Kategori
Misi Perubahan

Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3

Resolusi Kita

Tapi bagaimanapun rusaknya itu, bukankah kita masih yakin bahwa banyak orang baik yang masih ada di negeri ini. Bukankah kita masih punya banyak pemuda yang terus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Bukankah pertolongan Allah masih terbuka untuk kita pinta di setiap shalat dan tangisan kita. Itu resolusi kita yang tertinggi yang harus diikuti dengan komitmen dan tekad untuk menjadi generasi hebat di masa depan.

Hanya ada dua pilihan untuk menaklukkan para gurita yang mencengkeram ibu pertiwi ini. Menjadi para abdi negara yang tangguh kemudian bertarung di lingkaran setan yang bernama birokrasi atau menjadi para pengusaha yang cinta tanah air dengan segala kemandiriannya sehingga mampu menggerakkan ekonomi rakyat untuk tumbuh bersama melawan arus kapitalisme yang semakin kuat ini. Hanya dua itu menurutku, dua yang sama-sama berat untuk ditempuh. Tetapi lebih baik mati di jalan itu dari pada hidup nyaman menjadi pecundang.

Dan mari kita tutup dengan lagunya yang berjudul Bangunlah Putra Puteri Ibu Pertiwi. Ada sepenggal bait yang membuatku terharu, bahwa

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Itulah seharusnya wajah ibu pertiwi kita. Kita adalah negara besar seperti besarnya Majapahit atau keperkasaan para Sultan dalam menghadapi dominasi para penjahat kolonialisme itu. Kita masih punya pemuda dan para bijak bestari hari ini. Kita masih punya pikiran yang perlu kita jaga agar ia selalu berpikir positif dan menciptakan gebrakan untuk perbaikan bangsa ke depan.

Apakah kita takut? Jika kita takut, sesungguhnya hari ini menjadi PECUNDANG adalah satu langkah yang paling mudah untuk ditempuh. Akankah? Lebih baik mati saja kita dari pada hidup dengan tanpa rasa malu. Mari berdamai dengan masa lalu, yang lalu biarlah berlalu, dan segera ambil bagian dan peran kita masing-masing. Jika kita telah sadar, maka mari kita putuskan langkah kita setelah ini, ketika masih menjadi mahasiswa dan setelah menjadi mahasiswa nanti.

Semoga Indonesiaku kembali perkasa seperti gagahnya burung Garuda yang terbang mengangkasa. Itulah inspirasi hari ini. Maaf aku tidak bisa bercerita banyak selain hanya menjadi penikmat lagu-lagunya Iwan Fals saja.

Kategori
Misi Perubahan

Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #2

Realita Kita

Langsung saja kita bedah lagunya Iwan Fals yang pertama, Jangan Bicara. Itu lagu yang menurutku sudah cukup menggambarkan bagaimana parahnya keadaan masyarakat kita. Dari beberapa bait syairnya sudah mengambarkan rusaknya sistem sosial kita karena ketidakadilan dan berbagai perbuatan yang menyimpang. Sampai-sampai dirinya melarang kita membicarakan lagi, tetapi segera saja diatasi. Sudah akut!

Untuk lebih menambah daya gebuknya, berikutnya mari kita lanjutkan dengan Mimpi yang Terbeli. Itu lagu yang lebih nendang sindirannya saat pasar-pasar modern mulai menjamah negeri kita. Kehadirannya bukan saja membunuhi pasar-pasar tradisional kita. Tetapi juga membuat sebagian masyarakat kita menjadi kapitalis-kapitalis di negeri sendiri. Mall merubah gaya hidup masyarakat kita menjadi hedonis, harus beli mobil, harus punya banyak uang, harus selalu shopping dan semua itu jelas tidak sehat untuk negara berkembang yang tengah membangun pondasi menuju sebuah negara maju.

Jika di Eropa banyak pasar modern, itu karena memang di sana tak ada lagi pasar tradisional. Jika masyarakat di sana hobi berbelanja setiap akhir pekan, itu karena sistem kehidupan mereka telah mapan dan teratur dengan kondisi seperti itu setelah berjuang hidup di abad-abad sebelumnya. Sedangkan kita, kita baru merdeka belum ada seratus tahun, kita baru membangun, kita juga kadang masih ribut soal ideologi. Padahal sejak kita merdeka kitalah pemiliki modal tak terbatas itu. Realitanya, kita masih tetap menjadi negara yang banyak berhutang. Ironis.

Bagiku, itulah sebuah praktek kapitalisme yang sesungguhnya merusak masyarakat kita. Gaya hidup yang timbul tersebut membuat kasta-kasta sosial di masyarakat yang membuat mereka yang kuat akan terus menindas yang lemah. Hal itu diperparah dengan berbagai kebijakan aneh pemerintah. Contohnya program mobil murah ramah lingkungan. Meskipun ramah lingkungan tapi jelas itu sebuah kebijakan paling aneh sedunia untuk sebagian besar masyarakat yang lagi menjerit karena bodoh dan miskin ini. Bodoh membuat masyarakat terus tertindas dalam ketidaktahuan. Miskin membuat masyarakat yang bodoh tak mampu keluar dari status terburuk mereka saat ini.

Praktek ini semakin kuat dengan sistem feodal yang kembali menguat. Jika dulu ada tuan tanah yang memiliki banyak pasukan, kini tuan tanah itu adalah para pejabat mulai dari orang-orang di pemerintahan pusat hingga daerah yang rakus dan gila sumber daya alam. Mereka orang-orang yang terobsesi dengan kursi kepemimpinan namun tidak punya visi membangun masyarakat selain memang akan merampok sumber-sumber kekayaan daerah. Siapa yang bisa melawan mereka? Satu dua orang jujur sudah pasti akan dilempar ke jurang oleh mereka. Haruskah ada People Power lagi. Ngeri sekali.

bersambung …