Ceritanya ini adalah refleksi perkuliahan hari ini bersama Dr. Simone tentang media pembelajaran kimia. Seperti halnya di Indonesia, media dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan ditekankan di sini. Beliau hari ini memberi kuliah kepada para mahasiswa semester 5. Ketika perkuliahan dimulai, beliau segera menyapa kami dan dengan rendah hatinya beliau berkata ini adalah kali pertamanya menyampaikan kuliah yang diikuti oleh mahasiswa asing yang bahasanya Inggris. Sehingga justru beliau mendahulukan untuk memberi penjelasan kepada kami tentang apa yang akan ia sampaikan dikuliah ini. Merasa jadi spesial banget deh.

Ketika perkuliahan dimulai, beliau membuka perkuliahan dengan studi kasus tentang media pembelajaran. Beliau memberi kata kunci bahwa media pembelajaran hanyalah sarana agar transfer informasi dan pengetahuan dari guru ke siswa itu menjadi lebih mudah, selain itu media itu akan menjadikan siswa termotivasi dalam belajar. Jadi apa pun bisa menjadi media selama fungsi itu terpenuhi. Maka jadilah diskusi yang sangat aktif di kelas di antara sesama mahasiswa. Mereka membuat mind map tentang jenis-jenis media pembelajaran.

Hal yang mengagumkan adalah ketika diminta berpendapat, hampir semua mahasiswa mengacungkan tangan. Semua tidak ingin kalah untuk berpartisipasi dalam berpendapat. Sangat berbeda sekali jika dibandingkan di Indonesia. Ketika proses penyampaian pendapat itu terjadi, Dr. Simone lebih banyak menulis pendapat para mahasiswa dan mengakomodasi berbagai pendapat yang muncul ataupun yang menentang satu sama lain. Sampai akhirnya sampai pada titik permasalahan bahwa menurut para mahasiswa “sprache” atau metode ceramah itu termasuk media modern hari ini, tentu dengan argumentasi yang menarik. kami bertanya bukankah itu seharusnya termasuk media klasik. Beliau menjawab, “aku hanyalah dosen, dan hari ini perkuliahan itu milik mereka, biarlah mereka belajar untuk membuat keputusan yang tepat”.

Mungkin aku belum memahami sepenuhnya maksud perkataan beliau, tapi aku melihat bagaimana di sini seorang guru itu benar-benar menjadi fasilitator sehingga orang yang belajar itu benar-benar dimanusiakan untuk mengeksplorasi segala kemampuannya dan bertanggungjawab dengan pendapatnya. Inilah sekolahnya manusia seperti yang pernah diungkap oleh Munif Chatib, sekolah yang membuat orangnya nyaman dan betah untuk belajar karena apresiasi yang besar dari guru untuk para siswanya yang belajar.

Refleksi bodohku adalah berilah kesempatan seluas-luasnya kepada orang-orang yang belajar bersama kita untuk mencoba hal-hal yang baru selama itu bukan hal yang bertentangan secara prinsip karena bisa jadi ada banyak pelajaran berharga di sana. Tidak perlu kita mendoktrin mereka, karena jika mereka memang memiliki kesamaan visi dengan kita pasti kita akan bersama dan memiliki gerak ke depan yang sinergis. Mungkin inilah yang membuat bangsa Jerman tetap kokoh dan setia kepada bangsanya ketika negeri-negeri di Eropa lainnya mulai berjatuhan ekonominya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.