Bertemu Sahabat Lama

Pagi pun menjelang di permulaan tahun baru 2013 ini. Hemm, seperti biasa di kawasan yang tidak seideal warga Jakarta ini tinggal tentu aku tidak akan menuntut untuk dihidangkan teh seperti kebiasaan ibu di rumah, atau membuat berbagai makanan yang lezat ketika di apartemen Gastehauss Bergische Universitat Wuppertal. Aku malah merasa tidak enak karena mereka harus repot-repot menyiapkan sarapan pagi buatku.

Ah, dari pada aku semakin merepotkan mereka, sebaiknya aku segera keluar rumah seharian untuk berkelana diibukota negara ini. Akhirnya aku membuat janji dengan seorang sahabat lamaku yang telah bertahun-tahun di sana dan kabarnya sekarang sudah bekerja di Departemen Keuangan RI. Wow, amazing banget, padahal aku lulus aja belum. Kami bertemu di Harmony (stasiun pusat pemberhentian Busway Jakarta. Jadi ingat Wuppertal Hbf deh. Mirip modelnya tapi jauh beda lah bentuk dan kualitas pelayanannya. Tapi aku bersyukur dan senang sekali dengan model seperti ini yang telah dimulai di Jakarta ini. Optimis deh Indonesia akan benar-benar menjadi negara maju suatu saat.

Singkat cerita, temanku tadi mengajak temannya yang juga temanku dulu (ga pusing kan). Dia juga bekerja di Departemen Keuangan. Hemm, merasa malu nih lum kerja sendiri. But, aku punya cerita deh buat mereka, ha ha.

Hari itu kami menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan ngobrol. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jakarta Kota. Hemm, aku kurang menikmati sebab daerah yang seharusnya indah dan mengingatkan sebuah sejarah kota yang besar itu harus dibias oleh ramainya pendatang dan ketidakteraturan tata kelolanya. Sampah yang berserakan dan bercecerannya pemandangan pedagang kaki lima dan asong membuat mataku terganggu untuk menikmati peninggalan sejarah yang telah ditorehkan oleh Panglima Fatahillah atau Sunan Gunung Jati. Meskipun demikian aku bersyukur bisa kemari untuk kali pertamanya meski sudah berkali-kali ke Jakarta.

Perjalanan kami lanjutkan ke masjid Raya al-Azhar Jakarta. Sebuah tempat yang nyaman untuk kami menunaikan sembahyang Ashar dan berdiskusi ria menanti hujan reda. Oh ya lupa cerita, bahwa akhir tahun dan awal tahun ini aku harus terbiasa bersahabat dengan hujan yang tidak lagi lembut seperti di Wuppertal. Tetapi hujan yang akan membasahi dan menyegarkan badan (kalo tidak biasa mandi). Di sana pula aku merasakan jajan di masakan Indonesia, nasi goreng seharga 1 euro. Wajar sih, porsi Indonesia separuh porsi waktu di Jerman, dan cita rasanya juga beda, konten ayamnya juga beda, plus biaya impor idenya, jadi kalau di sana harganya 6 euro. Dan perjalanan sore ini kami tutup dengan mengunjungi stadion kebanggaan Indoensia, Gelora Bung Karno. Aku memandang stadion yang megah ini sesaat. Teringat ketika beberapa kali tim nasional kita berhasil melibas lawan-lawannya di sini. Namun, sekarang sepertinya masih sulit untuk bangkit lagi menjadi tim yang super seperti beberapa dekade silam. Hemm, egoisme yang masih mengakar di kalangan pemimpin organisasi PSSI itu telah mengacaukan para pemain-pemain kita yang potensial.

Tak terasa, kami telah membeli 6 tiket busway, itu artinya kami turun 6 kali selama melakukan perjalanan. Terasa mahal sih ketika membayarnya dengan rupiah, padahal jika di-eurokan tak lebih dari 2 euro. Dan akhirnya aku dan satu temanku memutuskan untuk jalan kaki saja ke tempat parkir motor yang tidak jauh (dibandingkan dengan kebiasaan jalan kakiku selama di Jerman). Dan aku kembali ke tempat penginapanku diantar sahabatku itu.

Aku melihat Jakarta ini. Sejujurnya, ibu kota negara ini lebih megah dan menjulang dari pada kota Berlin. Jika dilihat dari ketinggian bangunan, di Berlin bangunan-bangunannya tak menjulang setinggi Jakarta. Hanya saja aku melihat kota itu lebih tertata dan lebih tenang, selamat dari kemacetan. Tapi aku boleh bilang, Jakarta lebih indah di malam hari, terutama saat terjadi kemacetan. Hemm, logika aneh dan tidak jelas. Apa pun itu, hari ini aku menyadari bahwa hari ini aku telah benar-benar tinggal di Indonesia, negeri yang telah membesarkanku dengan nuansa ketimuran yang santun lagi beradab. Terima kasih Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.