Macet

Jatinangor di pagi hari tampak begitu lengang. Tak terdengar bising suara kendati bumi perkemahan Kiarapayung tengah ramai dikunjungi para siswa yang sedang mengadakan kemah. Di bawah sana, hari ini akan digelar bedah buku Belajar Merawat Indonesia angkatan ketiga yang bertajuk Presiden Negarawan. Tentu saja kami akan ke sana untuk mengikuti momen yang spesial itu.

Lagi-lagi perjalanan menuju ke rektorat Universitas Padjajaran pun mengalami hal aneh (kalau tidak dibilang lucu). Jalan menurun dan sebenarnya standar untuk dua mobil yang saling berpapasan itu pun mengalami macet total. Bahkan para pejalana kaki pun bisa mengalami kemacetan. Pasalnya pasar minggu pagi yang semula berada di kawasan bawah sebelum kampus ITB dibangun dialihkan ke atas. Para pedagang dengan santai memasang dagangannya di pinggir jalan. Dampak kemacetan itu mungkin ada baiknya bagi para pedagang karena para pembeli dapat singgah di samping untuk membeli dagangannya. Tapi kami yang sedang menaiki sepeda motor pun memilih turun dan jalan kaki ke kampus, sementara sahabat yang mengantar kami harus rela bersabar keluar dari kepungan kemacetan paling aneh sedunia itu.

Aku hanya geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin hal ini dibiarkan terjadi tiap pekan. Pasar tumpah seperti ini jelas lucu dan aneh karena pasti akan timbul kemacetan yang parah. Kasihan lihat anak-anak kecil yang dibonceng meraung-raung dalam tangisnya. Dan tentu saja minggu pagi yang seharusnya dipenuhi udara segar karena di lereng perbukitan nan sejuk itu menjadi kotor dengan polusi akibat mobil dan motor yang tidak mampu berjalan dengan semestinya.

Paling tidak solusinya ada pengalihan jalur sehingga yang lewat di situ hanya arus searah, terutama yang naik. Untuk yang turun gunung bisa menempuh jalan lain di sebelah timur. Tapi tak tampak sama sekali polisi atau petugas dinas perhubungan yang terjun melihat kemacetan rutin yang sangat tidak masuk akal ini. Benarkah negara ini berperan untuk masalah pengaturan rakyat? Contoh kecil di titik Jatinangor ini menjadi sebuah bukti bagaimana aparat abai terhadap kepentingan umum. Dan kami pun hanya gigit jari karena kami akan mengikuti seminar yang bertajuk Negarawan Muda. Jangan-jangan kami hanya ingin keluar dari realita lalu naik menuju menara gading. Menara yang membuat orang banyak berbicara tentang berbagai teori untuk menghabiskan anggaran tapi tak melakukan hal yang semestinya dapat dilakukan.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.