Rupiahku yang Malang
Alhamdulillah, besok pagi adalah masa yang kutunggu untuk mengulang perjalananku ke mancanegara. Kenangan Eropa yang selalu menginspirasi itu membuatku haus untuk kembali jalan-jalan. Tapi maaf ya, ini bukan sekedar hura-hura, melainkan melepas kebosanan di negeri sendiri yang terkadang membuat kita masa bodoh karena usaha kita tak kunjung berbuah. Maka perjalanan ini adalah penyegaran pikiran dan mencari inspirasi baru untuk membuat perubahan bagi diri dan menularkannya pada orang lain.
Hampir dua bulan yang lalu, gurunda Indrawan Yepe menawariku agar menemaninya jalan-jalan ke Kuala Lumpur dan Singapura. Kebetulan pas ada uang, dan ternyata harga tiket pesawat pergi-pulang pun masih terjangkau. Akhirnya kuputuskan untuk ikut dengan harapan dapat belajar lebih banyak lagi tentang hidup ini. Bismillah, setiap perjalanan pasti akan menjadi inspirasi jika diniatkan dengan benar. Dan besok adalah jatuh tempo untuk rencana yang telah kupastikan dengan tiket pesawat Air Asia itu.
Saya terhenyak dengan nilai tukar rupiah terhadap Ringgit Malaysia (MYR) dan Dolar Singapura (SGD). Betapa tidak, beberapa bulan lalu, 1 MYR masih berada pada kisaran 2500 – 3000 rupiah dan 1 SGD masih berada pada kisaran 7500 – 8000 rupiah. Ternyata hari ini ketika aku menukarkan rupiahku untuk uang saku harganya sudah melambung. Artinya rupiah benar-benar anjlok terhadap kedua mata uang itu, senasib terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Aku mendapatkan pedagang valuta asing (Valas) bersertifikat yang menjual 1 MYR dengan 3800 rupiah dan 1 SGD dengan 9800 rupiah. Aku harus merogoh kocek lebih banyak hingga akhirnya kuperoleh 200 MYR dan 50 SGD. Pelajaran berharganya adalah jika Anda mau plesiran ke luar negeri dengan pengiritan tingkat tinggi, pantau perkembangan nilai tukar rupiah dan tukarkan secepat mungkin saat rupiah sedang menguat.
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah bawa obat-obatan secukupnya, terutama obat-obat anti kembung dan pusing selama perjalanan. Tolak Angin dan vitacimin ku borong dalam jumlah banyak untuk menjadi teman sepanjang perjalanan 5 hari ke depan. Dan atas tips canggih gurunda, kami membeli dua paket minuman berenergi, ENERICE dan ENERSOY. Enerice adalah minuman sari beras merah yang menjadi sumber energy selama perjalanan nanti. Enersoy adalah minuman sari kedelai. Jadi kami sengaja tidak akan jajan kuliner tiap hari (biar bisa super irit). Kami akan “mengocok” tiap hari saja demi memenuhi kebutuhan energi. Di samping praktis, kami juga tidak akan sering kecapaian karena isi perut yang kebanyakan, juga sering ke belakang untuk bongkar muatan.
Tips lain yang tidak kami lakukan karena waktu yang mepet adalah membeli bekal biscuit tentara. Para tentara mendapat jatah biscuit tiap bulan. Tetapi karena jika tidak tugas tidak dikonsumsi akhirnya dijual. Kata gurunda, biscuit itu dapat dibeli di toko kawasan Kandang Menjangan (markas kopassus). Meskipun biskuit berenergi tinggi, harganya terjangkau. Cukup makan secuil, begitu dikasih minum ia akan mengembang menjadi sumber energi yang hebat di dalam tubuh kita. Secara biskuitnya para serdadu gitu loh. Tapi ini belum kucoba sendiri. Baru menjadi teori yang akan kuaplikasikan di waktu yang akan datang.
Maka dengan menyebut nama Allah, perjalanan backpaker edisi spesial akhir tahun ini kumulai. Besok pagi kami akan segera memulai perjalanan menumpang Air Asia. Itu akan menjadi pengalaman pertamaku menaiki maskapai itu. Soalnya di berbagai kesempatan sebelumnya aku tidak pernah membookingnya. Gimana ya rasanya menaiki maskapai yang sering bikin kejutan dengan harga tiketnya yang super murah itu. Pasti sesuatu banget.
bersambung …





