Kategori
Pendidikan

Esensi Pendidikan Kita yang Terlupakan

Pagi ini, aku baca status yang bagus dari Pak Harry

Dulu kakek buyut saya adalah Kyai, memimpin pesantren di desa. Seperti kebanyakan pesantren pd masa itu (surau, dayah, meunasah, rangkang dll), tdk pernah memungut bayaran dari santri, krn baik Kyai, Guru, Santri, warga secara bersama mengelola community business berbasis sumberdaya lokal utk kebutuhan bersama. Kyai dan guru adalah keteladanan “berjalan”, dari merekalah para Santri dan Warga meneladani akhlak dan ilmu kehidupan spt bertani, berkebun, beternak, sampai pertukangan dan bangunan termasuk menjahit dan mencukur.

Anak2 Kakek buyut saya, yaitu kakek dan nenek saya, mulai mengenal persekolahan Belanda. Persekolahan yg merubah orientasi kemandirian di desa menjadi harapan dan mimpi2 sejahtera kerja di perkotaan sbg administratur maupun insinyur. Sebagian besar dari mereka kemudian hijrah ke kota besar. Seingat saya kakek saya masih mampu membeli sebidang tanah cukup luas di tengah kota. Kakek saya menjadi pegawai pemerintah yg mengabdi sampai pensiun. Kota kala itu masih lumayan hijau dan tdk padat.

Anak-anak kakek dan nenek saya, yaitu paman, bibi dan ayah ibu saya, menjalani persekolahan nasional sampai SMA dan sebagian sampai Diploma atau Sarjana. Kebanyakan mereka bekerja di lembaga atau perusahaan milik negara. Mereka jelas hanya mampu membeli tanah di ujung selatan Kota atau ujung timur atau ujung barat. Kota sdh mulai ramai oleh para urban yg berharap hidup lebih menjanjikan.

Lahirlah saya dan istri saya, generasi ketiga para urban di kota ini. Kami tentu saja, spt kebanyakan generasi seangkatan, full bersekolah pd sistem persekolahan nasional setinggi2 yg bisa dicapai. Pembangunan yg pesat di perkotaan membuat residu munculnya sub-urban, para urban yg mengisi kampung2 kumuh di Kota yg semakin kusut dan semrawut. Mall tumbuh subur dan menjadi tempat rekreasi warga kota. Kami dkk seangkatan tentunya hanya mampu membeli rumah dgn kepemilikan kurang dari 200m2 di daerah pinggiran kota2 satelit sekitar kota besar dan harus mencapai kantor lebih dari 1 jam. Pada masa ini saya mendengar bhw pesantren sdh sepi dan kosong dari santrinya. Desa semakin sepi dgn lahan menganggur dan kota semakin padat dgn lahan diperebutkan.

Andai kondisi ini terus terjadi, andai sistem persekolahan terus menggerus orang utk urban dan tdk mampu hidup kecuali menjadi kuli di kota dgn tempat tinggal yg makin jauh ke pinggir luar kota, maka saya merenung, bagaimana nasib dan masa depan anak2 dan cucu kita? Bagaimana terjalin harmonisasi kehidupan dalam lahan2 sempit dan komunitas yg sibuk mengais rejeki jauh dari rumah, pergi di gelap pagi dan pulang di gelap malam? Bagaimana akhlak dan kemandirian bisa tumbuh subur dalam dunia yg serba semrawut dan tergantung krn pertumbuhan yg tdk masuk akal akibat orientasi urban yg ditanamkan persekolahan?

Memang yg paling penting kita khawatirkan adalah aqidah keimanan anak cucu kita, tetapi apakah aqidah dan keimanan anak cucu kita bisa terjamin dalam kondisi generasi yg lemah dan tergantung? Bukankah kita diminta utk tidak meninggalkan generasi yg lemah di belakang kita?

