Sesekali aku memutar senandung-senandung yang pernah populer di masa SD. Lagu-lagu yang beraliran slow rock mengalun bening ditelinga ketika butuh relaksasi di teriknya siang. Para pelantunnya seperti EXIST, IKLIM, SLAM dan sebagainya seperti hadir lagi dalam bayanganku ketika dahulu hanya sering kulihat di TVRI dari televisi di rumah kakek. Hari ini, lagu-lagu itu sesekali coba kudengar lagi untuk mengembalikan aroma masa lalu yang tenang di tengah hiruk pikuknya informasi dan berbagai aliran musik yang semakin beragam.

Selain senandung dari negeri Jiran, aku pun memutar lagu-lagunya Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Chrisye atau yang semasa itu. Senandung-senandung yang memiliki karakter kuat, tak cuma syairnya yang berkelas tetapi juga kualitas garapan musiknya yang serius dan berkarakter. Mungkin ini tentang kesatuan antara seni dan kuatnya bahasa hati dalam pembuatannya. Begiutlah kira-kira penjelasan salah satu master yang mengerti dunia musik kepadaku. Hari ini kualitas musik bisa jadi tetap luar biasa bahkan lebih kreatif dari masa lalu, tetapi cita rasanya boleh jadi tak seperti dulu lagi.

Aku jadi teringat dengan pernyataan Noe, salah satu vokalis grub band asal Yogyakarta bahwa musik itu refleksi dari kondisi masyarakat di kala itu. Jadi kesimpulanku mungkin hari ini karena kondisinya sudah tidak sesusah dahulu atau mungkin justru karena hari ini kita semakin kehilangan jati diri, makanya musik-musiknya pun mengikuti kondisi masyarakat yang bukan lagi sebagai sebuah refleksi masa susah tetapi menjadi ajang atraksi dan tak jarang menjadi ajang fotokopi. Maklum karena semua fasilitas telah tersedia dengan baik.

Entah mengapa, kehadiran musik-musik hari ini lebih kupahami sebagai atraksi dan luapan kreativitas semata, bukan lagi sebuah refleksi apalagi sebuah unjuk jati diri dari seniman-seniman yang ada. Ah itu mungkin hanya pendapat pribadiku selaku orang awam yang hanya menjadi penikmat musik, bukan sebagai musisi, apalagi ahli di bidang seni seperti itu. Banyaknya generasi muda yang mulai fotokopi sana-sini, kehilangan jati dirinya sebagai bangsa timur.

Ini tidak sekedar sebuah nasionalisme di mana ketika kita sedang berseteru dengan Malaysia lantas kita memboikot semua yang berasal dari negeri jiran itu. Tetapi lebih sebagai refleksi tentang ketercerabutan budaya timur dari akarnya yang diwujudkan dalam sebentuk seni yang diklaim sebagai ekspresi sebebas-bebasnya. Bukankah kita punya cita rasa seni sendiri. Kekayaan budaya kita telah mencerminkan bagaimana negeri kita memiliki cita rasa sendiri dalam berkesenian. Ah, lagi-lagi ini hanya ocehan penikmat musik yang barangkali bisa dipatahkan dengan argumen sebagai komentar ngawur.

Tapi sungguh, hari ini semakin kita melihat sejarah, semakin kita mengenal Indonesia kita, rasanya kita semakin menjadi orang asing hari ini. Hanya saja, jangan sampai kita larut dalam keterasingan apalagi menjadi musuh masyarakat karena keterasingan kita. Kita saat ini terasing, tetapi sesungguhnya kita punya kenangan sejarah besar yang akan terus membuat kita bertahan sebagai orang timur.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.