Hohoi, kali ini aku mengajak eksplorasi dunia matematika. Dunianya orang-orang mengasah logika, bukan menghitung seperti yang terlanjur salah diajarkan sejak SD. Dunia matematika adalah dunia kepahaman dasar tentang logika, tentang sebuah kesepakatan. Yang gagal belajar matematika dengan benar, biasanya akan jadi pengkhianat dan pecundang, hobi korupsi, suka nyuap dan segala perilaku kejahatan lainnya. Yang berhasil belajar matematika, terkadang tidak harus selalu mendapat nilai 10, terkadang malah dapat 0. Lho kok bisa?

Matematika adalah ilmu tentang logika, cek tulisanku waktu mengupas ceramahnya om Sujiwo Tejo di TEDx. Jadi bukan jadi soal apakah 1 + 1 = 2 atau 1 + 1 = 10, karena keduanya sama-sama benar jika pembahasannya berangkat dari dasar logikanya masing-masing. Maka guru matematika sebenarnya tidak boleh membuat ketentuan bahwa 1 + 1 selalu sama dengan 2. Guru matematika terbaik adalah guru yang selalu mengatakan alasan mengapa 1 + 1 = 2 dan mengapat 1 + 2 = 3. Karena 1 + 1 bisa sama dengan 10. 1 + 2 juga bisa sama dengan 10. Tergantung berangkatnya dari basis bilangan apa kan?

Ilmu logika sebenarnya menuntun kita pada sebuah kesepakatan. Karena hasil-hasil yang dicapai dalam matematika sebenarnya adalah buah dari kesepakatan logika mayoritas. Termasuk dalam bahasa, maka penggunaannya sebenarnya secara tidak sadar akibat dari kesepakatan mayoritas untuk sama-sama mengatakan bahwa tempat minum adalah gelas, yang dipakai untuk makan adalah piring, sendok, dan garpu. Itu adalah kesepakatan manusia yang menuturkan dari generasi ke generasi. Seandainya sepakat diubah, tinggal diganti ramai-ramai.

Maka dari itu, jika kita benar dasarnya dalam belajar matematika, yang terpenting bukanlah apa bahannya dan apa hasilnya, tetapi bagaimana aturan mainnya. Apa bahannya dan apa hasilnya bukankah kita sudah mendapatkan jawabannya. Coba cek di al-Quran. Jika kita berbuat baik, maka akan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat ganda. Jika kita berbuat jahat, maka akan mendapatkan balasan setimpal atas kejahatan itu. Jadi yang harus dipahami adalah aturan main bagaimana kita bisa berbuat baik sehingga mendapatkan balasan yang berlipat ganda dan bagaimana kita menghindari kejahatan agar terhindar dari balasan yang setimpal atas kejahatan itu.

Jika kita mau mempelajari al-Quran, maka setiap muslim jelas sudah punya persamaan matematika sendiri tentang kebaikan dan kejahatan tadi. Nah, bagaimana agar kita semua dapat membuat kebaikan dan menghindari kejahatan secara bersama. Inilah logika persamaan matematika digunakan. Kunci pertama adalah masing-masing kita harus sudah memiliki persamaan matematika tentang kebaikan dan kejahatan tadi. Sudahkah? Nah, jadi guru matematika itu bukan hanya yang lulus dari pendidikan matematika atau yang diterima PNS disuruh ngajar matematika. Orang tua adalah guru matematika pertama untuk anak-anak mereka.

Apa yang pernah kita pelajari dalam persamaan matematika? Himpunan penyelesaian bukan. Maka sudah seharusnya setiap komunikasi atas rumus-rumus matematika yang sudah kita bentuk dalam diri kita itu menghasilkan konsep bersama yang disebut himpunan penyelesaian. Artinya dengan rumus matematika saya, dia, dan mereka kita bisa melakukan satu tindakan bersama yang bersesuaian dengan tujuan dakwah yang mulia ini. Jadi bukan saatnya lagi Anda mengungkiti persamaan matematika orang lain, selagi Anda dulu tidak ikut membangun persamaan itu, karena idealnya itu tanggung jawab masing-masing.

Lalu selanjutnya kita terkadang mendapatkan banyak hal yang tidak seimbang dalam pemikiran kita. Anggap saja itu adalah pertidaksamaan matematika. Apa pelajaran yang pernah kita kaji dulu di sekolah? Tetap sama kan, himpunan penyelesaian. Hanya saja bentuknya dalam rentang yang panjang dan daerah arsiran yang luas. Apa itu maknanya, setiap perbedaan yang terjadi tentu membutuhkan ruang diskusi yang lebih banyak dan panjang. Jangan buru-buru bikin himpunan penyelesaian satu saja seperti persamaan tadi. Kita harus melakukan telaah pada masing-masing persamaan matematika kita hingga akhirnya kita menemukan bahwa ternyata kita berhasil menyusun sebuah persamaan baru dari pertidaksamaan sebelumnya. Apa mungkin? Bukankah kita punya fitrah untuk selalu belajar dan memperbarui pengetahuan kita. Jadi mengubah pertidaksamaan menjadi persamaan tentu hal yang masuk akal kan.

Ayolah, ini adalah pelajaran matematika tentang persamaan dan pertidaksamaan kawan. Mengapa dirimu begitu payah dan ribet hanya sekedar mencari X dan Y yang hilang. Ini lebih penting untuk dicari, karena berkaitan dengan nasib akhirat kita.

4 Comments

    1. Yuli Ardika Prihatama

      Makanya ngatur sebuah bangsa yang gagal belajar matematika lebih sulit ketimbang mengatur kambing-kambing yang punya aturan main bahwa jika ada rumput maka tinggal makan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.