Putrajaya, Wajah Baru Malaysia

Tertinggal tiga orang saja, setelah dua juniornya Faqieh harus kembali ke Universitas Malaya untuk melakukan pertemuan dengan para ketua LDK di sana. Dengan perencanaan dadakan, kami putuskan untuk berkunjung ke Putrajaya, pusat administrasi pemerintahan Malaysia. Kota yang katanya dan menurut foto-foto yang kulihat di internet adalah Paris-nya Malaysia. Wajah baru Malaysia di abad milenium ini. Kami penasaran, semegah apakah kota yang dibangun dari nol itu.

Dengan mengeluarkan kocek 9,9 MYR kami menaiki Commuter Line menuju Putrajaya. Di sepanjang jalan, konsep apartemen yang kalau di Jakarta baru dicanangkan Jokowi, telah berjajar rapi di sini. Sehingga pemandangan rumah yang amburadul dan slum area semakin berkurang. Bahkan di Kuala Lumpur, sejauh aku memperhatikan sudut-sudut kota secara detil, sudah tidak ada lagi bangunan kumuh dan pojok-pojok derita seperti yang pernah kulihat di Jakarta.

Lagi-lagi ini bicara soal kemauan politik yang diikuti kecerdasan pola pikir. Kami berhak untuk geram dan marah melihat para pejabat di negeriku yang masih berkutat pada masalah transaksi politik. Studi bandingnya tak lebih sebagai tamasya gratisan dengan uang rakyat. Dan masih banyak hal-hal bodoh lain yang semakin menjijikkan jika diperhatikan. Baru-baru ini, sebagian insan akademis juga mulai dimabuk dengan gelontoran dana besar. Bukannya digunakan untuk menghasilkan aksi perbaikan bangsa yang nyata, malah buat bancaan untuk memperkaya diri sendiri. Lalu, seberapa efektifkah nanti untuk pembangunan? Karena ini berbicara soal detil penguasaan wilayah, perumusan solusi, dan dikunci dengan kemauan politik. Tanpa itu, demokrasi di negeri kita hanyalah sebuah toko, dengan politik sebagai aturan bisnisnya. Lalu apa yang dijual? OMONG KOSONG. Yah, kita masih menikmati suasana jual beli OMONG KOSONG ini. Semoga kaum cendikia muda mulai berjuang untuk menghancurkan etalase bisnis OMONG KOSONG yang masih mencengkeram parlemen dan birokrasi Indonesia hari ini.

Kereta listrik cepat itu berhenti di Putrajaya Sentral. Beberapa waktu kami kebingunan hendak kemana karena ternyata Putrajaya jauh lebih luas kawasan wisatanya dibanding Kuala Lumpur. Harusnya kami mengagendakan kunjungan ke kota ini sehari penuh. Sayangnya kami datang ke sini saat matahari telah mask ke peraduannya. Artinya kami hanya punya waktu maksimal 4 jam dari sekarang jika tidak ingin ketinggalan kereta terakhir ke KL Sentral, atau kami harus membayar mahal biaya kembali ke sana dengan moda transportasi lainnya.

Kami memutuskan tiga tempat saja untuk dikunjungi, Jembatan Seri Wawasan dengan satu penyangga dan Masjid Putra. Bus nomor 29 mengantarkan kami di kawasan itu dan menghentikan dekat kawasan jembatan yang hanya sering kulihat di internet. Masya Allah, benar-benar kota yang indah. Aku ternganga menyaksikan gemerlap lampu yang begitu teratur dan indah di semua gedung yang tidak terlalu tinggi namun kental dengan corak Islamnya. Kota ini bak produk arsitektur modern Islam di era milenium ini.

Di sini, aku mempraktekan hasil kuliah fotografiku yang panjang kemarin. Dengan menggunakan kameraku sakuku sendiri, ternyata aku justru menghasilkan gambar-gambar yang lebih indah di malam hari dibandingkan dengan kamera SLR yang dibawa Gurunda Indrawan Yepe. Tetapi dalam soal komposisi, aku masih harus banyak melatih kemampuan fotografiku yang sebelumnya masih sangat asal-asalan itu.

Kutatap lekat-lekat setiap detil kota Putrajaya yang bersinar malam itu. Hiasan lampu yang tertata apik dalam nuansa kota modern yang dirancang dari nol itu membuatku berdecak kagum. Benarlah, ini mungkin Parisnya Malaysia. Sebuah pusat administrasi pemerintahan yang tidak hanya menyajikan kenyamanan dalam pelayanan kenegaraan, tetapi juga membuat para wisatawan puas untuk berjalan-jalan mengelilinginya.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.