Ceritanya aku kepo-kepo linimasa di Facebook. Mataku tertuju pada suatu postingan status yang sangat menarik. Kira-kira itu adalah sebentuk nostalgia idealisme tentang Guru dan Dokter. Guru dan Dokter di masa lalu, riwayatmu dulu. Bagaimana dengan Guru dan Dokter hari ini?

Tentang penulisnya sendiri aku belum begitu mengenal siapa beliau. Hanya sejak sering membaca status-statusnya, tampak kedalaman pemikirannya soal pendidikan. Bukannya sok idealis, tetapi beliau benar-benar memberikan salah satu perspektif segar tentang realita pendidikan kita yang jadi arena bisnis dan coba-coba.

Guru dan Dokter

Dahulu kala dalam komunitas desa atau suku, profesi guru dan dokter disandang oleh para local leader, atau pemimpin penting. Peran mereka adalah sbg kearifan lokal itu sendiri, sekelas ulama bahkan secara peran sekelas pekerjaan Nabi.

Peran sejati para guru dan dokter ini adalah sebagai mujahid dan mujadid yang memberdayakan potensi keunggulan komunitas ummat. Mereka tidak menjadi beban tetapi justru menghilangkan beban dan permasalahan desa, komunitas dan ummat.

Ketika terjadi sentralisasi pemerintahan dan kekuasaan, nasib local leader ini menyempit menjadi sekedar profesi tenaga pengajar atau tenaga medis. Leadership mereka dihabisi secara sistemik, tdk punya peran dalam makna leader.

Mereka digaji layaknya pekerja dan buruh, mereka diberi karir dalam bentuk jenjang kepangkatan, negara menyeragamkan isi kepala mereka bahkan apa yg hrs mereka fikirkan dan lakukan. Ada kurikulum, sop, konten, penilik, aturan dll yg menghilangkan ruang lahirnya leadership.

Lahirlah guru2 dan dokter2 robotik tanpa daya perubah dan perbaikan, lahirlah guru2 akademis yg jago literatur dan rumus2 namun miskin kemampuan mengkontekskan pengetahuan dgn realitas, lahirlah guru2 yg bukan guru dan bukan leader. Lahirlah dokter2 yg jago klasifikasi dan prosedur serta mahir menuliskan resep namun miskin kemampuan memberi solusi kesehatan kepada masyarakat.

Guru dan dokter robotik ini tentu bukanlah mujahid dan mujadid yang (mau dan mampu) memperbaiki realitas umat dan peradaban, mereka hanyalah pekerja yg mungkin berhati mulia tetapi sulit menjadi agen perubah.

Kita saksikan sekumpulan makhluk yg dinamakan guru dan dokter, yg sebagian pasrah dan yg sebagian lagi serakah. Memang dalam sebuah ruang tanpa jiwa kepemimpinan dan jiwa perubahan itu niscaya hanya ada dua macam makhluk spt itu. Hasilnya sdh bisa ditebak… siswa pasrah dan siswa serakah… pasien pasrah dan pasien serakah.

Lalu bukan berarti guru dan dokter harus jumud dan terbelakang, tetapi yg kita bicarakan adalah peran sejati. Saya tidak menolak modernitas, sains dan teknologi berkembang, namun modernitas jangan menjadi modernism yang mencerabut peran2 sejati dari guru dan dokter apalagi mereka adalah para teladan yg seharusnya menjadi pewaris para Nabi yang digugu dan ditiru ummat khususnya generasi baru kedepan.

Salam Pendidikan Sejati

[ Harry Santosa ]

Nah, apa pendapatmu kawan. Saat ini aku masih jadi mahasiswa di sebuah fakultas keguruan. So? Semoga aku bisa menjadi pendidik yang tidak harus berprofesi sebagai guru. #hanya doa dan harapan kepada Allah untuk Indonesia Emas di masa depan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.