Hal yang paling terasa berat setelah menjalani hidup di kepala dua ini adalah tentang keistiqomahan. Kata istiqomah memang sudah dikenalkan sejak lama, dan mungkin juga sudah diajarkan sejak kecil dengan bahasa yang lebih familiar waktu itu. Namun baru terasa begitu beratnya dan begitu sarat maknanya hari ini. Tentang istiqomah, tentang bertahan dan tentang kekuatan pribadi untuk meretas segala tantangan hidup.

Setiap orang memiliki warna dan tempat mulai yang berbeda dalam kehidupannya masing-masing. Ada yang sejak kecil telah dapat belajar agar semakin istiqomah dan ada pula yang baru menyadari ketika telah dewasa atau dihadapkan pada sebuah tantangan baru yang benar-benar mengeluarkannya dari dunianya yang dulu. Dan mungkin juga, aku termasuk golongan orang-orang kedua. Yang baru melek realita kemarin sore, namun terlanjur punya retorika dan kumpulan teori terselubung yang sewaktu-waktu justru menjadi bumerang keburukan bagi diri sendiri.

Tentang istiqomah, itu sebenarnya bermula dari niat yang lurus dan komitmen yang kuat, mulai dari hal yang paling kecil. Pengabaian hal-hal kecil seringkali membawa akibat di kemudian hari pada hal-hal yang lebih besar. Jika itu hal-hal buruk, maka akan sulit resolvenya. Dan bahkan untuk memangkas kebiasaan buruk ketika dewasa ini sulitnya minta ampun. Terkadang aku selalu bertanya, apa gerangan dulu di masa kecil yang pernah kulakukan sehingga kebiasaan buruk ini kemudian mengakar kuat dan sulit kuhentikan?

Tentang istiqomah, itu bicara bagaimana memulai dan teguh dengan apa yang telah dimulai. Jika itu kebiasaan baik, 3 M yang sering Aa Gym sampaikan itu wajib dijaga dan dipelihara. Bagi diri, bagi lembaga dan semua hal yang sanggup berubah, maka kunci perubahan itu terletak pada sejauh mana kita mampu istiqomah. Jika kita masih menunda-nunda untuk memulai, kapan lagi diri kita akan baik. Dan ini menjadi perenunganku setiap hari. Bisakah aku istiqomah?

Terkadang ketidakistiqomahan itu seringkali menumbuhkan bibit kemunafikan. Kemunafikan yang tidak disadari karena tertutupi oleh ambisi atau anggapan baik dalam sebuah pencapaian. Yah, anggapan baik dan rasa hati yang mati akan membelokkan setiap langkah kita dan mengubah segala niat kita. Untuk istiqomah, mari kita mulai dan kemudian bertahan sampai mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.