Perjuangan Para Putera Yang Menyelamatkan Sang Ayah

Kabar kekalahan pasukan Sung dan terasing di Gunung Serigala sebenarnya telah membuat Kaisar menitahkan kepada Tuan Pan mengirimkan pasukan ke Gunung Serigala. Namun rupanya Pan memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam atas kematian puteranya. Dia beralasan macam-macam kepada Kaisar untuk tidak bisa mengirimkan bantuan ke Gunung Serigala karena Huanzhou membutuhkan banyak pasukan.

Isteri Jenderal Yang yang sejak awal resah itu akhirnya menemui guru spiritualnya. Dari pesan yang ia terima tertera, “tujuh anak pergi, enam akan kembali“. Pesan gurunya ini ternyata dia terjemahkan bahwa nanti dari ketujuh puteranya ada satu yang akan gugur dalam misi penyelamatan ayah mereka (inilah pesan yang sangat ambigu namun nantinya di akhir terbukti enam anaknya mati dan putera keenam saja yang kembali). Sang putera tertua pun diajak untuk berbicara terkait keinginan hatinya menyelamatkan belahan jiwanya itu. Sang putera tertua, Yang Yanping pun menunjukkan baktinya bahwa biarlah dia yang akan gugur asal keenam adiknya berhasil membawa sang ayah pulang.

Dengan sedikit pasukan yang mengawal mereka, ketujuh putera Jenderal Yang ini berhasil mengalahkan pasukan Khitan yang menghadang mereka di perjalanan dan sampai ke Gunung Serigala dengan selamat. Mereka kemudian membujuk ayah mereka pulang. Melihat hal ini, Jenderal Yang merasa terpukul karena jebakan Yelu Yuan berhasil membuat seluruh keluarga Yang yang laki-laki berada di ladang pembataian Gunung Serigala.

Makin lama menunggu, bantuan yang dijanjikan oleh Kaisar tak kunjung datang. Janji hanyalah janji, karena Pan telah berkhianat kepada Yang di saat negara membutuhkan persatuan mereka. Sakit hati yang tak beralasan mengancam eksistensi Kekaisaran Sung di negeri Tiongkok. Akhirnya sang putera ketujuh meradang dan memutuskan untuk berangkat sendiri ke Huanzhou meskipun tidak disetujui oleh kakak-kakaknya, tetapi ia nekat berangkat. Sesampai di Huanzhou, bukannya disambut dengan baik, malah dituduh sebagai pasukan Khitan dan Tuan Pan pura-pura tidak tahu. Nasib sang putera ketujuh ini pun berakhir tragis di tembus panah-panah para penjaga pintu gerbang.

Belum sempat Jenderal Yang dan putera-puteranya meninggalkan Gunung Serigala, ternyata sebagian pasukan Yelu Yuan diikuti para pengawal terbaiknya telah menggempurnya. Pasukan Sung yang tersisa mencoba bertahan dan melawan untuk keselamatan pemimpin mereka. Di sinilah aksi heroik bagaimana putera-putera Jenderal Yang melakukan perlawanan sengit kepada pasukan Khitan sampai akhirnya mereka berhasil lolos dari kepungan itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Namun, karena racun dari panah yang terlambat diobati meskipun telah diusahakan dengan keras oleh putera kelimanya yang ahli di bidang kedokteran, sang Jenderal yang agung itu wafat tanpa diketahui satu pun dari puteranya karena saat itu mereka tengah tertidur. Sang putera keenam pun berjanji untuk tidak menguburkan ayah mereka di kuil peristirahatan itu, tetapi membawanya pulang kepada ibu mereka.

Pengejaran oleh pasukan Khitan terus dilakukan. Sampai-sampai Yelu Yuan memenggal kepala penasihat Ratu Xiao karena terus berkicau menentang rencana pribadinya ini. Melihat hal yang semakin berbahaya ini, Yanping sang putera pertama pun menyerahkan surat ibunya kepada putera kedua. Yanping pun bertahan sendirian untuk memperlambat jalan pasukan Khitan agar tidak menyusul ayah dan adik-adiknya. Pertempuran tak seimbang pun terjadi dengan gugurnya sang putera tertua.

Putera kedua yang mengetahui pembantaian kakaknya pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke medan tempur melawan para Khitan. Lagi-lagi pertempuran yang tak seimbang itu berakhir sama dengan gugurnya putera kedua. Kini tinggal putera ketiga, keempat, kelima, dan keenam yang terus mengawal jasad sang jenderal.

Pasukan Khitan terus merangsek maju dibawah pimpinan mereka yang kejam, Yelu Yuan. Meskipun telah banyak yang dilibas oleh dua putera tertua Jenderal Yang, namun pasukan yang tersisa masih kuat untuk mengejar mereka. Akhirnya putera keempat dan kelima memutuskan untuk menghadang pasukan yang tersisa itu. Dengan keberanian luar biasa, pasukan yang tersisa itu pun mereka habisi meskipun akhirnya mereka pun terlempar ke jurang dan nasibnya tidak diketahui.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.