Alhamdulillah, hari ini Allah berikan nikmat kepadaku berupa perjumpaan kepada kawan lama yang sudah beberapa tahun tidak bersua. Niat awalnya adalah pulang untuk ketiga kalinya setelah dua kepulangan sebelumnya belum berhasil membawa formulir A5 untuk kepindahan tempat nyoblosku di Solo. Hari ini pun saya juga cukup dongkol karena ternyata A5 belum tersedia dan disuruh menunggu hingga sore hari. Okelah, dongkol sesaat dan sepertinya aku harus pergi ke kota kabupaten untuk merefresh pikiranku dengan mengingat kembali menara Masjid Agung, menara kejayaan yang menjadi titik perubahanku mengenal Islam beberapa tahun silam.

Tak disangka, di depan Masjid Agung Kota Wonosari itu aku dipertemukan dengan kawan lamaku, sebut saja Ams. Rekan satu SMA dan juga pernah satu pondok di asrama Masjid Agung (meski akhirnya keluar) itu telah lama tidak bersua denganku. Dan hebatnya lagi, aku mendapati sosok Ams yang baru hari ini. Sosok Ams yang 7 tahun lalu kukenal nakal itu kini telah berubah menjadi sosok pengusaha yang visioner dan inspiratif. Masih tetap dengan gaya khasnya dahulu, dia menghidupkan rokoknya dan bercerita tentang perjalanannya dari dunia hitam ke dunia putihnya saat ini. Tinggal rokok saja yang tersisa dalam ingatanku tentang masa lalunya.

Dia cukup antusias menceritakan perjalanan panjangnya dari dunia hitam sejak lulus SMA hingga akhirnya berwirausaha dan menjadi orang yang baik-baik seperti sekarang. Sulit dibayangkan, meskipun ini adalah hal yang mungkin seorang perokok dan hobi nongkrong dengan kehidupan malamnya akhirnya kini telah bertaubat dari itu semua. Aneka kejahatan di awal-awal kuliah telah dia lakukan mulai dari mabuk-mabukan, pesta di diskotik, mengkonsumsi dan berdagang obat-obatan terladang, hingga menjadi pencuri helm di kampus-kampus yang ada di kotanya.

Inspirasi yang kuambil dari pemaparannya hari ini adalah bahwa untuk berubah yang dibutuhkan adalah kesadaran diri. Kita tidak pernah tahu dengan cara apa Allah mengajak kita berubah. Dia bertemu dengan seseorang yang akhirnya kini menjadi mentor spiritualnya dan mengajaknya bangkit untuk menjadi pengusaha. Alhasil kini Ams telah menjadi wirausahawan yang bergerak di peternakan burung kenari dan jamur dengan pendapatan yang lebih dari cukup untuk seorang pemuda yang tinggal di desa. Ditambah lagi dirinya sekarang bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai petugas lapangan, sebuah strategi bagus untuk menunjukkan ke orang tuanya bahwa dia bekerja di kantor tetapi sebenarnya dia ingin melebarkan pasar bisnis yang telah dibangun sejak masa taubatnya itu.

Aku sadar, setiap orang yang hari ini belum mati, seburuk apa pun ia jika Allah menghendaki maka dia bisa menjadi orang baik. Maka tidak seharusnya kita menyibukkan diri dengan menyematkan gelar-gelar buruk kepada orang lain. Karena kita hanya berhak untuk menolak dan mengajak yang lain menolak hal-hal buruk dari seseorang agar tidak membahayakan kita. Tetapi tidak seharusnya kita menjustifikasinya sebagai penghuni neraka sebelum dirinya mati. Kita hanya tahu bahwa orang-orang yang hari ini belum mendapat hidayah maka tugas kitalah memberi tahu dan siapa tahu menjadi jalan hidayah baginya. Menahan lisan ini untuk hal-hal semacam itu akan lebih berguna karena kita bisa menggunakannya untuk ajakan-ajakan positif lainnya.

Yang pasti baik adalah mari kita doakan kebaikan untuk saudara kita tanpa sepengetahuannya. Karena malaikat akan mengaminkannya untuknya dan untuk yang mendoakan. Sibuk menggunjing dan menjastifikasi belum tentu ada benarnya, jika salah maka bisa-bisa kita mati justru menjadi seperti yang dituduhkan itu. Terima kasih Ams atas inspirasinya hari ini. Semoga kita bisa bertemu di kesempatan yang lain lagi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.