Satu Hari di Bandara Internasional Adisucipto
Kereta Sriwedari mengantar kami dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Maguwo yang tepat berada di depan Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta. Itu kali keduaku berkunjung ke bandara udara di ibukota Provinsiku, DIY setelah sebelumnya aku mampir dalam perjalanan pulang dari Berau menuju markas Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Bogor.
Bersama gurunda Indrawan Yepe, jelaslah ada banyak pelajaran yang kuambil di sepanjang perjalanan. Pengalaman beliau di masa muda menarik di simak menjadi inspirasi di awal perjalanan dan masa tunggu di Bandara yang sudah mulai penuh itu. Datang pula Ikhsan, rekan komunitas Pintu yang kuliah di FISIPOL UGM membawakan makan siang untuk kami Menyusul berikutnya Satria Budi Kusuma, rekan komunitas Pintu yang baru pulang melanglang buana dari negeri sakura, menjadi mahasiswa undangan di tiga universitas ternama di sana. Wow banget kan. Inilah momen-momen belajar yang tidak akan tergantikan sekalipun dengan nominal uang berapa pun jumlahnya.
Kami menghabiskan siang yang bosan itu di Bandara Adisucipto. Rupanya pembangunan bandara baru di Kulon Progo adalah solusi yang harus segera diwujudkan karena ruang tunggu bandara itu semakin penuh. Gambaran itu memberi gambaran padaku setidaknya pada dua hal. Pertama, mobilitas masyarakat Indonesia hari ini semakin tinggi. Kedua, masyarakat kelas menengah semakin banyak karena mereka mampu membeli tiket pesawat. Yang jadi masalah adalah potensi ini akan menjadi boomerang jika pemerintah Indonesia membiarkan perputaran uang itu mengalir ke luar negeri karena owner perusahaan pelayanan publik dimiliki oleh orang-orang asing.
Kejutannya adalah ternyata biaya penumpang untuk penerbangan internasional telah naik menjadi 100ribu rupiah saudara-saudara. Berikutnya adalah sambun cair dan sampo cair yang kubawa untuk mandi di sana (jika ketemu tempat mandi gratis) harus tertahan di pemeriksaan karena aku sengaja tidak membagasikan tasku. Aku memilih membawa tas backpakerku ke kabin pesawat dengan konsekuensi tanpa perlengkapan mandi yang utama itu. Sudahlah, nasib yang tidak beruntung. Semua harus kutinggal sebelum menaiki si burung besi. Catat ya, batas cairan yang boleh di bawa ke atas kabin maksimal 1000 ml. Aku sebenarnya tahu hal itu, tetapi karena pikirku dibawa ke kabin, maka aku harus mengalah. Mengalah lebih bagus ketimbang membagasikan satu paket peralatan mandi. Ha ha ha.
Dan setelah melewati pemeriksaan imigrasi dengan cepat (maklum sesame Indonesia) kami pun memulai perjalanan ini. Subhanalladzi sakharallanaa hadzaa …… buka surat Az-Zukhruf ya.
bersambung ….





