Jika saat ini sekolah sudah memiliki Komite Sekolah, maka itu hal biasa. Bahkan jika komite sekolah tidak begitu terlihat perannya dari pada sekolah maka itu juga sangat biasa dan sudah umum. Tapi jika ada sekolah yang bangunannya dikerjakan oleh orang tuanya dalam sebuah kerja bakti, ingat dalam sebuah kerja bakti maka itu baru luar biasa.

Seumur-umur aku mengikuti dinamika sekolah sejak jadi siswa SD hingga kuliah sekarang baru kali ini aku menjumpai secara nyata sekolah yang melibatkan peran orang tua secara langsung dalam keberlangsungan madrasah anak negeri itu. Ketika SD dahulu mungkin pernah merasakan bagaimana sekolah sering meminta siswanya ketika hari Sabtu untuk membawa ember kecil untuk mengangkuti pasir dari sungai di pinggir sekolah, kemudian digunakan untuk menguruk halaman. Maklum saat itu masih masa-masa pembangunan sekolah setelah mengalami rehab gedung.

Terkesan seperti memperalat siswa sih, tapi hari ini aku justru mengatakan bahwa secara tidak langsung kami jadi mengenal masyarakat dan alam lingkungan sekolah. Dan hari ini aku mulai merasa betapa eksklusifnya sekolah itu, karena hampir-hampir masing-masing elemen sekolah itu lebih nyaman berdiri sendiri-sendiri dari pada saling melengkapi dalam kegotongroyongan. Orang tua memilih membayar mahal tanpa mau tahu bagaimana implementasi di lapangan, siswa cuek bagaimana turun berperan aktif dalam menyukseskan program sekolah asal aktif belajar di kelas, dan sekolah lebih sibuk dalam target normatif dari pada memperlihatkan perannya sebagai tonggak penjaga kearifan lokal Indonesia.

Hari ini mataku menyaksikan sendiri bagaimana para orang tua dari siswa-siswa Sekolah Alam Bengawan Solo bergotong royong untuk membangun ruang belajar. Sekolah yang baru berdiri tiga tahun lalu dan kini memasuki tingkat ketiganya tampat terus berbenah untuk menyediakan fasilitas dan ruang belajar yang menyenangkan bagi siswa. Tak seperti sekolah yang sudah akrab dengan batu bata dan semen serta meja yang berbaris rapi, sekolah ini menyediakan ruang belajar dan perpustakaan yang berbentuk saung dengan sungai Bengawan Solo di sampingnya.

Bagiku, inilah sekolah yang dibangun dengan cita rasa cinta yang tinggi. Sekolah yang kata pendirinya tidak semata-mata untuk berbeda, namun memberi ruang sebebas-bebasnya untuk mereka yang hari ini dipandang miskin di mata masyarakat, mereka yang dipandang bodoh cara berpikirnya dari kebanyakan orang, dan yang serba aneh-aneh. Di sini mereka akan mendapatkan hal-hal yang membuat mereka menjadi percaya diri. Mereka dapat belajar matematika dengan beternak merpati, sambil berlatih beternak dan berbisnis dengan penjualannnya.

Akhirnya aku sadar, ini hanya soal berani atau tidak mengambil pilihan. Konsep yang berbusa-busa seperti yang sering menjadi bahan buang-buang waktu di kampus mungkin harus dikendalikan dengan upaya nyata agar berimbang. Ini adalah tentang penyelematan generasi bangsa yang hari ini mengalami penyeragaman laksana militer, padahal ini Indonesia dengan segala kemajemukannya. Kemajemukan yang membuat bangsa ini selalu kaya dengan kearifan dan kemuliaannya sebagai bangsa timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.