Salah satu pembicara TEDx yang dapat kugali ilmunya adalah Presiden Republik Djancukers, Sujiwo Tejo. Tokoh seniman yang kontroversial ini memang terkenal berani dalam setiap ekspresinya. Dia tidak mengikuti terminologi kebanyakan orang, seringnya membuat terminologi sendiri seperti Cak Nun (Emha Ainun Najib). Ya bagiku, kuikuti apa yang sejalan atas apa yang kuyakini saja. Dia memang unik dan nyentrik. Tapi bukan berarti kita harus membenarkan setiap hal yang dia sampaikan bukan.

Inspirasi yang dia share dalam salah satu sesinya di TEDx Bandung adalah tentang matematika. Dalam tayangannya di Youtube, dituliskan judulnya Math : Finding Harmony in Chaos. Tidak setiap hal sih dalam materi itu yang aku setujui. Ada satu saja yang coba kutelaah berdasarkan pengalaman yang kurasakan juga, sebagai sesama penyuka matematika. Yakni hakikat matematika sebagai pembangun logika dan konsistensi berpikir logis.

Matematika hari ini dikenal sebagai pelajaran yang sulit. Momok, begitu kata kebanyakan siswa dan orang tuanya. Tak jarang mereka memasukkan anaknya ke bimbingan belajar hanya demi bisa mendapatkan nilai bagus saat ujian matematika. Namun, benarkah cara belajar matematika di sekolah-sekolah saat ini? Kalo menurut Ki Djancuk, ada yang salah dengan pengajaran matematika selama ini.

Matematika itu adalah bukan soal hitung menghitung seperti kebanyakan hal yang menakutkan seperti sekarang. Matematika adalah perkara logika dan melatih konsistensi kita dalam berpikir logis. Maka jika ada orang yang nilai matematikanya bagus, tetapi tidak dapat memecahkan persoalan menyangkut realita sebenarnya patut dipertanyakan tingkat kecerdasan matematikanya. Karena kata pepatah Yunani, Mathesis Scientiarum Genesis, matematika itu dasar kehidupan.

Orang yang memiliki kemampuan matematika bagus, idealnya dia juga jago untuk masalah musik, jago juga untuk masalah sastra, dan berbagai seni lainnya. Jika faktanya saat ini banyak musisi dan sastrawan matematikanya rendah, bisa jadi karena sistem pembelajarannya yang salah. Refleksi ini mungkin bisa diperluas jika para pembaca melakukan diskusi dengan para mahasiswa jurusan matematika. Mereka pasti merasa terkejut dengan adanya perbedaan cara belajar matematika ketika kuliah dengan matematika yang ia terima mulai dari SD hingga SMA.

Apakah matematika itu ilmu pasti? Jawabannya tidak. Satu tambah satu tidak selalu sama dengan 2. Mengapa? Karena 1 + 1 = 2 itu benar jika kesepakatan pembicaraannya adalah desimal. Jika kesepakatan pembicaraannya adalah bilangan biner, maka 1 + 1 = 10. Maka kemampuan matematika itu melatih kita untuk belajar tentang cara berpikir yang logis. Menganalisis sesuatu dengan pendekatan proses. Dan melihat adanya keterkaitan banyak hal secara rasional. Maka matematika itu sebenarnya bahasa seperti halnya kita mengenal bahasa yang kita gunakan. Bukankah kita bisa saling mengerti karena ada kesepakatan bahasa yang kita pakai. Tapi, seperinya nasib matematika mirip Bahasa Inggris sekarang. Untung sejak kecil dibiasakan ayah suka dengan matematika. Meskipun hari ini sedang membangun rasa cinta untuk belajar bahasa Inggris. Loh apa hubungannya.

Singkat cerita, ketika cara belajar matematika itu benar dan kemampuan logika kita terasah, maka salah satu manfaatnya adalah menguatkan daya ingat dan cita rasa seni kita tumbuh. Pernah suatu ketika, salah seorang ustadz yang sudah hafidz al-Quran ketika beliau mengajar tahsin, beliau mengatakan pentingnya menguatkan pelajaran matematika untuk memudahkan kita hafalan dan mendalami bahasa Arab.

Dalam konteks yang lain, kita juga hanya akan bisa memahami fisika, kimia, dan ilmu alam lainnya ketika kemampuan matematika kita mumpuni. Biasanya siswa kesulitan belajar fisika karena logika matematisnya tidak terbangun dengan baik, sehingga memecahkan soal cerita ketika memasuki jenjang SMA sulitnya minta ampun. Tahunya cuma bisa menulis, diketahui, ditanyakan, dan dijawab.

Demikian pula dalam memahami kenyataan sejarah. Ketika logika kita tidak bekerja dengan baik, maka ribuan kejanggalan dalam buku-buku sejarah yang kita lahap sejak SD itu tidak akan pernah terdeteksi sedikitpun bahwa ada banyak hal yang ganjil dan putus logikanya. Tapi mungkin itulah kenyataan bangsa terjajah yang belum terbangun dari mimpi indahnya. Jadi ya mari kita bangunkan saudara-saudara kita yang masih terlelap dalam penjajahan. Merdeka itu, milik Presiden Soekarno dan para pahlawan yang telah berani berkata merdeka meskipun senapan di dekat kepala mereka. Jika kita ingin merdeka, maka mari kita wujudkan bukti kemerdekaan itu dari diri kita sesuai dengan konteks zaman kita.

Akhirnya, matematika itu adalah sebentuk bahasa. Sudahkah kita menguasai bahasa matematika? Sekian tafsiran versiku untuk wejangan Ki Djancuk, Sujiwo Tejo.

1 Comment

  1. Pingback: Ketika Persamaan dan Pertidaksamaan Matematika Tidak Bermakna Apa-Apa | Be Better for Future

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.