Belanja di Pasar Seni

Setelah puas kangen-kangenan, termasuk aku berkenalan dengan dua temannya Faqieh yang ternyata adalah adik-adik tingkatnya, kami pun berbelanja souvenir di Pasar Seni. Aktivitas cuci mata melihat pernak-pernik khas Malaysia yang diperjualbelikan membuatku mengawasi secara detil. Bukan apa-apa, tetapi sesungguhnya apa yang tersedia di pasar Malaysia boleh jadi dibuat di Indonesia. Bagaimana tidak? Latar belakang budaya kita sama. Misalnya Sumatera Barat dengan Negeri Sembilan, keduanya sama-sama mengusung adati Minangkabau. Ada juga kawasan yang mengusung kultur Jawa dengan wayang kulitnya.

Akhirnya kami menemukan juga penjual souvenir yang menjual selusin gantingan kunci dengan harga 10 MYR. Kualitasnya sih sebenarnya sama dengan di Singapura. Itu artinya, barang yang sama akan memiliki nilai 2,5 kali lipat jika dijual di Singapura. Karena nilai tukar 1 SGD setera dengan 2,54 MYR. Nah, nilai jual suatu barang memang tergantung tempat dan bargaining position pasarnya. Semakin sibuk kawasannya, maka nilai jualanya tentu semakin tinggi. Pasar Seni adalah kawasan pasar tradisional di Kuala Lumpur yang menjual beragam pernak-pernik kerajinan khas Malaysia.

Dua hal yang paling membuatku tidak nyaman adalah ketika melewati kawasan pertokoan yang menjual barang-barang khas India. Baik di Singapura maupun di Malaysia. Aroma dupa yang sangat menyengat membuatku pusing dan mual-mual. Hemm, aku ga bisa membayangkan jika aku dapat kesempatan ke India. Mungkin pemandangan wanita-wanita yang memakai saree transparan dan sekaligus aroma dupa yang menyengat itu adalah ujian tentang ketidaknyamanan. Tapi tenang, ini masih di Malaysia, negeri serumpun yang hampir tak banyak berbeda dengan Indonesia soal kultur. Bedanya cuma soal komitmen nasionalnya dalam membangun dan menjayakan bangsa.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.