Epilog

Perjalanan lima hari di negeri Jiran ini benar-benar padat inspirasi. Sulit kulukiskan betapa luar biasanya kejutan-kejutan yang kami terima. Aku sendiri hanya bisa mengucapkan syukur atas segala ilmu dan inspirasi yang kuperoleh di sepanjang perjalanan. Sambutan keramahan, kebijaksanaan dari para master teh, inspirasi pembangunan negara, semua menjadi input bagiku sebagai generasi muda untuk belajar mencintai negeri sendiri.

Tak ada alasan bagiku untuk memasang sikap benci kepada negeri tetangga ini, meskipun terkadang mereka menghina-hina kita. Itulah ujian yang mendidik kita apakah terus meladeni hinaan mereka atas kebodohan dan keruwetan polemik kita sendiri, atau menjawabnya dengan kerja nyata menyusul ketertinggalan kita atas progres mereka. Aku setuju dengan Cikgu Chaerul, bahwa Indonesia adalah abangnya Malaysia. Maka sepantasnya kita mengambil pelajaran untuk insyaf dan berbenah ketika sang adik telah menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya.

Biarpun politik tetap bergejolak sebagai konsekuensi atas nafsu manusia yang ingin mengusai satu sama lain, tetapi semoga nasionalisme yang telah diperjuangkan sejak masa Syarikat Islam membangun National Congres (Natico) pertama itu kembali tumbuh. Belanda memang telah pergi, tetapi warisan penjajahannya masih tetap bercokol di banyak kepala orang-orang di negeri ini berupa sikap tamak, korup, dan enggan berkembang. Jadi di abad 21 ini kita hanya perlu mengulangi pergerakan nasional untuk membangun Indonesia yang benar-benar merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.