Biarkan saya menjadi ikut mainstream dengan membahas pemilu legislatif. Ini tema yang lucu sekaligus mengenaskan. Saya hanya ingin menyajikan data sih. Siapa tau berguna untuk adik-adik pemilih muda yang masih galau menentukan pilihan.

Pasca pemilu legislatif 2009, Kemenkes mengeluarkan data bahwa sebanyak 7.736 Caleg mengalami gangguan jiwa berat alias GILA (dengan rincian 49 orang Caleg DPR, 496 orang Caleg DPRD I, 4 Caleg DPD dan 6.827 orang Caleg DPRD II). Untuk tahun ini, anda bisa baca portal berita manapun, banyak yang menyebutkan bahwa Rumah Sakit Jiwa telah mempersiapkan diri dengan menambah fasilitas untuk menampung caleg-caleg gila pasca Pileg 2014. Lucu bukan?Atau mengenaskan? Terserah penilaian anda.

Kenapa ini bisa terjadi? Sederhana. Mental yang rapuh, modal bermilyar-milyar yang telah dikeluarkan terbuang sia-sia. Padahal kalau caleg-caleg tempe ini tahu diri sedikit dan pintar sedikit melihat peluang, maka hal seperti ini tidak perlu terjadi.

Sebagai gambaran, untuk tahun ini, secara nasional, ada 200ribuan caleg berebut 19.699 kursi. Biar angkanya lebih pasti, kita tilik caleg DPR RI, ada 6608 caleg berebut 560. Tanpa melihat angka-angka cantik lembaga survey, kita lihat angka pasti saja, artinya peluang seorang caleg menang hanya kurang lebih 8%. Hanya dipilih 1 dari 11 atau 12 caleg. Pertanyaannya, orang waras macam apa yang berani investasi besar-besaran dengan peluang kalah SEBESAR 92%?? Jadi caleg-caleg tertentu -katanya- memang sudah GILA dari awal.

Kenapa mereka bisa jadi risk-taker yang ekstrim? Sudah terang jawabannya. Kita sama-sama tahu. Kebanyakan karena gaji yang fantastis. Menurut data IMF, seorang anggota DPR bisa meraup pendapatan US$ 65 ribu atau sekitar Rp780 juta pertahun. Belum termasuk gaji ke-13, dana reses atau aspirasi daerah pemilihan, insentif rapat, belum lagi dana pelesiran ke luar negeri serta berbagai fasilitas lainnya. Dalam setahun, jika ditotal 1 orang legislator bisa memiliki pendapatan lebih dari 1 Milyar. 18 kali lipat angka perndapatan per kapita penduduk Indonesia. Angka yang menempatkan Indonesia ke posisi nomor 4 di dunia untuk kategori negara yang memberikan gaji terbesar untuk parlemennya, setelah Nigeria, Kenya, dan Ghana. Yep. Negara miskin semua. Sudahlah miskin, pemimpinnya serakah pula. Masa depan suram.

Lalu bagaimana agar anggota legislatif kita tidak melulu ironis begini? Gaji besar tapi hasil tak seberapa. Saya yang naif dan masih perlu banyak belajar ini kadang berpikir seharusnya gaji DPR diterjunbebaskan sedemikian rupa. Sebesar pendapatan per kapita penduduk Indonesia mungkin? Atau bolehlah 2 atau 3 kali lipatnya, biar betul-betul merepresentasikan rakyat. Biar terseleksi juga dari awal, mana yang sungguh-sungguh punya niat tulus mengemban amanah rakyat, menjadikan bangsa lebih baik tanpa memandang gaji. Lah, terus nanti sedikit dong yang mau jadi caleg? Biar sedikit yang penting berkualitas kan? Daripada segambreng isinya rampok semua. Terus, terus, nanti gimana balikin modal, iuran ke partai? Tanya sama tembok sana.

Terakhir, saya hanya bisa mengingatkan adik-adik pemilih yang masih waras, dan juga saya sendiri, jadilah pemilih cerdas. Jangan memilih hanya karena yang bersangkutan artis atau apalah, hanya karena dikasih uang, nasi bungkus, disuguhi dangdut koplo, atau hanya karena iseng, apalagi hanya karena serangan gelombang alpha akibat media. Memang tidak ada yang murni baik, karena ini bukan kontes malaikat. Telusurilah sebentar siapa yang akan kita pilih, bagaimana kapasitasnya, bagaimana sepak terjangnya. Tidak lama jika dibanding nestapa 5 tahun diwakili orang yang tidak tepat kan?

Dwi Yoshafetri Yuna

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.