Alhamdulillah, setelah sekian waktu mencari-cari kesempatan, tadi malam bisa menikmati indahnya akhir pekan di tepian Sungai Bengawan Solo. Sebuah momentum yang indah buatku untuk melepas rindu dengan Pak Suyudi, sang inspirator pendidikan yang jenius dan eksentrik dengan gagasan-gagasannya yang out of the box dalam membangun Sekolah Alam Bengawan Solo.

Keberanian beliau mengambil pilihan untuk pendidikan sekolah alternatif ini memang bisa dibilang masih baru patut diacungi jempol. Sekolah yang sekarang kami urus ini pun boleh dibilang masih dalam proses pembangunan dan pembuktian. Apakah kelak mereka berhasil menghasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas. Semua menjadi tantangan bagi kami yang telah bosan dengan gaya sekolah sekarang yang sudah tidak lagi membangun kepribadian bangsa, melainkan menghafal sesuatu yang terkadang tidak sesuai dengan realitanya.

Aku belajar banyak dari ketegarannya menghadapi fitnah orang sekampung karena dianggap sebagai komoditas bisnis baru. Bagi yang tidak banyak berinteraksi langsung dan melakukan diskusi secara mendalam, sekilas mungkin memang terlihat demikian. Bagi yang mengerti dan belajar banyak dari beliau, maka justru kita dapat hal yang luar biasa. Seorang pengusaha kayu yang seandainya mau menekuni bisnis impor mebelnya saja sudah jadi kaya memilih menggerakkan orang tua dan komunitas pemuda untuk merancang pendidikan alternatif. Sebuah konsep baru yang jelas mentah jika disampaikan ke birokrat yang terlalu banyak berpikir sistematis tentang bagaimana menghabiskan anggaran.

Jika kelak memang sekolah ini mandiri dengan bisnisnya sendiri tentu bukankah lebih baik dari pada sekolah yang selalu mengandalkan BOS? Hanya orang-orang yang picik saja yang lebih memilih menghembuskan fitnah ketimbang belajar bagaimana bekerja sama untuk memajukan pendidikan Indonesia yang sudah parah akibat perilaku guru-gurunya yang tidak lagi dapat dijadikan teladan murid-muridnya. Silahkan direnungkan. Dan jika Anda tertarik berkunjung saja ke sini.

Apa pun itu, pagi ini aku mencoba merefleksikan semua hasil pembicaraan yang panjang tadi malam. Karena jika kubandingkan dengan realita pendidikan di luar Jawa yang baru saja kulihat bulan lalu, cukuplah bahwa hari ini pendidikan di Jawa adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus tempat eksperimen terbaik untuk mengembalikan pendidikan kita yang terpuruk. Jika di pulau terpadat penduduknya ini pendidikannya tumbang, sudahlah mari siap angkat senjata untuk melawan penjajahan yang akan terulang. Semengerikan itukah? Yah silahkan jika hanya ingin menunggu kehancurannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses