Hari kelima lebaran, aku sudah merasakan kondisi badanku yang lebih baik. Hari itu salah satu sahabat kecilku mengajakku jalan-jalan. Akhirnya aku mengajak adikku, Yusuf ke pantai selatan bersama dua sahabat sepermainan di waktu kecil. Selain itu, bibi yang dulu sering momong aku ketika kecil pun ikut bersama suami dan anaknya.

Perjalanan hari ini sebenarnya seperti lebaran tahun lalu. Ke tempat yang hampir sama, Pantai Sundak, hingga Baron. Namun kali ini kunjungan kami lebih lengkap mulai dari Pantai Indrayanti, Pantai Sundak, Pantai Krakal, Pantai Kukup, dan ditutup Pantai Baron. Yang tidak biasa adalah ini merupakan reuniku dengan dua sahabat kecil ketika SD maupun waktu TPA.

Kami bertiga seperti bertemu kembali dengan keadaan masing-masing yang baru. Aku seorang mahasiswa yang masih belajar untuk serius mengerjakan tugas akhir agar segera lulus. Rian kini telah bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Lampung. Sedangkan Riswan kini bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Cikarang Bekasi. Bagaimanapun kami berbeda, tentu akulah yang merasa paling ga jelas di sini jika ditinjau dari sudut pandang orang-orang di dusunku sendiri.

Tapi hari ini, semua kulupakan dengan menikmati birunya pantai selatan. Debur ombak yang lebih ganas dari biasanya menjadikan kami begitu asyik menikmati kemegahan ciptaan Allah yang luar biasa itu. Ombak Samudera Hindia adalah ombak kematian yang kerap kali menyeret para pengunjung yang terlalu bermain ke tengah. Hal itu disempurnakan dengan mitos bahwa Nyi Roro Kidul yang menjadi penguasa pantai selatan sering meminta tumbal.

Ah aku jadi ingat ketika masih SD dahulu, kami satu desa termakan mitos yang konyol itu. Hampir semua anak-anak SD saat itu berkalung bambu gading, bawang, dan dringo agar tidak diambil oleh Nyi Roro Kidul. Ada-ada saja berita konyol itu. Sebagai anak kecil dalam kondisi masyarakat yang masih kental dengan mitos aku pun takut ketika itu. Kini aku selalu tersenyum ketika teringat akan hal itu.

Ketika sampai di pantai Baron, mereka semua menikmati air payau dari sungai bawah tanah Gunungkidul yang mengalir ke pantai selatan. Karena aku baru saja pulih dari sakit beberapa hari kemarin, aku memilih jadi penunggu tas dan perbekalan saja. Mereka menikmati nuansa bermain air di kawasan bibir pantai yang merupakan pertemuan air laut dan air tawar itu. Suasana di pantai ini sangat ramai, paling banyak dari semua pantai yang kami kunjungi hari ini.

Permainan kami hari ini pun berakhir bersama senja yang hadir. Kami terpisah diperjalanan. Aku pun memutuskan untuk mampir di Masjid Agung Kota untuk berkunjung kepada sang guru namun rupanya hari ini beliau masih di kampung halamannya. Ya sudahlah, aku kunjungi angkringan favorit selama di pondok dahulu. Ternyata beliau masih ingat denganku. Ceker goreng yang menjadi favoritku saat itu pun kembali kunikmati di tengah suasana kota yang sudah mengalami beberapa perubahan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.