan

Tak rebah dan tersalah langkah

 

Tunjukkan aku kawan

Simpang mana arah kejayaan

Timur utara juga selatan

Atau arah mentari terbenam

 

Bersama menyusuri jalan

Para rasul nabi junjungan

Menuju ke puncak gemilang terbilang

Iman di dada mengiring langkah

(Satu Tekad – UNIC)