Pertanyaan ini sebenarnya berawal dari beberapa hal yang kuperhatikan di dinding FB menjelang Pemilu tanggal 9 April 2014 yang tinggal esok lusa. Berbagai promosi digelar bak lapak dagangan pedagang kaki lima. Ada yang menyuarakan untuk memilih, ada yang menyuarakan untuk golput. Ada yang membully partai A, ada yang gantian membully parti B. Ah semua tampak begitu warna-warni mengalir di dinding Facebook kita.

Ada pihak yang bersuara A, B, C, …. Z dengan argumentasinya masing-masing. Tapi ada juga yang ngawur dan asal njeplak. Aku mencoba melihat dengan santai bahwa inilah potret bangsa yang baru mengerti apa itu informasi. Ibarat gelombang yang datang dalam berbagai spektrum, semua disambut suka cita oleh radar-radar yang ada di otak para pembacanya. Sayangnya, ternyata radar masing-masing orang berbeda, ada yang lengkap untuk menangkap sinyal dari semua spektrum, ada yang hanya di spektrum tertentu.

Kukira ketika kita menangkap gelombang informasi ini secara komprehensif maka opini masyarakat tidak terbentuk seperti hari ini. Berita lebih mampu mengendalikan sebuah masyarakat atau komunitas ketimbang pemerintahnya. Bahkan tak jarang keterbangunan sebuah komunitas karena semata-mata opini saja. Maka jika komunitas itu hanya dibangun oleh sebuah opini, maka dia bahkan tidak bisa melihat kebersamaan dalam sedikit perbedaan itu. Saya katakan demikian, karena potret umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas justru terpecah-pecah dalam berbagai cara pandang yang sangat variatif tetapi kadang bertolak belakang. Ini sangat lucu, sekaligus memilukan.

Jika kita mengalami perbedaan cara pandang saat membuat keputusan dalam berbagai aspek kehidupan ini tentu itu hal yang wajar. Tetapi jika perbedaan itu tidak dikelola dan yang lebih terasa adalah hantaman verbal berupa lisan yang menyakiti tentu urusannya sudah lain. Saya kira kita bisa kok merasakan mana itu tuturan nasihat yang bijak dengan ejekan dan cemoohan yang merendahkan. Saya kira kita bisa merasakan mana itu yang tulus dan mana yang itu buah dari nafsu untuk merasa paling benar sendiri. Meskipun kita sulit mendefinisikan ukurannya tetapi hati manusia yang jernih akan memiliki kesepakatan untuk itu.

Maka sebenarnya hal-hal yang terjadi ketika menjelang musim panas Pemilu ini buah dari keteguhan hati atau sifat keras kepala kita? Aku sendiri tidak tahu. Yang bisa kulakukan saat ini adalah aku punya suatu pilihan yang sudah mantap, tetapi aku berusaha berhati-hati agar tidak menyinggung pilihan lain yang berbeda. Kalaupun menyuarakan, maka aku menghindari dari merendahkan yang lain. Itu yang aku bisa, entahlah. Tapi yang jelas, perpecahan yang sengaja terjadi akibat tidak terjaganya lisan dan cara komunikasi kita lebih pasti mendatangkan kemurkaan Allah, ketimbang hal-hal salah yang menyangkut perbedaan jalan kita untuk mewujudkan kemenangan ini, karena kita sama-sama berharap akan keridhoan Allah. Karena konsep kelompok yang selamat itu tidak pernah dijelaskan dengan pasti dan bukan klaim atas suatu jamaah.

Mari kita berdamai, mari kita jaga ukhuwahnya kawan. Usahlah engkau ribut menyakiti dan berkoar-koar di saat saudara yang lain tengah berjuang serius untuk mewujudkan visi yang saya yakin juga nantinya akan memberi manfaat besar bagi kaum muslimin. Bagaimana pun dahsyatnya fitnah hari ini, mari berteguh hati untuk memegang persatuan ini. Gimana? Setiap kita bsia memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Luaskan sayap kemaafan kita, dan kendalikan lisan-lisan kita dengan menghilangkan sifat sombong dari diri kita.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.