Presiden Negarawan: Introspeksi diri Ala Abah Iwan

Setelah hampir 1,5 jam melintasi jalan dekat yang mampat itu, akhirnya kami berhasil mencapai gerbang samping Universitas Padjajaran. Kampus yang masih mewarisi nama salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di pulau Jawa bagian barat itu pun akhirnya dapat kukunjungi. Di sini, salah satu novelis kesukaanku, mas Ahmad Fuadi menamatkan sarjananya hingga akhirnya dapat menuliskan Trilogi Negeri 5 Menara yang begitu inspiratif itu.

Begitu memasuki ruang seminar, kami telah disambut dengan orasi penuh semangat dari Abah Iwan, sosok keren yang bernama lengkap Ridwan Armansjah Abdulrachman. Alumni Universitas Padjajaran yang begitu tersohor sebagai orang penting di Wanadri yang berhasil menaklukan tujuh puncak tertinggi di dunia (The Seven Summit). Beliau juga seorang pencipta lagu-lagu inspiratif seperti Mentari, Burung Camar, Melati dari Jayagiri, Flamboyant, Detik Hidup, Seribu Mil Lebih Sedepa, Hymne Wanadri, Hymne Unpad dan sebagainya.

Apa yang beliau sampaikan? Tentu saja karena konteksnya hari ini membedah buku Presiden Negarawan maka beliau menyampaikan refleksi perjalanannya menyusuri alam dengan kecintaan terhadap Indonesia ini. Hal yang beliau munculkan adalah tentang konsep negarawan yang kini telah hilang. Sebuah jawaban yang pernah digunakan khalifah Ali untuk membungkam para khawarij pun beliau angkat.

Dalam masa yang penuh fitnah ketika itu, para khawarij (orang-orang yang memilih keluar dari baiat terhadap Ali, juga menentang Muawiyah) merutuki khalifah dengan pertanyaan, “Dahulu ketika zaman kepemimpinan Rasulullah, kehidupan begitu tentram dan damai. Mengapa di zamanmu kepemimpinanmu, kehidupan menjadi kacau dan penuh dengan fitnah seperti ini?“. Khalifah Ali pun tersenyum menjawab, “Di masa Rasulullah memimpin, rakyatnya adalah orang-orang yang seperti aku. Sementara di masa aku memimpin, rakyatnya adalah orang-orang yang seperti kalian“.

Ibrah yang beliau tekankan adalah bahwanya membentuk jiwa negarawan itu hakikatnya bukan menuntut, tetapi introspeksi diri apakah kita telah menumbuhkan sikap-sikap sebagai negarawan sejati. Karena bagaiama keadaan suatu kaum, maka seperti itulah pemimpinnya nanti. Jadi sunnatullahnya adalah ketika negeri ini tak kunjung sembuh dari lukanya karena orang-orang yang berada di atasnya juga masih banyak yang melakukan keusakan, terutama mereka yang seharusnya menjadi pelopor perbaikan. Maka bagi negeri ini, diberikanlah pemimpin yang merepresentasikan kondisi rakyatnya.

Dengan semangatnya yang berapi-api meskipun usianya telah mencapai 66 tahun, beliau masih tampak gagah. Bahkan beberapa waktu lalu, beliau masih melakukan pendakian ke puncak-puncak di Indonesia. Dan terakhir beliau merayakan ulang tahunnya yang ke-66 di puncak Mahameru yang sangat terkenal itu. Jadi malu rasanya yang sudah segede gini, satu puncak pun belum berhasil kuraih.

Tak lupa syair-syair yang telah beliau gubah dinyanyikan disela-sela orasinya. Sebagai alumni dari Universitas Padjajaran (yang mungkin juga dosen di situ, hanya perkiraan saja), beliau menyampaikan hal-hal yang tentang manfaat aktivitas berorganisasi bagi mahasiswa. Para peserta yang mayoritas adalah orang-orang Unpad, ditambah perwakilan BEM SI dan kami para pendatang dadakan yang berhibur usai bertualang di pedalaman tampak begitu antusias dengan orasi beliau yang mengalahkan para senior yang hobi teriak-teriak saat osmaru.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.