Malam ini aku ada janji dengan teman-teman Save Sunniyah untuk membahas tentang perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. Perubahan yang membuat gerak kami terbatasi dan perlu bersabar sesaat untuk mempersiapkan cara-cara yang lebih baik dan lebih sesuai dalam menyelamatkan adik-adik kami yang luar biasa itu. Menyelamatkan sekolah yang sudah berada dalam bayang-bayang hilang karena tidak mampu memenuhi ketentuan dispora kota Surakarta. Berbekal semangat tinggi, ku pacu si kuda besi untuk segera menuju rumah guru kami yang keren, Indrawan Yepe.

Sesampai di sana ternyata masih sepi. Aku orang kedua datang. Akhirnya justru jagoan-jagoan beliaulah yang menyambut kami. Ada Aufa, Khansa, Fahri, dan Zein. Mereka empat jagoan yang malam ini mengajariku berbagai pelajaran hidup tanpa harus bertutur. Apa yang mereka lakukan malam ini adalah inspirasi untuk perjalanan hidupku ke depan. Setelah beberapa teman datang, aku diminta membelikan makanan Terang Bulan untuk hidangan saat diskusi. Tiba-tiba keempat jagoan itu ingin ikut. Hemm, sempat khawatir soalnya malam-malam. Setelah berpikir lebih lanjut, akhirnya kululuskan keinginan mereka. Mereka ikut aku berjalan dengan tanpa alas kaki. Dengan mengikuti petunjuk si Aufa, aku bersemangat sambil menggendong si kecil Zein. Sebagai jagoan yang paling kecil Zein menjadi fokus perhatianku malam itu, di samping lucu, juga menggemaskan.

Setiap kali kami sampai di tempat yang katanya Aufa tempat mangkalnya penjual terang bulan, dia bilang, “Yah, tutup om, tapi masih ada kok dekat sini”. Yah sebagai kaum pendatang ikut saja dah nasihat kaum pribumi. Sesampai di tempat yang dimaksud, lagi-lagi Aufa mengatakan hal yang sama. Dan kejadian itu berulang hingga setelah kami berjalan lebih dari sekilo. Aku yang telah menggendong Zein sejauh itu dan tidak sengaja masih menggendong tas beratku lega karena bisa melemaskan jari-jari dan persendian. Terima kasih Aufa, engkau cerdas nak. Memang tidak pernah jauh tempatnya dari apa yang kau katakan. Jauh dari rumah, tapi tidak pernah jauh dari “sini”. Dan aku artinya paham dengan “sini”. Dan aku kagum dengan keempat jagoan ini.

Setelah sampai di tempat penjual terang bulan, aku segera memesan apa yang ditugaskan. Lagi-lagi Aufa memberi contoh bagaimana berinteraksi dan dekat dengan penjual. Dia lucuti semua informasi yang dimiliki penjual dalam sebuah komunikasi alami yang dilandasi rasa ingin tahu yang besar. Tanpa harus berbasa-basi namun tetap membuat sang penjual menikmati. Dari pembicaraan itu aku jadi tahu bagaimana usahanya dirintis, bagaimana tips dan trik berjualan, bagaimana cara mempertahankan pelanggan dan banyak hal. Akhirnya, aku malu pada Aufa, engkau jauh lebih cerdas dan lebih hebat dariku nak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.