Tak ada alasan untuk kita tidak bersyukur dilahirkan di negeri yang dipuji sebagai Pulau Kelapa nan indah permai. Negeri yang kekayaannya tak terbendung banyaknya. Negeri yang tidak ditata saja sudah sangat indah karena telah Allah tata untuk kita. Negeri yang telah mengajarkan hidup kebersamaan dalam berjuang. Negeri yang tetap kaya meski diperas Belanda 350 tahun. Sungguh perjalanan hari ini membuatku sangat malu ketika masih banyak mengeluh, apalagi masih mahasiswa. Terlebih ketika aku menginjakkan kaki di situs Peninggalan Kiyai Ageng Gribig untuk berbagi inspirasi kepada adik-adik Rohis. Situs yang sangat indah berhias sungai-sungai dengan bebatuannya.

Apa yang kubagikan ke adik-adik adalah apa yang kurefleksikan di sepanjang perjalanan pagi itu. Termasuk bagaimana hari ini remaja muslim mulai hilang ke-PD-annya sebagai seorang muslim. Rasa malu menunjukkan identitas diri sebagai seorang muslim lantaran takut mendapat celaan macam-macam, padahal melakukan saja belum. Justru itulah hal aneh ketika saat ini pemuda muslim diharapkan menjadi generasi pemimpin umat, di tengah umat yang saat ini jauh dari pengajaran ulama, jauh dari masjid, dan tenggelam dalam taklid buta pada ulama-ulama mereka. Jurang-jurang perbedaan yang tidak bisa disikapi sebagaimana ulama-ulama di masa lalu mengajarkan cara terbaik adalah bukti bahwa bangsa ini belum dewasa dan masih hobi menikmati pertikaian dan sengketa. Hobi menghujat tanpa solusi, hobi mencaci tanpa ada jejaring dialog yang konstruktif.

Termasuk juga sikap keras kepala para penganut aliran-aliran sesat yang membuat kabur pemahaman umat yang bodoh. Dinasihati ulama masih saja keras kepala sehingga sebagian umat Islam yang marah harus mengambil tindakan main hakim sendiri karena pemerintah yang juga tidak memiliki sikap yang jelas dalam melindungi hak-hak beragama kaum muslimin dengan jelas dan tegas. Kasus kekerasan kepada Syiah dan Ahmadiyah dan mungkin yang lain adalah bukti bagaimana umat Islam marah atas para penganut aliran sesat yang keras kepala. Islam tidak mengenal adanya perpecahan dalam akidah. Akidah Islam hanya satu, ahlus sunnah wal jamaah, sedangkan akidah Syiah dan Ahmadiyah jelas menyimpang dari akidah Islam, maka hanya dua pilihan bagi yang seperti itu, kembali ber-Islam dengan baik atau mereka secara tegas menyatakan bukan bagian dari Islam, maka sebenarnya masalah selesai. Sayangnya Komnas HAM dan lembaga-lembaga kerukunan umat beragama yang tidak memahami inti ajaran Islam, termasuk pendapat-pendapat para pemikir Islam liberal menjadi penyedap rasa yang membuat masalah yang sebenarnya sederhana itu tak kunjung selesai dan ujung-ujungnya untuk menambah citra buruk umat Islam.

Setelah acara berbagi selesai, aku sempatkan untuk menikmati keindahan alam di situs bersejarah itu. Tempat yang didominasi rumpun bambu menjadi sangat sejuk meskipun di siang hari. Tentang Kyai Ageng Gribig, silahkan baca tulisan ini. Setelah puas menikmati keindahannya, perjalanan pulangku pun ternyata dilewatkan di kawasan desa wisata MinaPolitan Kabupaten Klaten yang selama ini belum kuketahui. Aku tak heran mengapa kabupaten ini sangat kaya, dan menjadi kepala daerah merupakan obsesi yang rela dikejar dengan investasi miliaran rupiah.

Perjalanan hari ini berakhir dengan kepulanganku ke Solo. Kali ini dapat tempat duduk, dan salah satu kebiasaanku berkendara adalah tidur. Dan sampailah aku di kota keduaku itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.