Mari kita kembalikan pendidikan anak2 kita kpd pendidikan sejati, yaitu pendidikan yg bukan berorientasi pd pemusatan dan individualisme serta ketergantungan, tetapi pendidikan yg berorientasi pd pemberdayaan desa, penguatan komunitas serta kemandirian sbgmn pendidikan tempo dahulu telah memberi contoh.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Anak-Anak 100 % Belajar

Ini tentang bagaimana anak-anak itu belajar. Ini pula sebuah refleksi pendidikan di negeri kita sehingga mengapa sekarang penyelenggaraan sekolah itu mengalami perpecahan dalam beberapa madzhab. Lahirnya sekolah-sekolah Islam terpadi terpadu dalam berbagai bentuknya, sekolah alam dan sekolah-sekolah yang lain adalah jawaban sekaligus bentuk protes halus masyarakat untuk pemerintah, untuk para guru PNS yang kebanyakan menjadi seperti raja dan berhenti belajar.

Hari ini kita menghadapi berbagai tekanan yang mengguncang peradaban Indonesia. Tekanan itu sangat kompleks dan susah dijelaskan bagaimana menghadapinya. Tapi jika merujuk pada tiga lingkungan pendidikan seperti yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara yakni keluarga, sekolah dan masyarakat rasanya ketiganya kini harus diselamatkan semuanya karena perlahan-lahan mulai rusak semua. Save our education environment!

Aku ngeri membayangkan bagaimana sebagian anak-anak sekarang, mungkin sebagian besar 100 % hidup di lingkungan pendidikan yang apes. Saat di lingkungan keluarga, pendidikan agama dan budi pekerti kurang. Jika salah dimarahi, dibentak-bentak. Disumpahi sebagai anak-anak nakal. Tak jarang dipukul dan diperlakukan dengan gaya otoritarian seperti masa lalu.

Kemudian sang anak berangkat ke sekolah. Di sekolah-sekolah yang gurunya tidak belajar tentang bagaimana mendidik anak-anak manusia pun juga akan mengata-ngatai mereka dengan anak bodoh. Yah jelas dong sekolah itu karena bodoh. Kalo pintar ngapain juga sekolah. Begitulah potret guru-guru yang bego. Tapi lebih parah lagi, sekolah pun mulai tidak serius mendidik budi pekerti mereka yang gagal di lingkungan keluarga karena banyak orang tua yang nikah karena modal nafsu doang, sekaligus cita-cita rendah agar anaknya jadi pengumbul kekayaan saja. Inilah kecelakaan kedua anak-anak dalam belajar.

Yang ketiga, mereka kemudian berada di lingkungan masyarakat yang hari ini rata-rata kerusakan mulai menjamur. Kecuali lingkungan santri atau kawasan yang masih ketat menjaga adat ketimuran, maka rata-rata anak akan menjalani pendidikan sosial dengan gaya bebas. Mengerikan bukan, bagaimana geng-geng, tongkrongan maksiat dan berbagai aktivitas yang tidak jelas mulai terjadi. Bolos sekolah dan tawuran tentu menjadi salah satu model pendidikan sosial yang gagal dihadapi oleh sekolah.

Inilah yang kumaksud dengan anak-anak 100 % belajar. Sayangnya mereka belajar di lingkungan yang apes. Dan itulah yang harus kita selamatkan. Jika kita melihat di lingkungan desa yang belum tersentuh kemajuan tentu hal itu belum begitu terasa. Tapi jika di daerah-daerah penyangga, hal-hal ini harus segera diwaspadai.

Indikator yang paling gampang dilihat dari aktivitas TPQ dan angka bolos anak-anak saat sekolah untuk lebih memilih kumpul geng atau bermain PS. Ketika TPQ anak-anak sekarang cenderung susah diatur dan mereka hanya menjalani itu sebagai sebuah tradisi masa kecil yang akan segera berakhir memasuki usia gede untuk segera tampil lebih gaul. Ini hanya sebuah ungkapan kacau yang belum terstruktur. Semoga di kesempatan yang lain aku bisa menulis sesuatu yang lebih baik.

Hanya saja, aku mau bilang. Waspadalah dengan kegagalan pendidikan kita. Karena pendidikan itu bukan hanya berbicara tentang nilai dan ijazah. Tapi sebuah spirit untuk membuat setiap orang merasa peduli, setiap orang harus saling mencintai, setiap orang harus mengerti arti kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang besar, bukan kumpulan orang yang hanya sibuk dengan mengumpulkan kekayaan dengan menindas orang lain.