Pren, coba kita utak-atik dikit ini ya

Penting gak sih doktrin bahwa 1+1=2, termasuk di dalamnya terkandung makna bahwa MATEMATIKA adalah ILMU PASTI? Akhirnya FISIKA, KIMIA, dan BIOLOGI ikut-ikutan diberina nama ilmu EKSAKTA, yang dalam pemahaman banyak orang juga ILMU PASTI (kecuali yang udah meninjau secara mendalam).

Kalo menurutku sih, yang lebih penting adalah mereka paham bahwa jika 1+1=2 dst hingga 1+2+3+ .. + 99=4950 (bener ya?) maka anak-anak akan tahu betapa banyak benda yang ada di alam semesta ini. Juga ketika mereka tahu bahwa 1+1=10, 1+1+1=11, 1+1+1+1=110 dst maka komputer dapat bekerja dengan baik, dll. Atau tentang persamaan sebagai aktivitas menganalisis masalah di sekitar dan berbagai hubungan sebab akibat.

Maka tidak usah heran jika masyarakat kita meskipun banyak yang dapat 100 ketika ulangan matematika (baik mengerjakan sendiri ataupun berbuat curang saat ulangan) ya sulit diatur. Disediakan peraturan tetapi masih saja melanggar (mungkin saya juga kadang2 masih melanggar). Kira2 kan kasusnya ya cuma paham tentang doktrin matematis bahwa JIKA ANDA BEKERJA => DAPAT UANG, tanpa peduli dimana, bagaimana dll yang berkaitan dengan logika/aturan mainnya.

Nah, jika dirunut ke banyak hal (dulu istilahnya IPOLEKSOSBUD), intinya ya kira-kira begitu, bahkan sekalipun tahu banyak hal soal agama dan moral, karena tahu itu belum tentu paham dan mengamalkan. Nah, lagi-lagi salah satu faktor krisis yang kita alami adalah faktor hati yang jauh dari nilai-nilai ilahiah bertaut dengan kecerdasan yang tidak berpola pikir dan menggunakan aturan main yang maslahat.

Jadi tolonglah Pren, yang dapat kesempatan ngajar matematika, mbok ya bantu diluruskan pengertiannya. Kasihani kami yang dapat kesempatan ngajar materi fisika kelistrikan dengan siswa yang rata-rata nilainya cukup bagus tapi masih suka nge-GAME secara berlebihan (padahal persediaan listrik kita terbatas, bahkan di luar sana banyak yang tidak berlistrik) menggunakan perangkat yang diimpor (disaat kita seharusnya berinovasi) dan menyia-nyiakan waktu produktifnya untuk belajar. Lalu apakah anaknya harus kita kasih nilai 100 meskipun seluruh jawaban soal hitung-hitungannya benar. Karena tentu saja kami sepertinya akan ditertawakan jika membuat soal begini, ‘JAWAB DENGAN JUJUR, BERAPA JAM ANDA MENGGUNAKAN LISTRIK UTK HAL-HAL YANG TIDAK PENTING (MAIN GAME, MEMBIARKAN LAMPU DI KAMAR MATI, TELEPON PACAR SETIAP JAM DLL).

Ini soal mindset kawan. Jika sejak sekolah kita sudah salah arah. Bagaimana saat menjadi orang dewasa kelak dan akhirnya punya anak? Sekian dan terima kasih.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.