Kehabisan tiket kereta api, mahalnya tiket pesawat, dan terlambat datang ke stasiun Lebak Bulus untuk mendapatkan bus yang bisa sampai ke daerahku tentu bukan hal yang enak. Tapi itulah resiko ketika menghadapi kemacetan ibu kota yang sulit diprediksi, terlebih aku hanyalah pelancong yang datang. Dan perjalanan pulang dari Jakarta tadi malam pun adalah pengalaman baru di mana aku mencari bus seadanya di terminal ibukota itu. Dengan harga yang sebenarnya masih cukup tinggi tak membuatku urung, karena rindu yang mendalam terhadap ayah dan ibu di rumah.

Setelah mengalami oper bus, seperti yang sudah kami prediksi akhirnya dari bus yang semula masih rada-rada bekas kelas bisnis, akhirnya kami benar-benar menaiki bus kelas ekonomi tulen. Silih berganti pedagang asongan dan pengamen menghibur kami dengan suara dan pinta mereka. Setidaknya bisa berbagi rezeki jika ada pedagang asongan yang menjual pernak-pernik murah.

Tetapi lain halnya dengan pengamen. Aku termasuk jenis orang yang merasa terganggu sekali dengan pengamen. Apalagi jika suara dan garapan musiknya aneh. Apalagi jika bukan pengamen, tetapi orang yang minta-minta dengan atas nama amal dan pesantren. Menjijikkan sekali hal itu, merendahkan umat Islam sekali. Tapi apa gunanya mengumpat, karena itu semua adalah bentuk kreativitas yang kebablasan di negeri yang serba mudah ini.

Akhirnya sampailah pada seorang pengamen gondrong bak preman seram yang menyanyikan lagu-lagunya Iwan Fals. Lebih dari empat lagu dia dendangkan sepanjang perjalanan untuk menghibur kami. Baru kali ini aku mendapati pengamen yang menyanyikan dengan jelas lagu-lagu yang berkualitas. Salah satu lagunya yang mengantarkan ingatanku ke kerusakan hutan Kalimantan adalah berikut ini. Simak ya.

Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang

Berpadu dengan jerit isi rimba raya

Tawa kelakar badut-badut serakah

Tanpa HPH berbuat semaunya

Lestarikan alam hanya celoteh belaka

Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…

Oh mengapa…..

Oh…oh…ooooo……

Jelas kami kecewa

Menatap rimba yang dulu perkasa

Kini tinggal cerita

Pengantar lelap si buyung

Bencana erosi selalu datang menghantui

Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti

Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi

Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Lestarikan hutan hanya celoteh belaka

Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja

Oh…oh…ooooo……

Jelas kami kecewa

Mendengar gergaji tak pernah berhenti

Demi kantong pribadi

Tak ingat rejeki generasi nanti

Berikut ini lagunya

Perjalanan Jakarta – Jogja pun selesai sudah. Berlanjut ke Gunungkidul dan akhirnya sampailah aku di tanah kelahiranku, di kaki gunung tempat Pangeran Samber Nyawa pernah bertahan dari gempuran Belanda.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.