Kami Nak Kemana Lagi?

Kami bangun agak kesiangan untuk ukuran Indonesia. Tapi karena waktu Malaysia adalah WITA, maka jam 6 kami bangun, itu masih jam 5 di WIB. Adzan subuh dikumandangkan 15 menit yang lalu. Kami telah terlambat dan hanya menunaikan shalat di kamar sendiri. Kamar yang dilengkapi AC dan kamar mandi dalam itu rupanya telah memanjakan malam kami hingga kami terlambat.

Kami bingung dengan pagi ini. Mau sarapan? Ah jangan. Mahal. Akhirnya kami mulai mengocok ENERICE dan ENERSOY lagi setelah kami buka kemarin di Surau Penjara Pudu. Pagi ini kami harus bisa online untuk menghubungi orang-orang kenalan Pak Indrawan di Malaysia agar mendapatkan tumpangan menginap sekaligus cerita tentang Kuala Lumpur dari sudut pandang orang Indonesia. Selain itu, kami juga akan berkomunikasi dengan James, teman pak Indrawan yang menjadi panitia Global Peace Festival di Hotel Shangrila, Kuala Lumpur.

Kami akhirnya keluar untuk membeli minum setelah bekal minum kami habis. Tanpa sengaja kami menemukan ada warnet di kawasan pasar lokal. Pin Press yang melekat di tas kami rupanya membuat penjaga warnet menyelidik kepada kami. Apalagi kami membawa kamera. Ada apakah gerangan? Warnet tersebut sebenarnya adalah pintu masuk sebuah kasino. Nah, di situlah kami dapat kejutan untuk online gratis sepuasnya. Rupanya sang pemilik berusaha membungkam wartawan dengan tawaran gratisannya. Yah, kebetulan yang bagus, karena kami juga pelit untuk membayar. Tenang Pak, kami bukan wartawan sungguhan. Kami hanyalah pegiat majalah Aitam yang sedang berwisata ke negeri Anda. Di warnet ini kami berkenalan dengan orang Indonesia yang bekerja di warnet tersebut. Alex namanya, pemuda asal Pontianak yang mencari penghidupan di kota ini.

Jadi pagi ini kebingungan kami terjawab dengan aktivitas online. Yah, online membuatku lupa dengan banyak masalah. Kami menikmati koneksi warnet yang sangat cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan warnet-warnet di Solo dan Wonosari yang pernah kumasuki.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.