ranah3warnaHari keempat lebaran, kembali kubuka Novel Ranah 3 Warna, buku kedua Trilogi Negeri 5 Menara. Novel yang lebih tepatnya menjadi parafrase kisah nyata kehidupan Ahmad Fuadi yang dituliskannya dalam bentuk novel panjang dengan nama pelaku Alif Fikri itu memberikan sebuah pengingat untuk perjalanan yang tengah kualami saat ini. Jika di novel Negeri 5 Menara lebih banyak diceritakan tentang kisah kehidupan pesantren yang dinamis, di novel Ranah 3 Warna ini lebih banyak diceritakan pahit getirnya menjalani masa kuliah di Bandung.

Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini menceritakan bagaimana dengan segala keterbatasannya dirinya berjuang agar dapat kuliah. Di tengah sulitnya mencari uang untuk menghidupi dirinya selama kuliah, ujian pun datang dengan kematian sang Ayah. Hingga akhirnya dirinya menemukan labuhan perjuangannya di dunia tulis menulis. Tulisannya satu demi satu mulai merambah media massa.

Ada mimpi lainnya yang pernah terucap di bawah menara masjid sewaktu di pondok pesantren dulu, yakni ke luar negeri. Berkat kegigihannya untuk mencari informasi dan kemampuan bahasa Inggris yang telah diasah sewaktu di pesantren akhirnya dia dapat mengikuti program pertukaran mahasiswa. Satu kesempatan ia genggam untuk bisa mengunjungi Kanada, tepatnya di Quebec, sebuah kawasan Kanada yang masyarakatnya berbahasa Perancis.

Ketika kurefleksikan dalam kehidupanku saat ini, bukankah aku juga pernah merasakan kehidupan pesantren walaupun tak seutuh dan sebaik beliau ketika di Gontor. Bukankah aku juga pernah mendapatkan hadiah untuk mengunjungi tanah Eropa. Dan bukankah akhirnya kusadari bahwa kemampuan utama yang kumiliki adalah menulis. Oh, inikah yang dimaksud dengan belajar dari orang-orang yang telah mengukir sejarah lebih awal.

Bahkan dalam novel keduanya ini, bang Fuadi dengan sangat gamblang memberikan pelajaran tentang konsep percintaan yang baik bagi remaja. Dengan tanpa memberikan kesan menggurui beliau memberikan contoh bagaimana dirinya bersabar untuk menyampaikan maksud hatinya untuk meminang sang belahan jiwa pada waktu yang tepat. Katakan cinta di saat yang tepat, di saat siap untuk membangun mahligai rumah tangga.

Dan itulah sesungguhnya sesuatu yang realistis untuk dipahami generasi muda hari ini yang gampang berpacaran padahal belum ada keseriusan untuk menikah. Bukanlah hal yang salah jika saat ini kita memiliki ketertarikan, bahkan mungkin si dia menjadi orang yang kita idamkan. Tapi jika tidak kita persiapkan diri kita dan luruskan niat kita justru semua itu akan menjadi lubang bunuh diri bagi kita. Maka pelajaran berikutnya adalah bagaimana sosok Alif Fikri tetap bersabar ketika Raisa, gadis yang dia idamkan sebagai istrinya ternyata lebih dahulu dilamar sahabat dekatnya, Randai.

Itulah Ranah 3 Warna, perjalanan seorang anak desa yang memiliki mimpi besar hingga akhirnya menjadi kenyataan. Ke luar negeri bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena manusia memang diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal satu sama lain. Man shabara zafiran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.