spiritual-journeyPernah mendengar nama pengajian Maiyah-an? Itulah forum diskusi keilmuan dan pembinaan ruhani yang telah dirintis Cak Nun (Emha Ainun Najib) sejak zaman orde baru dahulu. Mungkin sudah hampir 2 dekade kegiatan yang mengumpulkan ratusan orang, mungkin hingga ribuan untuk duduk berjam-jam belajar dan berdiskusi soal banyak hal dan merenunginya sebagai refleksi ruhani.

Sosok budayawan sekaligus kiyai yang nyentrik itu memang menarik untuk disimak perjalanan spiritualnya. Tak terkecuali puteranya, Sabrang Mawa Damar Panuluh atau yang lebih kita kenal sebagai Noe, sang vokalis Letto. Di buku ini aku mengerti bagaimana buah pikiran intelektualitasnya lebih menarik untuk disimak dari pada menghabiskan waktu untuk menyetel berulang-ulang lagu-lagu Letto. Bukan nyinyir sih, tetapi akan lebih mendalam memahami maksud lagu-lagu Letto yang memang dalam syairnya itu jika kita menyimak sisi intelektualitas sang musisi itu sendiri.

Konsep yang ditawarkan oleh Cak Nun dan Kiyai Kanjeng adalah mentransformasi kehidupan hari ini yang sudah sangat materialistis dan berorientasi dunia untuk kembali ke dunia ruhani dan beroirentasi ilahi. Adagium yang sangat menarik dari pengulangan pernyataannya adalah bahwa materi itu lebih dekat dengan berhala, sementara ruhani akan dekat pada ilahi. Konsep tasawuf ini tentu lebih mendekatkan ketenangan kita ketika kita memahaminya dengan sudut pandang yang mapan sebagai individu yang merindukan ketenangan akan kehadiran Allah di kehidupan kita di saat dunia telah menjadi bagian hidup yang mengekang kebanyakan orang.

Seringkali ketidaktahuan dan ketidakkenalan kita pada seseorang, terutama mengenal pemikirannya sangat lengkap membuat kita picik dan berstigma buruk. Lebih buruk lagi adalah tidak begitu mengenal lalu ikut-ikutan mencap buruk seseorang hanya karena orang lain mengatakannya buruk. Apalagi hari ini, masa dimana kedengkian adalah hiasan mayoritas orang, tak luput di kalangan kaum muslimin yang lebih senang melihat saudara seimannya di luar pergerakannya menderita. Sulit menerima teoir bahwa mereka sebenarnya menyinta sehingga kata-kata pedas itu mengingatkan, padahal caranya jauh dari adab terhadap sesama muslim.

Buku ini akan menjadi salah satu sarana untuk instrospeksi diri, menandang lebiih dalam tentang siapa diri kita untuk minimal tidak gampang ngepal dan ngecap orang lain. Membangun perspektif yang lebih santai namun serius diperlukan sejak dini agar kita lebih mampu menghadirkan solusi untuk diri dan masyarakat ketimbang banyak bicara dan menyakiti sesama. Kesyirikan dan berbagai kerusakan beragama masyarakat kita salah satunya karena kebodohan yang disuburkan. Kebodohan yang nyata adalah saat Anda menjadi keras kepala, menganggap paling benar sendiri sehingga Anda menjadi picik untuk mendengar nasihat orang lain.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.