Sebagai Bahan Diskusi di Acara Sarasehan KAMMI UNS, 11 September 2013

Sejak bergulirnya era reformasi, banyak hal yang dulunya dikekang dan diawasi kini menjadi bebas, bahkan sangat leluasa sekali. Demikian pula dalam soal pendidikan. Ada banyak hal baru bermunculan, baik itu masalah-masalah yang dahulu tidak pernah dibicarakan, ataupun pemikiran-pemikiran kreatif yang diusahakan untuk memberikan perbaikan atas realita pendidikan di negeri ini. Di antara sekian hal yang banyak itu adalah munculnya sekolah-sekolah Islam.

Ketika hari ini bermunculan sekolah Islam, maka tentu ada beberapa tanya yang muncul di benak kita. Pertama, mengapa muncul sekolah Islam? Jawaban yang paling masuk akal adalah realita di banyak sekolah negeri yang sangat kurang dalam memberikan pelajaran agama dan pembiasaan akhlak dan ibadah. Di sisi lain, kondisi orang tua dan keluarga tidak mampu mendukung perkembangan sang anak untuk mengembangkan wawasan keagamannya dan membiasakan sikap dan tata kehidupan Islami.

Kedua, bagaimana sekolah Islam dapat tumbuh? Berdasarkan beberapa informasi di lapangan, lahirnya sekolah-sekolah islam dimulai dari adanya komunitas Islam yang menginginkan adanya perbaikan pendidikan (yang berlandaskan nilai-nilai Islam). Ketika mereka mengupayakan lewat pemerintah, ternyata masih terlalu jauh untuk mewujudkannya, maka mereka pun mendirikan sekolah-sekolah itu dengan swadaya dengan tujuan untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut. Selain itu, sekolah-sekolah Islam yang muncul baru-baru ini adalah upaya untuk menyegarkan mimpi dari sekolah-sekolah Islam yang telah lama berdiri namun sudah tidak lagi seperti masa awalnya. Sehingga sekolah-sekolah Islam yang lama pun akhirnya juga bangkit bersama untuk melakukan perbaikan dalam mencerdaskan generasi bangsa. Sekilas terdengar adanya kompetisi, tapi jika dipahami secara lebih luas, ini adalah tanda-tanda kebangkitan pendidikan di negeri ini.

Maka hadirnya sekolah-sekolah Islam hari ini sebetulnya adalah hal yang baik untuk memberikan angin segar perubahan ketika upaya perbaikan moral di negeri ini telah berada di titik jenuh karena sekolah-sekolah negeri tak semua mampu memberikan jawabannya. Selain itu, keberadaan ujian nasional (UN) yang secara tidak langsung mengkuantitaskan ukuran kualitas pendidikan membuat kebanyakan sekolah mengejar prestasi akademik semata-mata tanpa memberikan prioritas yang sama untuk perbaikan kualitas moral. Maka tak jarang bagaimana kasus tawuran seringkali terjadi di kalangan para siswa dari sekolah negeri, atau swasta yang mulai kehilangan idealismenya.

Namun demikian, realitas bahwa sekolah-sekolah Islam saat ini berbiaya tinggi juga perlu dikaji. Hal itu bisa saja menjadi suatu hal yang wajar mengingat mereka tidak mendapatkan subsidi penuh dari pemerintah atau bahkan mungkin tidak mendapat subsidi sama sekali. Maka untuk menjaga kelangsungan hidup sekolah mulai dari pembiayaan operasional hingga kesejahteraan para guru dan tenaga pendidikan, biaya mahal adalah solusi paling riil. Meskipun demikian, ketika Yayasan atau Lembaga yang mendampingi sekolah tersebut mampu mengusahaan dana untuk mendukung kelangsungan pendidikan tersebut tentu akan menjadi lebih baik.

Saat ini kita tengah memasuki era pasar di mana segala hal yang sering digaungkan menjadi populer. Seperti halnya istilah Syariah yang dulu dipopulerkan dalam lembaga jasa keuangan membuat orang banyak beralih melakukan transaksi di bank-bank Syariah dan berbagai lembaga keuangan yang berlabel Syariah. Apakah karena sebenarnya masyarakat paham tentang Syariah? Boleh jadi tidak banyak yang tahu secara benar. Tetapi indikasi ini menandakan bahwa di tengah iklim pasar, ternyata sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam masih menarik di pasaran.

Demikian pula dengan pendidikan Islami, ternyata hal itu mendapat sambutan hangat di tengah masyarakat yang galau melihat banyaknya sekolah negeri, khususnya yang tidak mendapat label favorit ternyata kualitasnya tidak lebih baik dari sekolah-sekolah Islam yang justru menawarkan kegiatan pembinaan keagamaan. Memang hal ini belum sepenuhnya menarik bagi banyak orang tua, tetapi mereka yang telah tersentuh dengan kehidupan Islam atau peka melihat realita masyarakat yang sudah tidak sebaik masa mereka tentu memilihkan putra-putrinya sekolah Islam meskipun harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal.

Maka tantangan sesungguhnya sekolah-sekolah Islam yang kini semakin populer adalah membuktikan dirinya bahwa keberadaannya mampu menjawab permasalahan bangsa berkaitan dengan rusaknya moral generasi muda hari ini. Ketika sekolah Islam mampu melahirkan alumni-alumninya yang berjiwa patriot, berakhlak mulia, dan memiliki pengamalan agama yang bagus, maka eksistensinya akan terus berlanjut. Hal ini akibat dari efek domino yang terjadi setelah para alumninya mengalami keterlanjutan generasi. Tetapi jika di kemudian hari, ternyata tidak memberikan perubahan yang signifikan, maka eksistensinya akan meredup.

Tetapi saya optimis bahwa sekolah Islam akan mampu eksis jika, komunitas atau persyarikatan yang merintis berdirinya sekolah-sekolah tersebut juga masih eksis. Eksistensi komunitas dan persyarikatan itu dilihat dari masih adanya para tokoh-tokohnya yang aktif dalam menjalankan roda kepemimpinannya, kemudian kader-kadernya yang berperan sebagai tenaga pendukung sekaligus subyek pertama untuk berpartisipasi di sekolah tersebut. Maka dengan adanya loyalitas ini, masyarakat awam pun akan tertarik untuk menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah-sekolah Islam berdasarkan bukti-bukti yang mereka saksikan.

Dan yang terakhir, harapan saya ke depan adalah sekolah-sekolah Islam mampu menjadi salah satu kekuatan baru di bidang pendidikan untuk kembali meluruskan tujuan nasional kita yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas tidak semata-mata melihat dari satu perspektif saja, yakni soal pencapaian nilai, tetapi bangsa yang mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi pasar yang semakin keras seperti hari ini. Apakah ujian nasional harus membuat sekolah mengesampingkan pendidikan moral dan karakter yang selama ini digembar-gemborkan demi mencapai nilai UN yang maksimal? Jika sekolah Islam mampu memberikan alternatif jawaban atas realita yang pelik ini insya Allah sebentar lagi generasi seperti Mohammad Natsir, HAMKA, dan lainnya akan segera bangkit kembali untuk membawa kemaslahatan negeri ini dengan teladan dan karya perubahan yang nyata.

Ini opiniku. Bagaimana dengan kalian?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.