Nak Kemana Kita?
Begitu sampai di KL Sentral, aku mencoba mengingat kembali gambaran stasiun integral yang pernah kulihat di kota-kota Jerman, Paris maupun Amsterdam. Luar biasa, Malaysia telah memulai modernisasinya meskipun masih menggunakan sistem keamanan untuk memastikan orang-orang membeli tiket yang benar. Setidaknya negeri ini telah memulai untuk membelajarkan masyarakatnya terbiasa melakukan pelayanan untuk dirinya sendiri. Negara menyediakan fasilitasnya, dan selebihnya lakukan sendiri dan rawat apa yang telah disediakan.
Ah, Jakarta baru akan mewujudkan hal itu ketika Jokowi menjadi gubernur. Mungkinkah akan menyusul? Hanya doa dan harapan yang dipenuhi cahaya optimisme untuk melihat Indonesiaku yang lebih baik. Jika negeri jiran ini saja bisa membangun dengan cadangan SDA yang masih jauh di bawah Indonesia, maka logikanya Indonesia mampu membangun jauh lebih besar dari apa yang telah dilakukan Malaysia hari ini. Masalahnya, apakah SDA berhasil dikuasai sepenuhnya pengelolaannya oleh pemerintah? Apakah para pemimpin negeri ini sudah bersepakat untuk melakukan pembangunan yang sesungguhnya? Apakah orang Indonesia sudah belajar peduli untuk mendorong pemerintah mewujudkan pembangunan? Sudahlah, tidak usah dijawab. Kita tahu sama tahu. Jadi mari kita upayakan untuk diperbaiki.
Kami pun mencari informasi ke bagian informasi untuk menuju tempat master tea Camelia di Purple Cane Restaurant yang terletak di dekat stasiun Pudu. Di hadapan kami ada tiga sistem transportasi yang sudah integral di samping bus dan taxi yang telah terhubung dengan KL Sentral. Kereta api jarak jauh, jarak dekat, hingga monorail yang keluar masuk dari lapisan bawah tanah stasiun KL Sentral membuatku tercengang. Sudah secanggih inikah, ini hampir sama dengan sistem stasiun di negara-negara Eropa. Semua telah dibangun di sini. Ah, emosiku tersulut dengan ingatan deretan kasus korupsi di televisi, harian cetak dan online, hingga tingkah laku para dosen di kampusku yang belagu dengan memamerkan mobil-mobil mewah mereka. Omong kosong itu semua jika negeriku semakin tertinggal.
Kereta listrik pun mengantar kami dengan kecepatan tinggi ke stasiun Pudu. Hari telah gelap dan malam menjelang. Kami berputar-putar di kawasan Pudu sambil menunggu balasan pesan dari master tea Camelia yang memiliki nama asli San Chahua itu. Akhirnya kami dapat tempat menarik untuk menginap malam ini, Rumah Tumpangan namanya. Sebuah penginapan murah di dekat stasiun Pudu dengan tarip 50 MYR per malam untuk 2 orang. Untuk ukuran kami ini terjangkau meskipun tidak mungkin kami menginap empat malam di sini semua.
Berikutnya kami mendapati sebuah masjid di dekat penginapan itu. Di sini, yang bernama masjid adalah yang terletak di pusat-pusat kota dengan ukuran super besar. Adapun masjid-masjid kecil di kawasan penduduk disebut dengan Surau. Surau di dekat penginapan murah tersebut dinamakan dengan Surau Penjara Pudu. Merinding juga aku mendengarnya, masak kami shalat bersama para narapidana. Tapi kami nekat datang untuk mampir mandi dan shalat Maghrib-Isya. Alhamdulillah, jamaah yang telah selesai shalat Isya menyambut kami dengan keramahan. Kami dengan bangga memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia. Mereka pun menyambut dengan ramah dan bahkan mempersilakan kami untuk tidur di masjid sekiranya membutuhkan penginapan gratisan.
Apakah ini penghinaan? Tergantung sudut pandang kita saja menilai. Karena kami backpaker, maka itu adalah tawaran menggiurkan yang jelas tidak dapat ditolak. Aku tidak peduli jika ada yang menyebut bahwa itu penghinaan. Kami justru merasa tertolong dengan keramahan mereka. Tapi karena masjid akan ditutup sebelum pukul 11 malam, sedangkan kami akan menghabiskan malam berkeliling kota, sepertinya Rumah Tumpangan adalah labuhan kami malam ini.
Nak kemana kita? Kami akan melihat pesona Kuala Lumpur malam hari ini setelah bertamu ke rumah master tea San Chahua.
bersambung ….





