Kisah yang mewarnai perhitungan suara Pemilu biasanya berkutat pada kisah penggelembungan suara. Itulah realita media, yang diulas dan diungkap pasti kecurangan dan kejelekannya. Secara, bad news is good news. Jadi tidak usah heran jika dalam pemberitaan media mainstream hampir tidak dijumpai kisah tentang TPS yang damai dan perhitungannya jujur mengesankan.

Aku sendiri malam hari ini membantu teman-teman di DPC untuk menginput data C1. Dan memang, kisah media itu adalah kenyataan pahit kami. Penggelembungan suara dari partai-partai yang KPPS-nya pro partai itu kerap dijumpai. Angka penggelembungannya bervariatif dari 1 suara per TPS sampai 10 suara per TPS. Tapi sekali lagi aku mau bilang, itu kurang dari 40 % dari semua C1 yang berhasil direkap. Artinya, kejujuran dan hal yang wajar masih lebih banyak kawan. Mengapa selalu misuh-misuh saat baca berita media?

Penggelembungan adalah kejadian yang sudah terjadi di tanggal 9 kemarin, baik sengaja atau tidak. Tapi yang harus kita waspadai adalah saat ada peristiwa menggelembung. Menggelembungnya amarah sehingga menghanyutkan akal sehat. Menggelembungnya kebencian sehingga meninggalkan cacian. Biarlah penggelembungan itu menjadi medan perjuangan kita semua yang terlibat di sini. Kita belajar menyuarakan apa yang benar dan mengoreksi apa yang salah. Bukan misuh-misuh, mencela, dan menyalahkan.

Ah ini tulisan yang aneh sekali mungkin. Tapi suer, aku lebih kawatir jika rekan-rekanku sesama kader PKS termakan emosi sehingga meluapkan amarah secara sporadis di lapak bebas yang bernama media online dan jejaring sosial. Itu lebih buruk karena menunjukkan bahwa kita belum sanggup untuk menahan marah atas kecurangan yang memang menjadi makanan khalayak sekarang. Padahal kemenangan itu dekat dengan kesabaran kawan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.