Sambutan Ramah Master San Chahua
Tak lama berselang, muncullah seorang wanita usia 30-an tahun. Wajah Tionghoanya yang kental menjadi bukti bahwa namanya pun San Chahua. Sapa keramahannya membuyarkan aktivitas belajar fotografi kami. Segeralah forum belajar berubah menjadi ramah tamah dari sang tuan rumah kepada kami para tamu kehormatan (GeEr).
Master Indrawan Yepe menyerahkan hadiah berupa baju batik untuk master San Chahua. Inilah pelajaran yang kuambil bagaimana bertamu dengan orang lain. Ke depan jika aku akan berkunjung ke seseorang maka aku harus membawa hadiah sebagai tanda persahabatan. Tidak harus mahal, tetapi memiliki citarasa kenangan yang luar biasa. Beliau juga menitipkan hadiah untuk master Wing Xi di Hongkong, karena beberapa hari ke depan master San Chahua akan ke China.
Diskusi banyak hal pun berlangsung. Aku terkejut dengan teh yang baru saja kami minum. Ternyata itu adalah teh puer, teh dengan kasta tertinggi dari segala jenis teh yang ada di dunia. Teh yang dipetik dari pohon-pohon yang usianya telah mencapai ratusan tahun di kawasan perkebunan yang tidak terjamah polusi. Jangan tanya harganya, sudah pasti sangat mahal. Berikutnya adalah manisan jambu biji yang lezat. Ternyata bumbunya adalah hasil blenderan kulit jeruk bali yang dicampur dengan sedikit garam. Enaknya. Ini adalah ilmu baru yang perlu diaplikasikan istriku nanti jika menghidangkan makanan dengan sederhana namun elegan.
Purple Cane Restaurant adalah restoran yang menggunakan basis teh dan vegetarian sebagai basis pemasakan. Mereka juga menghidangkan menu daging ayam dan sapi, tetapi tidak menyediakan menu daging babi. Master San Chahua memastikan kehalalan restorannya meskipun sampai sekarang belum berhasil mendapatkan sertifikat itu karena adanya diskriminasi untuk para wirausahawan China. Benarkah? Ah tidak seharusnya ada demikian. Bukankah jika orang-orang non-muslim turut menyajikan makanan halal akan memudahkan orang-orang Islam untuk mendapatkan makanan yang halal. Dari sini aku belajar tentang arti persahabatan dan toleransi. Master San Chahua tahu betul selama di Solo bahwa gurunda Indrawan Yepe adalah muslim yang taat dan hati-hati dalam soal makan.
bersambung …





