Salam Perpisahan untukmu Malaysia

Pagi hari kami bangun dalam kondisi segar. Meskipun tadi malam kami baru sampai menjelang tengah malam. Kami tak berencana untuk kemana-mana pagi ini. Tentu saja, agenda kami berempat adalah Facebookan bergantian dengan salah satu laptop teman karena WiFi di asrama cukup kencang. Dan akhirnya, setelah empat hari berlalu, di hari kelima ini aku dan master Indrawan jajan di kantin universitas.

Kejutan yang kami terima adalah lagi-lagi penjualnya orang dari Indonesia. Pasangan pemuda asal Kartasura dan wanita Madura, mereka menjual teh tarik. Alamak, inilah potret mata pencaharian orang-orang kita di negeri orang. Kata Faqieh yang sempat berkunjung ke Universitas Islam Internasional Antarabangsa di Gombak, hampir seluruh cleaning service dan pegawai yang setara dengan itu diisi oleh orang-orang asal Indonesia. Ini bukan soal halal haramnya pekerjaan, tetapi barangkali sangat beralasan sekali jika orang-orang Malaysia ada yang merendahkan orang-orang Indonesia. Secara mereka memang telah menjadi tuan untuk para pekerja dari negeri kita (baca TKI).

Inilah rekor terkeren kami menjadi backpacker selama lima hari. Kami hanya memakan nasi tiga kali, pertama di Purple Cane Restaurant milik master San Chahua, kemudian ditraktir master Lee Chee Keong di Banana Leaf Singapura, dan terakhir makan nasi goreng plus ayam di kantin Universitas Malaya. Selebihnya kami selalu mengocok ENERICE dan ENERSOY untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus menghabiskan bekal roti yang kami beli dari Indonesia.

Hari menjelang siang, kami lambaikan tangan untuk kota Kuala Lumpur itu. Kami lambaikan tangan untuk Twin Tower dan KL Tower. Bus pun mengantarkan kami dari KL Sentral menuju KLIA – LCCT. Dan seperti umumnya, kami harus bersabar dengan antrian imigrasi yang panjang. Kami harus sabar pula melihat saudara-saudaraku sebangsa yang dikerjai para pegawai imigrasi lantaran status mereka sebagai TKI dan TKW. Memilukan memang, tetapi kami hanya bisa berbagi empati. Kami lebih beruntung dari mereka karena kami datang sebagai turis yang berlibur di negara tetangga itu.

Dengan pelayanan super ekonomis, seperti nama kelas bandaranya, LCCT (Low Cost Carrier Terminal), kami segera menaiki si burung besi berwarna kombinasi merah putih. Hanya saja, itu bukan milik Indonesia, karena dengan terang terlukiskan gambar bendera Malaysia di dekat kaca pilot. Iya, ini milik negara yang sedang kukunjungi. Pesawat itu pun melaju dan lepas landas meninggalkan bandara yang megah itu, meninggalkan negeri Melayu.

Kami terlelap dan menghitung waktu untuk kembali melihat tanah air kami. Meski ada rasa iri, kami tetap mencintai negeri kami sendiri, Indonesia. Apapun yang terjadi, kebanggaanku padamu tetap besar, Indonesiaku.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.