Bandung, I’m Coming

Pagi-pagi kami sudah bersiap untuk melakukan perjalanan baru. Yah, satu setengah hari cukup lah untuk mengistirahatkan tubuh kami yang pegal-pegal oleh pesawat dan mobil yang terjebak kemacetan kemarin. Hari ini kami akan melanjutkan rangkaian dari wisata edukasi luar biasa ini ke salah satu kota yang pernah dijadikan ibukota Belanda dahulu, Bandung. Yang pada zaman Gubernur Jenderal Daendels disebut Paris Van Java.

Ini adalah kali keduaku mengunjungi kota ini. Bedanya, dahulu aku datang ke pusat kotanya yang ramai di kawasan kampus Institut Teknologi Bandung. Sekarang kami akan menuju kawasan pinggiran yang terletak di dataran tinggi, Jatinangor yang dekat dengan Universitas Padjajaran. Dengan mobil rental yang dikendarai sang sopir yang soleh (dari penampilannya), kami pun melewati jalan tol yang kanan kirinya tampak ada bukit-bukit bernama yang sepertinya itu sudah bukan miliki masyarakat pribumi lagi.

Tiga jam mobil terus melaju dengan kencang di atas tol ini hingga akhirnya sampai pada sebuah kawasan yang sejuk. Meskipun siang itu cukup terik, tapi sapuan anginnya yang lembut membuat terik matahari pun seolah tergantikan oleh  kesejukan yang dibawa angin itu. Alam bergerak tenang, kehidupan tampak mati dalam sepi meskipun siang hari. Hiruk pikuk kota dan klakson kendaraan bermotor sepertinya tak boleh sampai di sini. Inilah kawasan Bumi Perkemahan Kiarapayung. Kami tidak datang untuk camping, tapi kami bermalam di pusat pelatihan yang berdiri megah di depan gerbang menuju bumi perkemahan tersebut.

Kami disambut dengan hangat oleh supervisor dan para fasilitator yang sudah berada di tempat itu sehari sebelumnya kemarin. Senyum sumringah mereka, terutama fasilitatorku yang dari Solo itu pun mengobati rasa kangenku setelah sekian lama tidak bertemu. Sosok yang kuanggap seperti kakak sendiri itu ternyata diam-diam akan segera menyempurnakan agamanya di hari yang dekat nanti. Oh, ternyat selama ini kakak telah melakukan serangkaian proses panjang untuk merajut kebahagiaan itu. Barakallah ya kakak.

Tak banyak yang kami lakukan selain kemudian makan siang dengan lahap dan istirahat di kamar sambil melepas rindu dengan rekan-rekan yang ditempatkan di daerah lain. Hal-hal yang konyol pun dilakukan untuk menghabiskan siang kami yang dilewati dengan rasa bosan di mobil. Mungkin hanya aku yang menikmati karena bisa berbincang puas dengan salah satu teman lama yang mungkin jadi “sesuatu“ pada hari itu, padahal aku sudah lama sekali tidak menghubunginya. Yah, alasannya karena aku tidak punya urusan lagi.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.