Sebenarnya ini refleksi berulang tentang berbagai fenomena kehidupan kita hari ini. Berita terakhir yang hot di media salah satunya adalah tentang penerimaan CPNS K2 Honorer. Berbagai pemberitaan entah benar seperti itu atau dilebay-kan oleh media membuat ktia begitu muak membacanya. Kata-kata kecurangan, ketidakadilan, dan berbagai sumpah serapah kepada pemerintah yang diteriakkan para pegawai honorer serta penundaan yang berkali-kali oleh pemerintah seolah menjadi drama yang paling tidak bermutu untuk disaksikan. Tapi ibaratnya orang kelaparan dan tidak ada makanan lain, yah terpaksa lah kita ikut-ikutan melihat itu.

Memprihatinkan sekali ya? Iya, tetapi menurutku yang lebih memprihatinkan adalah itu salah satu indikator bahwa negeri ini mulai tidak religius lagi. Mengapa? Karena banyak orang hari ini mendewakan uang, pekerjaan, dan status sosial sebagai jaminan kehidupan mereka. Bukan salah jika punya cita-cita kaya, justru itu sangat dianjurkan karena dapat menjadi muzakki (penyumbang zakat) dan membantu meringankan beban masyarakat yang lain. Tetapi menuhankan ketiganya sebagai orientasi saat sekolah bahkan hingga saat berdoa tentu menjadi masalah besar di era ini. Boleh jadi itu lebih mengerikan ketimbang di masa Jahiliyah bangsa Arab yang menyembah berhala.

Mari kita renungi bagaimana dalam shalat dan ibadah kita. Jangan-jangan pikiran kita tiap hari setiap berdoa hanya bersifat transaksional. Kita shalat dan berdoa agar diberi uang, diberi rumah, diberi mobil mewah, diberi macam-macam untuk duniawi. Padahal bukankah rezeki adalah keniscayaan yang Allah janjikan. Artinya, dengan kita hidup sudah pasti ada rezeki yang menjadi jatah kita. Seharusnya kita berdoa agar diberi jalan pekerjaan yang halal, diberi ketenangan untuk berpikir bagaimana bekerja dengan benar, diberi ketabahan saat merasa buntu sehingga dapat kembali kepada-Nya. Dan yang lebih penting adalah diberi kemudahan untuk selalu ingat dan memohon ampun setiap hari.

Sebenarnya kita tergantung pada siapa? Kepada Allah atau kepada uang, jabatan, dan status sosial. Benar bahwa kita butuh uang, jabatan, dan status sosial. Tetapi menjadikannya poros kehidupan adalah bencana paling besar. Karena kita akan menjadikan shalat, bahkan termasuk Allah sendiri sebagai bagian saja untuk mengejar poros itu. Cukuplah begitu merendahkan Allah jika kita berdoa pada Allah hanya karena mengejar ketiganya, padahal Allah jauh lebih tahu sebaiknya kita menjadi seperti apa nanti.

Mari kita lebih tenang, ada banyak pekerjaan yang bisa kita tempuh dalam mencukupi kebutuhan rezeki kita. Urusan banyak sedikit itu tergantung syukur kita, gaji cukup tetapi tidak pernah sakit tentu lebih nikmat daripada gaji 10 kali lipat tapi bolak balik rumah sakit, punya penyakit kronis akibat gaya hidup hedonis dan melihat istri serta anak menghambur-hamburkan harta. Keep calm please! Woles aja. Luruskan tawakkal kita.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.