Jam 2 hari ini adalah jadwal praktikum bersama salah satu mahasiswa spesial Prof. Tausch yang khusus dipersiapkan untuk jadi ahli lab. Rene namanya. Ketika dulu membaca jadwal kegiatan, kukira dia cewek. Eh, ternyata seorang cowok yang keren. Dia udah semester ke-12 sekarang. Bukan karena bodoh, tetapi karena jam terbangnya di laboratorium dan sekolah untuk membimbing eksperimen dipacu oleh Prof. Tausch maka pendidikannya jadi lebih lama dari pada mahasiswa pada umumnya. Inilah pilihan, dan ternyata kuliah lama itu tidak selamanya buruk, tinggal apa saja yang dikerjakan selama kuliah.

Aku tidak tertarik untuk bercerita tentang praktikum yang kami lakukan, karena disamping rumit dan nanti pasti membosankan jika dibaca orang-orang non eksak. Intinya kami mempraktekkan percobaan sel galvani, dimana lapisan titanium dioksida disinari oleh sinar UV bisa menghasilkan energi listrik. Ini adalah prinsip dasar pengenalan solar sel untuk anak-anak SMA. Praktikum yang kami lakukan dua macam, yang pertama menggunakan dua larutan yang saling dihubungkan dengan tisu (biasanya kalo ditempat kita pake jembatan garam), yang pertama dengan sebuah larutan yang reversibel. Hasilnya adalah yang pake larutan reversibel dapat menghasilkan energi yang lebih besar dan dapat menggerakkan motor listrik. Sekian ya kisah praktikumnya.

Selama praktikum aku melihat bagaimana seorang Rene berusaha keras menjelaskan kepada kami inti dari praktikum ini. Sesekali dia menyerah dan hanya menuliskan rumus kimia atau menunjuk sesuatu yang harapannya kami mengerti. Itulah orang-orang Jerman yang terbiasa detail dalam menjelaskan sesuatu dan sangat profesional dalam menangani apa yang menjadi tugasnya. Sambil kami melakukan praktikum kami berdiskusi dengan beliau tentang kebiasaan tepat waktu di Jerman dan etos kerja. Bagi mereka waktu itu sangat berharga, maka tak mengherankan baik Prof. Tausch, Mrs. Ingrid, Dr. Simone, Dr. Claudia dan tim yang lain kalau berjalan langkahnya sama dengan orang Indonesia lari-lari. Sampai-sampai karena 2 hari pertama kuliah kami datang terlalu tepat waktu (maksudnya jam 8), Mrs. Ingrid sampai mengingatkan kami esok harinya untuk datang lebih awal 5-10 menit sebelum jam kuliah agar persiapan jalan ke ruang kelasnya tidak terlalu grobyakan.

Beda banget rasanya ketika ini direfleksikan di negeri kita yang biasanya hobi telat dan molor, sampai terkadang aku ikut-ikutan molor kalau janjian karena terbiasa dengan lawan interaksi yang molor. Mau rapat, toleransi antara 30 – 60 menit. Mau liqo juga sama. Mau jalan-jalan, yang lebih populer tunggu menunggunya dari pada saat jalan-jalannya. Penting untuk kita belajar kepada orang-orang sini yang begitu serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Sehingga waktu 5 hari sepekan itu benar-benar untuk bekerja dan belajar (bagi pegawai kantor dan orang-orang pendidikan).

Tidak seperti di tempat kita, saat bekerja di sambi facebook-an. Sehingga waktu hari libur juga masih diganggu oleh aktivitas-aktivitas kerjaan yang seharusnya sudah diselesaikan. Basa-basi dan kebanyakan acara itu terkadang justru membuat kita seakan-akan banyak melakukan kegiatan tetapi minim produktivitas. Aha, ga jelas banget sih. Terima kasih Rene, 2 jam bersamamu aku belajar untuk mengerti bagaimana lab dan sekolah itu tempat terindah untuk mendedikasikan hidupmu. Mungkin aku tidak sepertimu, tetapi setiap kita pasti akan menempuh sebuah jalan hidup yang dicintai dan ditekuni hingga berbuah manis di atas jalan perjuangan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.