Malam Pertama di Purple Cane Restaurant
Edisi kuliah praktik di perjalanan ini adalah tentang fotografi. Master Indrawan Yepe mulai mengajarkan ilmunya tentang fotografi kepadaku perihal komposisi dan sudut pengambilan gambar. Berkali-kali aku memfoto dan mendapat komentar koreksi dari beliau. Tentu saja ini pelajaran berharga bagiku yang masih buta soal fotografi. Begitulah perjalanan kami diisi dengan belajar sambil mencari alamat yang membuat kami penasaran.
Suasana kota Kuala Lumpur dengan jalur pedestriannya yang bagus membuat kami betah berjalan berkilo-kilometer. Enaknya sekiranya kota-kota di negeriku mau belajar membangun menjadi lebih baik. Bukankah para anggota DPR dan DPRD serta para pejabat gemar bepergian dengan dalih studi banding. Mana hasilnya? Itulah PR yang harus diperbaiki. Karena uang rakyat sudah jelas-jelas dipakai, maka harus jelas kompensasinya.
Mencari gedung yang bernama Shaw Parade cukup sulit awal-awalnya. Kami malah tersesat di restoran milik orang China, ikut nimbrung orang-orang India atau Bangladesh yang nonton TV rame-rame di salah satu toko milik komunitas mereka. Nontonnya sambil berdiri lagi. Tapi mungkin itulah kultur mereka dalam melepas penat seharian setelah bekerja.
Dengan bertanya-tanya pada orang di sana, sampailah kami di Purple Cane Restaurant. Sebuah restoran dengan sentuhan warna ungu dan nuansa the yang berada di jalan Changkat Tambi Dollah, Pudu. Kami masuk dengan menimbulkan tanda tanya para pegawai yang berwajah Tionghoa itu. Ada satu yang terlihat paling manis namun penuh tanya. Ahaa, maaf ya mbak, kami datang dalam style backpacker, bukan orang yang mau jajan.
Sempat ada miskomunikasi untuk menemukan orang yang bernama Camelia atau San Chahua. Ketidaktahuan kami dengan bahasa Mandarin membuat ucapan kami gagal dimengerti oleh para pegawai restoran tersebut tentang nama San Chahua. Untunglah mereka juga familiar dengan nama Camelia. Jadilah kami tamu kehormatan yang dijamu cuma-cuma dengan manisan buah Jambu super lezat dan the yang sangat enak (tapi pahit men, karena sajian teh yang benar sebenarnya tanpa gula).
Sambil menunggu kehadiran sang master yang baru saja ditelpon, kembali kuliah praktik fotografi kujalankan. Kami menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran dan para pegawai karena aktivitasku yang terus menjepret gurunda Indrawan Yepe dalam berbagai sudut. Tapi kami tidak peduli, aku belajar dan master Indrawan Yepe mengajarku. Ini dunia kami untuk mengupgrade kemampuan.
bersambung …





