Pagi ini sangat dingin. Seperti biasa kami harus berangkat dari wohnung sebelum jam 8.00 pagi. Itu artinya kami berangkat subuh, karena matahari terbit jam setengah sembilan pagi. Agenda hari ini adalah presentasi media yang telah dibuat oleh para mahasiswa yang mengikuti kuliah Dr. Simone. Ternyata tempatnya di sebuah ruang presentasi khusus di jurusan pendidikan keolahragaan. Tempat yang biasa dipake oleh para mahasiswa POK (kalo di UNS) dalam melakukan demonstrasi dan peragaan.

Dengan bentuk meja angkare seperti konferensi dengan beberapa meja ditengahnya, satu persatu mahasiswa yang hari itu hanya 9 orang melakukan presentasi ke depan tentang media flash. Saking modernnya, layar tempat tampilan besar keluar itu seperti layar sentuh. Para mahasiswa tinggal menyentuhkan piranti yang mirip spidol boardmarker ukuran besar ke icon-icon di layar. Canggih sekali bukan.

Di antara mahasiswa yang presentasi ada 2 orang mahasiswa yang menggunakan bahasa Inggris. Alhamdulillah, roaming kami dapat teratasi dan setidaknya kami dapat merasakan pola mahasiswa sini dalam mempresentasikan hasil karyanya. Luar biasa deh, keren banget mereka membuat media-media pembelajaran tentang kimia. Aku tidak tahu apakah medianya dibuatkan atau mereka buat sendiri, yang jelas mereka dapat menjelaskan media mereka seakan-akan mereka sendiri yang membuatnya. Itu mungkin yang berbeda jika dibandingkan tempat kita.

Ada perbedaan yang kutemukan di sini antara tempat kita di Indonesia dengan di Jerman ini. Seperti perkuliahan Dr. Simone sebelumnya adalah mahasiswa ditanamkan prinsip bahwa media itu sarana untuk mempermudah transfer pengetahuan. Jadi menurut pendapatku animasi tingkat tinggi yang dipakai di sini dapat terealisasi karena memang teknologi dan SDM-nya telah mumpuni. Bagaimana dengan di Indonesia? Seringkali kudapati media pembelajaran hanya menjadi alibi guru untuk tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik. Mereka memilih berbagai sarana yang mereka sendiri belum menguasai medannya dan terkadang infrastruktur di sekolahnya juga belum memadai. Salah-salah, malah pembelajaran tidak makin membuat siswa mengerti, tetapi waktu habis karena guru-guru yang belum mahir memakai tetapi memaksakan diri.

Yang kuyakini, setiap guru yang mengajar dengan menggunakan hatinya, mau dengan metode seperti apa pun, akan mampu mengikat hati para muridnya yang memang ingin belajar. Masalahnya, sekarang berapa murid yang hatinya beres? Berapa guru yang niat ngajarnya tulus? Dan seberapa nyamankah sekolah menjembatani proses belajar itu terjadi. Atau jangan-jangan sekolah hari ini (terutama sekolah negeri) itu tidak jauh beda dari sebuah pabrik produksi jasa untuk membuat para siswanya lulus ujian nasional. Itu penting untuk kita pikirkan, terutama saudara-saudariku yang kuliah di pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.