Surau Penjara Pudu & Cikgu Chaerul

Usai berselancar di dunia maya, kami segera check out dari hotel spesial kami. Sebelum ke Hotel Shangrila yang letaknya cukup jauh dari tempat kami, kami singgah dulu di Surau Penjara Pudu. Tanpa sengaja kami di sapa oleh seorang yang sangat ramah. Gayanya menunjukkan bahwa dia warga kelas menengah. Pembicaraannya menunjukkan tingkat intelektualitasnya yang tinggi. Dan beliau memberikan kata kunci bahwa Indonesia – Malaysia adalah saudara. Indonesia adalah Abang, Malaysia adalah adik. Ahaa, ini diplomasi tingkat tinggi orang Melayu. Maka beliau jelas bukan orang kelas rendah di negeri itu.

Benarlah, beliau adalah seorang guru matematika(kami panggil cikgu). Namanya Muhammad Chaerul, keturunan Melayu asli. Alumni Universitas Islam Internasional Antarabangsa, rahim terlahirnya para munsyid yang kusukai lagu-lagunya, Inteam dan UNIC. Rupanya beliau sedang libur dari mengajar karena akhir tahun ini para siswa sekolah menikmati libur akhir tahun yang waktunya lebih dari sebulan. Enaknya, di Indonesia kapan ya?

Dari beliau kami mengetahui bahwa dahulunya Surau ini adalah tempat peribadatan yang tepat berdiri di tepi penjara Pudu yang kini telah dihancurkan. Dahulunya penjara Pudu adalah tempat yang digunakan para tentara Jepang untuk mengeksekusi para tawanan Belanda dan pemberontak. Mereka dipancung dan dihabisi di penjara itu. Kami hanya melihat batas seng, tanda akan dibangun gedung baru di situ. Sementara bangunannya telah diratakan dengan tanah oleh alat berat. Maka Surau tersebut adalah saksi sejarah yang tersisa untuk kekejaman masa lalu yang pernah terjadi.

Bagaimana pun, kami tercengang dengan Surau yang setara dengan masjid-masjid jami’ di tingkat kecamatan. Imam dan muazin di masjid ini memiliki mobil sendiri-sendiri yang terparkir di tempat parkir khusus dengan tulisan KHAS IMAM, KHAS MUAZIN. Aku tidak sempat bertanya apakah ini fasilitas masjid atau mobil pribadi. Tapi besar dugaanku bahwa ini adalah fasilitas masjid. Sangat masuk akal mengingat aku pernah membaca salah satu masjid mewah di Malaysia, para imam dan muazinnya mendapatkan gaji yang sangat besar dari pengurus.

Surau itu pun dilengkapi dengan fasilitas lengkap untuk belajar. Kitab-kitab al-Quran dengan berbagai terjemahan, mulai dari Melayu, Inggris, hingga Urdu tersedia untuk para jamaah yang datang belajar. Wow, itulah hal yang masih belum terjadi di kebanyakan masjid kita. Bahkan dana infak masjid kadang-kadang masih ada yang dikorupsi sebagian kecil pengurus masjid. Menyebalkan sekali. Nah, cukup sekian dulu kisah tentang Surau Penjara Pudu dan Cikgu Chaerul.

Kunjungan kedua kami di Surau Penjara Pudu diakhiri dengan shalat jenazah dan doa untuk saudara kami asal Bangladesh yang meninggal. Puluhan orang dari berbagai suku bangsa dan negara menshalatkan jenazah yang tidak kami kenal itu. Kami hanya meyakini bahwa kami sama-sama telah bersyahadat, maka itulah jaminan bahwa kami bersaudara.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.