Dua Buku dan Layanan Eksekutif

Malam harinya kami memulai petualangan baru, pulang ke kota asal. Keputusan untuk tidak buru-buru memesan tiket di pool Bandung Express adalah keputusan yang tepat. Usai menunaikan shalat dengan paket hemat (mengambil rukhsah jama’ qashar) kami langsung mencari angkot yang akan mengantar ke terminal utama kota Bandung.

Seperti biasa, kami berhadapan dengan calo yang menawarkan harga melangit. Cukuplah aku dikerjai di terminal Pulogadung saat mau pulang dan tidak punya pilihan untuk segera mendapatkan bus cepat. Malam itu tawaran mereka jelas tidak menarik bagi kami sama sekali. Kami langsung mencari bus yang siap berangkat, hanya dengan 60rb, bus ekonomi AC mengantar kami sampai terminal Purwokerto.

Pagi harinya kami sudah sampai di terminal Purwokerto, sebelum matahari terbit. Kami segera mengucapkan syukur di masjid yang ada di tengah terminal. Baru kali ini aku melihat terminal dengan masjid yang cukup besar, representatif dan nyaman. Luas dan bisa membuat kami betah untuk beberapa waktu melepas penat setelah semalaman tidur di bus yang cukup nyaman itu.

Perjalanan pun dilanjutkan ke terminal Giwangan Yogyakarta dengan sebuah bus yang terkenal bagus layanannya, Efisiensi. Baru kali ini juga aku melihat bus dengan seat yang mirip pesawat Lion Air. Bahkan kami juga mendapat air mineral gratis. Sepertinya perusahaan yang menaunginya memang tergolong perusahaan sehat dengan optimalisasi layanan. Karena begitu nyamannya bus eksekutif ini aku bisa menikmati perjalanan dengan membaca buku Imam Shamsi Ali yang baru saja kami beli usai mengikuti muhadharah bersama beliau. Indahnya sekiranya para perusahaan otomotif mulai berbenah dengan layanannya, bayar lebih mahal pun aku mau banget asal service-nya benar-benar bagus.

Hikmah lain dari perjalanan yang panjang ini adalah aku menemukan nuansa berbeda ketika mendapatkan teman-teman yang punya komitmen dalam belajar dan beribadah. Mas Anjrah, Alqaan, dan Agus adalah orang-orang yang kukenal sebagai sosok-sosok pembelajar yang tak ragu untuk saling berbagi. Dengan berbagai kesepakatan yang kami buat, kami mendapatkan tempat yang nyaman dan suasana yang nyaman pula.

Alhamdulillah, 2 buku khatam sekaligus dalam perjalanan ini. Pertama adalah NEGERI DI UJUNG TANDUK karya om Tere Liye yang merupakan kelanjutan kisah NEGERI PARA BEDEBAH kurampungkan di sela-sela istirahat di penginapan selama dua hari itu. Kemudian buku IMAM SHAMSI ALI: MENEBAR DAMAI DI BUMI BARAT dapat kunikmati di perjalanan pulang dalam bus Efisiensi dan bus penyambung Jogja-Solo. Seperti apa isinya, insya Allah akan saya share dalam postingan berikutnya. Tunggu saja.

Menikmati masa muda dan membentuk ritme hidup yang baik akan membuat hari-hari kita selalu positif. Termasuk bagaimana membangun ketahanan diri baik menjaga dari hal-hal negatif dan membentuk independensi berpikir sebagai individu yang unik sehingga tidak menjadi bulan-bulanan komunitas apa pun yang diikuti. Menjadi pemuda yang tangguh serta memiliki bargaining position akan membuat kita mampu menjaga idealisme hingga mati nanti. Kita tidak mungkin bisa hidup sendiri, maka harus berinteraksi, tetapi bukan berarti kita akan larut dalam berbagai kubangan realita hidup yang begitu unik dan bervariasi ini. Kita bisa membuat jalan hidup kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses